Jakarta, seriusnews.id – Fenomena El Nino Jawa Timur kini resmi mencapai level sangat kuat dan memicu ancaman bencana kekeringan yang meluas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas 1 Juanda memprakirakan anomali iklim ekstrem ini masih terus bertahan sampai akhir Catur Wulan I 2027 atau sekitar April mendatang.
Prakirawan BMKG Kelas 1 Juanda Andre Wijaya mengonfirmasi kondisi atmosfer terkini tersebut saat memberikan keterangan resmi pada Kamis (8/10/2026). Andre menegaskan bahwa hasil pemantauan stasiun cuaca menunjukkan intensitas fenomena pemanasan suhu permukaan laut ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Peningkatan suhu permukaan laut di kawasan Samudra Pasifik Tengah serta Pasifik Timur memicu penguatan anomali cuaca tersebut secara signifikan. Perairan luas itu mencatatkan kondisi temperatur yang jauh lebih hangat jika para pengamat membandingkannya dengan kondisi batas normal.
Penyebab Anomali Cuaca Pasifik dan Prediksi Musim Hujan
Perubahan pola hembusan sirkulasi angin serta dinamika atmosfer yang kian menguat ikut memperparah kondisi kekeringan di daratan. Andre memaparkan bahwa semakin besar angka deviasi atau penyimpangan temperatur dari ukuran normal, maka level kategori El Nino juga menjadi semakin kuat.
Dampak pergeseran iklim global ini memicu lonjakan temperatur udara yang sangat menyengat di berbagai kawasan Jawa Timur. Stasiun Klimatologi Jawa Timur merilis infografis resmi per Kamis (8/10/2026) yang mencatat rekor temperatur tertinggi mencapai 38,3 derajat Celsius di wilayah Kabupaten Lamongan.
Kondisi cuaca terik ini mempercepat hilangnya cadangan air tanah dan memicu kekeringan parah pada sektor lahan pertanian warga. BMKG Juanda menegaskan bahwa krisis kekeringan yang melanda berbagai kawasan ini baru akan berakhir seiring kehadiran musim hujan secara menyeluruh.
Andre memproyeksikan awal periode musim hujan di seluruh wilayah Jawa Timur baru akan mulai mengguyur pada dasarian ketiga November 2026. Datangnya curah hujan pada akhir November tersebut bakal menghentikan dampak kemarau panjang yang merugikan aktivitas harian masyarakat.
Penyaluran Bantuan Air Bersih Bagi Puluhan Daerah Terdampak
Kemarau berkepanjangan ini membuat masyarakat di berbagai pelosok daerah mengalami kesulitan dalam memperoleh pasokan air bersih layak konsumsi. Sektor pertanian juga menerima pukulan telak akibat tanah ladang garapan warga mengering kerontang selama berbulan-bulan.
Catatan kebencanaan menunjukkan krisis air bersih dan kekeringan tersebut telah melanda sedikitnya 24 kabupaten dan kota per Sabtu (3/10/2026). Mengamati kegentingan lapangan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur segera menetapkan status darurat bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Langkah penetapan status darurat pada 24 kabupaten dan kota tersebut memacu percepatan penanganan krisis air bagi ratusan ribu penduduk terdampak. Pihak BPBD Jawa Timur langsung menggencarkan aksi pendistribusian atau dropping air bersih ke puluhan wilayah kantong krisis.
Petugas gabungan telah menyalurkan pasokan armada tangki air bersih menuju 25 kabupaten dan kota di berbagai penjuru Jawa Timur. BPBD mengatur kapasitas pengiriman volume bantuan cairan tersebut dengan menyesuaikan kebutuhan harian riil masing-masing warga penerima manfaat.
Akumulasi penyaluran air bersih hingga Sabtu (3/10/2026) sudah menembus angka fantastis sebanyak 25.350.750 liter ke seluruh titik lokasi krisis. Pasokan air tersebut sukses menjangkau 36.009 kepala keluarga atau setara dengan 395.438 jiwa warga yang terdampak langsung bencana kekeringan.(ar)









