Palembang, seriusnews.id – Bencana kabut asap karhutla Palembang menelan korban jiwa setelah seorang pengemudi ojek online meninggal dunia akibat sesak napas parah pada Jumat (2/10/2026). Korban bernama Hardiansyah (41), warga Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, mengembuskan napas terakhir usai menghirup udara beracun di jalanan kota.
Istri almarhum, Rika Yunita (39), menceritakan bahwa suaminya memiliki riwayat penyakit asma menahun. Penurunan kualitas udara ekstrem belakangan ini memicu kambuhnya gangguan pernapasan tersebut secara mendadak.
Sebelum peristiwa nahas itu terjadi, almarhum sempat merasakan sesak napas berat pada Selasa lalu. Kondisi fisiknya lekas membaik setelah menenggak obat resep rutin dari dokter.
Melihat kondisi tubuhnya kembali segar, korban memutuskan melanjutkan pekerjaan rutin mencari nafkah di jalan raya. Namun, paparan partikel asap pekat sepanjang hari membuat paru-parunya kembali meradang hebat.
Keluarga langsung panik saat melihat napas korban semakin tersengal-sengal menjelang malam hari. Upaya pertolongan mandiri menggunakan alat nebulizer di kamar tidur tidak lagi membuahkan hasil.
Rika bersama kerabat akhirnya melarikan korban menuju Instalasi Gawat Darurat RSUD Bari Palembang demi mencari pertolongan medis. Sayangnya, detak jantung dan napas sang kepala keluarga sudah terhenti setibanya di pintu rumah sakit.
Riwayat Asma Kambuh Akibat Kualitas Udara Memburuk
Rika mengenang detik-detik genting saat tim medis berupaya keras memulihkan kesadaran sang suami. Dokter jaga langsung memasang alat rekam jantung EKG serta memberikan tindakan kejut jantung defibrilasi.
Petugas medis juga menyuntikkan obat darurat ke tubuh pasien untuk merangsang denyut nadi. Kendati demikian, rumah sakit akhirnya menerbitkan surat kematian karena pasien sudah tiada sebelum penanganan tuntas.
Rika membeberkan bahwa partikel polusi kebakaran hutan leluasa menerobos masuk ke dalam rumah tinggal mereka. Sebagian besar ruangan rumah tersebut memang belum memiliki penutup langit-langit atau plafon yang memadai.
Keluarga hanya mengandalkan satu bilik kamar berplafon untuk tempat berlindung dari kepungan asap tebal. Situasi serbuan asap pekat itu rutin mengepung permukiman mereka sejak pagi hingga larut malam.
Kepergian sang tulang punggung keluarga menorehkan duka mendalam bagi sanak saudara di rumah duka. Rika mendesak pemerintah segera memadamkan titik api di seluruh penjuru wilayah Sumatera Selatan.
Keluarga berharap penanganan tanggap darurat berjalan cepat agar tidak ada warga lain yang meregang nyawa. Korban jiwa di jalanan membuktikan bahaya nyata dari bencana asap yang terus berulang setiap musim kemarau.
Data BMKG Ungkap Partikulat Berbahaya Kepung Kota
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika merilis data resmi terkait lonjakan polusi udara di Kota Palembang. Alat pemantau stasiun BMKG mencatat konsentrasi partikulat halus PM 2.5 menyentuh angka 338,5 mikrometer sejak tengah malam.
Konsentrasi pekat tersebut langsung menempatkan indeks kualitas udara ibu kota provinsi ke zona berbahaya. Partikel debu renik ini sangat mudah menembus saluran bronkus hingga merusak jaringan paru-paru manusia.
Kondisi udara beracun tersebut bertahan pekat hingga pukul 10.00 WIB dengan catatan angka 260,1 mikrometer. Paparan zat sisa pembakaran lahan itu masih bertengger jauh di atas standar mutu kesehatan lingkungan.
Batas aman konsentrasi PM 2.5 bagi kesehatan pernapasan manusia idealnya berada pada rentang 0 hingga 15,5 mikrometer. Tingginya angka paparan lapangan ini menjadi pemicu fatal bagi penderita penyakit saluran napas seperti almarhum Hardiansyah.(ar)









