Jakarta, Seriusnews.id – Laju Indeks Harga Saham Gabungan langsung terpuruk tajam pada perdagangan awal pekan, Senin (19/10/2026). Sentimen negatif pasar menyeret IHSG anjlok ke 4.950 sesaat setelah bel perdagangan resmi berbunyi.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, indeks komposit melemah drastis sebesar 4,52 persen atau anjlok 234,52 poin menuju level 4.950,58 pada pukul 09.01 WIB. Rentang gerak indeks pada menit-menit awal menyentuh posisi terendah 4.946,61 dan sempat menembus level tertinggi 6.974,65.
Lantai bursa langsung memperlihatkan gelombang tekanan jual yang sangat masif dari para pelaku pasar. Sebanyak 629 saham kompak melemah secara serentak, sementara hanya 65 saham yang mampu menguat dan 73 saham tetap stagnan.
Kondisi transaksi yang lesu ini turut memangkas valuasi pasar modal Indonesia secara drastis dalam waktu singkat. Nilai total kapitalisasi pasar di BEI kini menyusut hingga menyentuh angka Rp8.800,64 triliun.
Isu MSCI Turunkan Status Indonesia Picu Kepanikan Pasar
Pelaku pasar mencemaskan usulan perubahan peringkat pasar saham domestik oleh lembaga riset indeks global MSCI. Usulan penurunan status dari emerging market menjadi standalone market tersebut langsung memicu kekhawatiran lonjakan arus modal keluar secara signifikan.
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman membenarkan bahwa bayang-bayang wacana MSCI ini masih mendominasi sentimen negatif harian. Pasar saham domestik bahkan telah kehilangan 11,6 persen pada pekan lalu dengan aksi jual bersih investor asing mencapai Rp3,4 triliun.
Fanny menilai tren pelemahan indeks berpotensi terus berlanjut sepanjang hari akibat respons negatif investor terhadap risiko penurunan rating tersebut. Ia menyarankan para pelaku pasar untuk menjauhi instrumen saham yang memiliki rasio kepemilikan modal asing tinggi.
Pelepasan saham oleh pemodal asing pada pekan sebelumnya memang menyasar emiten-emiten raksasa perbankan dan pertambangan nasional. Deretan saham yang paling banyak dilepas asing mencakup PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI).
Investor global juga ramai-ramai melepas kepemilikan pada saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM). BNI Sekuritas menghitung area batas support pergerakan indeks hari ini berada di rentang 4.900 hingga 5.000.
Sementara itu, proyeksi area resistance indeks diperkirakan akan tertahan cukup kuat pada rentang level 5.200 hingga 5.250. Tekanan domestik ini kian memburuk seiring aksi jual serupa yang menghantam bursa saham Wall Street pada akhir pekan lalu.
Tekanan Jual Massal Menumbangkan Saham Paling Likuid
Gelombang penurunan harga saham berkapitalisasi pasar jumbo memimpin kejatuhan indeks komposit pada sesi pembukaan. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) memimpin kerugian terdalam setelah terkoreksi 6,99 persen ke posisi Rp665 per saham.
Koreksi tajam berikutnya menimpa saham emiten tambang PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang merosot 6,95 persen ke harga Rp3.480. Selanjutnya, saham PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) ikut terpangkas 6,91 persen dan terlempar ke level Rp3.640.
Kepanikan pemodal turut merembet cepat ke kelompok saham terlikuid yang tergabung dalam daftar indeks LQ45. Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) ambles hingga 7 persen dan menetap di harga Rp2.260 per lembar saham.
Emiten energi PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) menyusul koreksi tersebut dengan penurunan sebesar 6,98 persen menuju Rp1.200 per lembar. Aksi lepas aset ini mencerminkan sikap hati-hati para investor dalam merespons volatilitas ekonomi global dan regional.
Bursa saham Amerika Serikat sebelumnya menutup perdagangan pekan lalu dengan pelemahan menyeluruh di seluruh indeks utamanya. Indeks S&P 500 tergelincir 1,22 persen, indeks Nasdaq anjlok 2,19 persen, dan indeks Dow Jones kehilangan 0,55 persen.
Kejatuhan pasar saham global tersebut dipicu oleh aksi jual pada saham-saham teknologi kecerdasan buatan serta lonjakan harga minyak mentah yang melesat lebih dari 3 persen. Kombinasi faktor eksternal dan risiko status MSCI ini menempatkan bursa domestik dalam fase koreksi yang cukup menantang.(ar)









