Yield SBN Indonesia Naik Menembus 7,17 Persen Saat Rupiah Tertekan

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 6 Oktober 2026 - 09:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Suasana sibuk di ruang transaksi saat para analis memantau pergerakan pasar obligasi dan rupiah yang melemah.(poto: AI).

Ilustrasi: Suasana sibuk di ruang transaksi saat para analis memantau pergerakan pasar obligasi dan rupiah yang melemah.(poto: AI).

Jakarta, seriusnews.id – Pasar modal domestik kembali mencatat kenaikan yield SBN Indonesia naik hingga menyentuh level 7,17 persen untuk tenor 10 tahun. Kondisi ini memperlihatkan bahwa para investor sedang memusatkan perhatian penuh pada risiko fiskal pemerintah serta ketidakpastian pasar global.

Lembaga riset Kiwoom Sekuritas Indonesia mengonfirmasi adanya kenaikan imbal hasil instrumen utang negara tersebut sebesar 1 basis poin. Sementara itu, yield instrumen bertenor 5 tahun menunjukkan tren yang cenderung lebih stabil pada posisi 7,07 persen.

Perkembangan pasar sepanjang satu bulan terakhir justru memperlihatkan akumulasi tekanan jual yang sangat kuat pada portofolio obligasi pemerintah. Secara bulanan, yield tenor 10 tahun sudah menanjak sebesar 8 basis poin akibat penyesuaian ekspektasi imbal hasil.

Kenaikan yield bertenor 5 tahun bahkan bergerak jauh lebih agresif dengan mencatatkan lonjakan hingga 15 basis poin. Tren kenaikan ganda ini menegaskan bahwa tekanan likuiditas di pasar surat utang domestik masih berlangsung cukup sengit.

Tekanan Pasar Domestik Memicu Pelemahan Rupiah dan Risiko

Sentimen negatif pasar obligasi juga merembet ke pasar valuta asing dan menekan posisi kurs mata uang garuda. Nilai tukar rupiah langsung merosot hingga menyentuh Rp 17.950 per dollar AS setelah sebelumnya sempat bertahan di posisi Rp 17.850.

Baca Juga :  Harga Kedelai Impor Naik, Perajin Tahu Tempe Parepare Kurangi Produksi dan Rumahkan Pekerja

Pelemahan nilai tukar ini terjadi bersamaan dengan penguatan indeks dollar AS yang bertengger di titik tertingginya dalam 18 bulan. Di sisi lain, indikator Credit Default Swap bertenor 5 tahun melonjak tajam dari level 92,55 menuju posisi 95,05.

Lonjakan angka instrumen lindung nilai ini menandakan lonjakan persepsi risiko investor internasional terhadap aset keuangan dalam negeri. Kiwoom Sekuritas menjelaskan bahwa para pelaku pasar kini mengambil sikap defensif untuk melindungi portofolio investasi mereka.

Sikap hati-hati para investor juga mengiringi penantian rilis data cadangan devisa serta indikator penjualan ritel nasional. Kedua laporan ekonomi tersebut akan menjadi acuan utama dalam menilai ketahanan sektor eksternal dan konsumsi masyarakat.

Lonjakan Imbal Hasil Obligasi Global Menjaga Tekanan Domestik

Guncangan eksternal datang dari pasar obligasi global yang dipimpin oleh kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tersebut melesat ke posisi 5,33 persen atau mendekati rekor tertingginya sejak Maret 2022.

Baca Juga :  Kemenhaj Sumbar Bangun Ekosistem Ekonomi Haji, Wakaf dan UMKM Jadi Penggerak Daerah

Meskipun indeks manufaktur sektor jasa AS masih ekspansif di level 54,9, lonjakan harga memicu kekhawatiran baru seputar potensi inflasi. Situasi serupa melanda pasar obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun yang tertahan di level 3,09 persen.

Tingkat imbal hasil obligasi Jepang tersebut kini mendekati level tertinggi dalam kurun waktu tiga puluh tahun terakhir. Kekhawatiran pelaku pasar terhadap beban fiskal Tokyo serta rencana kenaikan suku bunga Bank of Japan menjadi pemicu utamanya.

Pasar obligasi pemerintah Inggris turut memperburuk suasana dengan lonjakan yield instrumen UK Gilt 10 tahun sebesar 2 basis poin. Kenaikan tersebut membawa imbal hasil obligasi Inggris menuju level 5,40 persen dengan lonjakan tahunan mencapai 65 basis poin.

Rangkaian kenaikan yield di negara maju otomatis memaksa investor menuntut imbal hasil yang lebih tinggi di pasar negara berkembang. Oleh sebab itu, pasar obligasi Indonesia berpotensi menghadapi tekanan imbal hasil yang tinggi dalam beberapa waktu mendatang.(ar)

Berita Terkait

IHSG Berpeluang Menguat Hari Ini, Cermati Lima Saham Potensial
Inflasi Sumatera Barat September 2026 Melandai ke Level 3,50 Persen
Rp115 Miliar Stimulus UMKM Sumbar Bangkitkan Ekonomi Daerah
BSU 2026 Cair Rp 900 Ribu, Cek Syarat Penerima Bantuan di Sini
PLN dan Pemkot Padang Dorong Pertanian Melon Hidroponik Modern
Pameran Seni Kriya SMK Padang Unjuk Gigi di Galeri Taman Budaya Sumbar
Pemko Padang Serahkan Bantuan Sarana Penangkapan Ikan Nelayan
Pemprov Sumbar Siapkan Empat Prioritas Pembangunan Ekonomi Daerah 2029
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 09:10 WIB

Yield SBN Indonesia Naik Menembus 7,17 Persen Saat Rupiah Tertekan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 08:51 WIB

IHSG Berpeluang Menguat Hari Ini, Cermati Lima Saham Potensial

Minggu, 4 Oktober 2026 - 16:25 WIB

Inflasi Sumatera Barat September 2026 Melandai ke Level 3,50 Persen

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 16:57 WIB

Rp115 Miliar Stimulus UMKM Sumbar Bangkitkan Ekonomi Daerah

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:19 WIB

BSU 2026 Cair Rp 900 Ribu, Cek Syarat Penerima Bantuan di Sini

Berita Terbaru