Padang, seriusnews.id – Aparat Kecamatan Bungus Teluk Kabung terus memacu pendaftaran perlinsos kota padang bagi seluruh masyarakat pra-sejahtera. Langkah cepat ini menjadi acuan mutlak untuk menentukan kepesertaan Bantuan Sosial (Bansos) pada tahun 2027 mendatang.
Pemerintah setempat mencatat angka pendaftaran baru menyentuh 4.855 Kepala Keluarga (KK) hingga pertengahan Agustus 2026. Capaian tersebut mewakili sekitar 54 persen dari total populasi yang mencapai 8.945 KK di wilayah pesisir selatan ini.
Camat Bungus Teluk Kabung, Afridon, mengonfirmasi data pendaftaran tersebut dalam keterangan resminya pada Kamis (20/8/2026). Ia menyebut sebanyak 46 persen warga tersisa kini menjadi target utama pendataan.
Afridon menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin ada satu pun warga miskin yang tercoret dari daftar penerima jaring pengaman sosial. Karena itu, ia menginstruksikan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Agen Perlinsos untuk langsung turun ke lapangan.
Capaian Pendaftaran Perlinsos Capai Wilayah Pesisir Selatan Padang
Masyarakat setempat sebenarnya menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi untuk mendaftarkan diri dalam program Perlinsos. Mereka menyadari betul pentingnya program ini sebagai syarat utama pencairan bantuan pemerintah tahun depan.
Pemerintah kecamatan bergerak cepat agar proses pendaftaran berjalan merata di seluruh kelurahan. Petugas mencatat setiap perkembangan data harian demi memastikan target populasi dapat tercapai tepat waktu.
Wilayah Bungus Teluk Kabung memiliki karakteristik geografis pesisir yang cukup membentang luas. Kondisi ini menuntut kerja ekstra dari seluruh jajaran aparat kelurahan dalam menjangkau kawasan pemukiman warga.
Pihak kecamatan terus mengawal validasi data agar tidak ada kesalahan input yang merugikan masyarakat. Setiap berkas yang masuk langsung mendapat verifikasi ketat dari petugas lapangan.
Kendala Ponsel Pintar Hambat Pendaftaran Perlinsos Warga Pelosok
Meskipun minat warga sangat tinggi, proses pendaftaran secara daring menghadapi rintangan teknis yang cukup berat. Afridon mengakui sistem digital menjadi tembok penghalang bagi sebagian besar masyarakat di kawasan pelosok.
Banyak warga pra-sejahtera di wilayah ini yang tidak memiliki gawai atau ponsel pintar Android. Selain masalah perangkat, jarak tempat tinggal warga yang jauh dari pusat kelurahan turut memperlambat akses pendaftaran.
Ketimpangan akses teknologi ini berpotensi meminggirkan warga yang paling membutuhkan bantuan sosial. Afridon menilai pendekatan birokrasi yang pasif hanya akan memperlebar jurang pemisah tersebut.
Untuk mengatasi persoalan gawai ini, Camat menginstruksikan para lurah dan Agen Digitalisasi Bansos untuk bertindak proaktif. Petugas memanfaatkan berbagai momen pertemuan warga, baik formal maupun non-formal, untuk mendaftarkan warga secara langsung.
Aparat Bergerilya Mendaftar Warga Dari Rumah Ke Rumah
Taktik jemput bola kini menjadi strategi utama petugas dalam mengejar target pendaftaran warga. Para agen tidak lagi duduk menunggu masyarakat datang ke kantor kelurahan setempat.
Petugas aktif menyisir titik-titik kumpul masyarakat seperti majelis taklim, rapat RT dan RW, serta pelataran tempat ibadah. Bahkan, petugas juga mendatangi warung-warung kopi untuk membuka posko pendaftaran berjalan.
Bagi kelompok masyarakat rentan yang mengalami kesulitan mobilitas, petugas menerapkan sistem dari pintu ke pintu (door to door). Langkah ini berfokus pada warga lanjut usia serta penyandang disabilitas yang terisolasi secara geografis.
Afridon memastikan agen Perlinsos mengetuk langsung pintu rumah lansia dan disabilitas yang minim akses informasi. Di samping aksi lapangan, pemerintah kecamatan juga memperluas jangkauan edukasi publik melalui jejaring media sosial resmi.(ar)









