Solok, Seriusnews.id – Kementerian Pekerjaan Umum bergerak cepat membendung potensi banjir bandang susulan dengan menyiapkan proyek sabo dam Batang Baliang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Langkah taktis ini langsung berjalan bersamaan dengan pemasangan perangkat peringatan dini di kawasan rawan bencana Arosuka.
Pemasangan sistem deteksi dini tersebut telah rampung di tiga lokasi sejak awal Oktober 2026. Alat pemantau canggih ini mengawal langsung rencana pembangunan infrastruktur penahan sedimen di bagian hulu sungai.
Menteri PU Dody Hanggodo memerintahkan jajaran Ditjen Sumber Daya Air untuk segera merealisasikan konstruksi penahan aliran debris tersebut. Pemerintah memprioritaskan kawasan hulu karena tumpukan material kayu dan derasnya arus sungai pascahujan masih mengancam keselamatan warga.
Menteri Dody menegaskan keberadaan struktur penahan ini akan menyaring material lumpur serta gelondongan kayu agar tidak menyapu permukiman hilir. Arahan percepatan tersebut ia sampaikan secara resmi guna memitigasi dampak cuaca ekstrem di Sumatera Barat.
Teknologi Pracetak Percepat Konstruksi Sabo Dam Bagian Hulu
Kementerian PU menerapkan metode beton pracetak atau sistem precast untuk mencetak seluruh komponen struktur di lokasi yang aman. Pekerja nantinya mengangkut dan merakit panel beton secara bertahap menuju titik nol pembangunan di medan yang berat.
Strategi perakitan modular ini menjadi jalan keluar efektif dalam mengatasi keterbatasan akses jalan menuju area hulu. Balai Teknik Sabo bersama Balai Wilayah Sungai Sumatera V Padang merancang letak dua unit infrastruktur pengendali tersebut berdasarkan kajian topografi mendalam.
Kedua bangunan melintang sungai ini bertugas memecah energi kinetik air sekaligus mengendalikan laju sedimen vulkanik maupun debris. Struktur kokoh ini otomatis menurunkan risiko penumpukan material padat bervolume besar di kawasan hilir Arosuka.
Selain merancang tanggul penahan sedimen, tim teknis memasang perangkat pemantau cuaca dan kontur tanah di tiga titik strategis. Sensor lapangan tersebut mengukur intensitas curah hujan, tingkat kemiringan perbukitan, serta derajat kelembapan tanah secara terus-menerus.
Perangkat pengukur mengirimkan seluruh rekaman data lapangan langsung ke layar monitor pemantauan secara otomatis. Petugas kebencanaan memanfaatkan transmisi data berkala ini untuk membaca potensi bahaya longsor susulan sedini mungkin.
Normalisasi Alur Sungai Batang Baliang Berjalan Siang Malam
Sembari menyiapkan konstruksi jangka panjang di hulu, Kementerian PU terus memacu penanganan tanggap darurat di sepanjang alur sungai utama. Tim lapangan telah membersihkan material sisa galodo sepanjang 740 meter hingga catatan resmi per 12 Oktober 2026.
Capaian pembersihan alur sungai itu terus bertambah mendekati target total penanganan sepanjang 1.900 meter. Pekerja juga memperkuat tebing sungai terdampak dengan memasang hamparan cobblestone seluas 500 meter.
Penguatan tanggul berlanjut dengan pemasangan kawat bronjong penahan gerusan air sepanjang 600 meter di titik rawan longsor. Konstruksi tanggul darurat ini melindungi bibir sungai agar tebing tanah tidak runtuh saat debit air mendadak naik.
BWS Sumatera V Padang mengerahkan sedikitnya 19 unit armada alat berat untuk mempercepat pekerjaan fisik di lokasi bencana. Alat berat tersebut terdiri dari sembilan ekskavator standar, dua unit ekskavator pemecah batu, dan satu ekskavator berlengan panjang.
Petugas turut menyiagakan tiga unit pompa air portabel serta empat unit truk jungkit guna membuang endapan lumpur secara cepat. Sinergi alat berat dan teknologi pemantau hulu menjadi benteng utama perlindungan warga Solok dari ancaman bencana galodo susulan.(ar)









