Jakarta, seriusnews.id – Pasar modal domestik kembali mencatat kenaikan yield SBN Indonesia naik hingga menyentuh level 7,17 persen untuk tenor 10 tahun. Kondisi ini memperlihatkan bahwa para investor sedang memusatkan perhatian penuh pada risiko fiskal pemerintah serta ketidakpastian pasar global.
Lembaga riset Kiwoom Sekuritas Indonesia mengonfirmasi adanya kenaikan imbal hasil instrumen utang negara tersebut sebesar 1 basis poin. Sementara itu, yield instrumen bertenor 5 tahun menunjukkan tren yang cenderung lebih stabil pada posisi 7,07 persen.
Perkembangan pasar sepanjang satu bulan terakhir justru memperlihatkan akumulasi tekanan jual yang sangat kuat pada portofolio obligasi pemerintah. Secara bulanan, yield tenor 10 tahun sudah menanjak sebesar 8 basis poin akibat penyesuaian ekspektasi imbal hasil.
Kenaikan yield bertenor 5 tahun bahkan bergerak jauh lebih agresif dengan mencatatkan lonjakan hingga 15 basis poin. Tren kenaikan ganda ini menegaskan bahwa tekanan likuiditas di pasar surat utang domestik masih berlangsung cukup sengit.
Tekanan Pasar Domestik Memicu Pelemahan Rupiah dan Risiko
Sentimen negatif pasar obligasi juga merembet ke pasar valuta asing dan menekan posisi kurs mata uang garuda. Nilai tukar rupiah langsung merosot hingga menyentuh Rp 17.950 per dollar AS setelah sebelumnya sempat bertahan di posisi Rp 17.850.
Pelemahan nilai tukar ini terjadi bersamaan dengan penguatan indeks dollar AS yang bertengger di titik tertingginya dalam 18 bulan. Di sisi lain, indikator Credit Default Swap bertenor 5 tahun melonjak tajam dari level 92,55 menuju posisi 95,05.
Lonjakan angka instrumen lindung nilai ini menandakan lonjakan persepsi risiko investor internasional terhadap aset keuangan dalam negeri. Kiwoom Sekuritas menjelaskan bahwa para pelaku pasar kini mengambil sikap defensif untuk melindungi portofolio investasi mereka.
Sikap hati-hati para investor juga mengiringi penantian rilis data cadangan devisa serta indikator penjualan ritel nasional. Kedua laporan ekonomi tersebut akan menjadi acuan utama dalam menilai ketahanan sektor eksternal dan konsumsi masyarakat.
Lonjakan Imbal Hasil Obligasi Global Menjaga Tekanan Domestik
Guncangan eksternal datang dari pasar obligasi global yang dipimpin oleh kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tersebut melesat ke posisi 5,33 persen atau mendekati rekor tertingginya sejak Maret 2022.
Meskipun indeks manufaktur sektor jasa AS masih ekspansif di level 54,9, lonjakan harga memicu kekhawatiran baru seputar potensi inflasi. Situasi serupa melanda pasar obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun yang tertahan di level 3,09 persen.
Tingkat imbal hasil obligasi Jepang tersebut kini mendekati level tertinggi dalam kurun waktu tiga puluh tahun terakhir. Kekhawatiran pelaku pasar terhadap beban fiskal Tokyo serta rencana kenaikan suku bunga Bank of Japan menjadi pemicu utamanya.
Pasar obligasi pemerintah Inggris turut memperburuk suasana dengan lonjakan yield instrumen UK Gilt 10 tahun sebesar 2 basis poin. Kenaikan tersebut membawa imbal hasil obligasi Inggris menuju level 5,40 persen dengan lonjakan tahunan mencapai 65 basis poin.
Rangkaian kenaikan yield di negara maju otomatis memaksa investor menuntut imbal hasil yang lebih tinggi di pasar negara berkembang. Oleh sebab itu, pasar obligasi Indonesia berpotensi menghadapi tekanan imbal hasil yang tinggi dalam beberapa waktu mendatang.(ar)









