Jakarta, Seriusnews.id – Pasar tradisional mencatat perubahan signifikan dalam daftar harga pangan 19 Oktober 2026 berdasarkan rilis data resmi Bank Indonesia. Sejumlah komoditas bumbu dapur dan protein hewani menunjukkan tren kenaikan yang cukup tajam pada awal pekan ini.
Pusat Informasi Harga Pangan Strategis mendata lonjakan mencolok pada sektor hortikultura dan daging sapi. Namun, beberapa bahan pangan pokok seperti beras kualitas tertentu dan produk unggas justru memperlihatkan koreksi harga.
Bumbu Dapur Melonjak Tajam Sementara Beras Bergerak Fluktuatif
Kelompok bumbu dapur memimpin lonjakan harga dengan kenaikan tertinggi pada bawang merah ukuran sedang. Komoditas ini melonjak tajam 18,38 persen atau setara Rp6.800 sehingga menyentuh Rp43.800 per kilogram.
Bawang putih ukuran sedang turut mengikuti tren kenaikan sebesar 7,63 persen atau Rp2.950 menjadi Rp41.600 per kilogram. Kenaikan serentak ini memberi tekanan langsung pada belanja harian para pembeli di pasar rakyat.
Sektor hortikultura cabai juga memperlihatkan dinamika pergerakan harga yang sangat kontras di berbagai lapak pedagang. Harga cabai merah keriting meroket tajam hingga 43,07 persen menjadi Rp126.400 per kilogram.
Kenaikan serupa juga melanda cabai rawit merah yang terangkat 13,25 persen menuju angka Rp119.250 per kilogram. Lonjakan ekstrem ini terjadi di tengah penurunan drastis pada varian cabai lainnya.
Sebaliknya, harga cabai merah besar justru anjlok bebas 26,36 persen ke level Rp54.350 per kilogram. Cabai rawit hijau juga merosot sedalam 20,61 persen hingga berada di kisaran Rp62.600 per kilogram.
Sementara itu, kelompok beras memperlihatkan dinamika dua arah yang saling bertolak belakang antarvarietas. Beras kualitas bawah I naik 2,35 persen menjadi Rp15.250 per kilogram dan kualitas bawah II naik 0,68 persen menjadi Rp14.800 per kilogram.
Varian beras kualitas medium I juga merangkak naik tipis 0,6 persen ke posisi Rp16.700 per kilogram. Pergerakan positif ini menandakan permintaan yang masih stabil untuk segmen beras ekonomis.
Di sisi lain, varian beras mutu tinggi kompak mengalami koreksi harga secara serempak. Beras kualitas medium II terkoreksi turun 3,65 persen menjadi Rp15.850 per kilogram.
Penurunan berlanjut pada beras kualitas super I yang melorot 3,62 persen ke angka Rp17.300 per kilogram. Varian beras kualitas super II juga melandai 3,75 persen menjadi Rp16.700 per kilogram.
Daging Sapi Terus Menguat Saat Unggas Mengalami Penurunan
Komoditas daging sapi kompak melanjutkan tren penguatan di seluruh lapak pedagang daging segar. Daging sapi kualitas 1 naik 4,39 persen sehingga menembus harga Rp159.250 per kilogram.
Kenaikan lebih besar terjadi pada daging sapi kualitas 2 yang melesat 8,71 persen menjadi Rp155.950 per kilogram. Penguatan ini menjadikan daging ruminansia sebagai salah satu penyumbang utama tekanan harga pangan hari ini.
Kondisi sebaliknya melanda kelompok komoditas unggas yang justru mengalami tekanan penurunan harga. Daging ayam ras segar merosot 2,67 persen sehingga kini dipasarkan seharga Rp40.150 per kilogram.
Telur ayam ras segar juga menyusut 2,02 persen menjadi Rp29.100 per kilogram. Pelemahan harga produk unggas ini setidaknya sedikit meringankan beban belanja protein hewani masyarakat.
Pada sektor bahan pemanis, gula pasir premium mengalami kenaikan sebesar 4,16 persen menjadi Rp21.300 per kilogram. Sebaliknya, gula pasir lokal justru turun 1,56 persen ke level Rp18.950 per kilogram.
Komoditas minyak goreng juga mencatat tren pergerakan yang terbagi dalam dua arah berbeda. Minyak goreng kemasan bermerek 1 mengalami peningkatan 5,75 persen hingga mencapai Rp25.750 per kilogram.
Minyak goreng kemasan bermerek 2 justru melemah 3,39 persen menjadi Rp22.800 per kilogram. Sedangkan minyak goreng curah melandai tipis 1,47 persen ke harga Rp20.100 per kilogram.
Secara umum, tekanan inflasi kuat bersumber dari bawang merah, bawang putih, cabai keriting, serta daging sapi. Penurunan pada daging ayam, telur, dan beras premium sukses menahan laju gejolak harga pangan secara menyeluruh.(ar)









