Jawa Barat, seriusnews.id – Penulis mengenang masa muda yang penuh idealisme tinggi dalam memperjuangkan perkembangan industri kulit lokal Jawa Barat. Langkah awal perjuangan tersebut bermula dari kegiatan blusukan ke berbagai desa kerajinan di wilayah Jawa Barat pada era 1970-an.
Para pemuda berambut gondrong dan bercelana cutbray tersebut menaruh perhatian besar pada potensi pasar kerajinan rakyat. Seiring berjalannya waktu, para sahabat muda tersebut tumbuh menjadi pejuang ekonomi yang menggerakkan sentra kerajinan di Garut hingga Bandung.
Sejarah Sentra Industri Kulit Sukaregang Garut
Pemerintah Kabupaten Garut mencatat sebanyak 417 unit usaha formal maupun non-formal aktif beroperasi di Sentra Industri Kulit Sukaregang. Sektor kerajinan yang memproduksi jaket, sepatu, tas, sandal, serta dompet ini sukses menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja lokal.
Aktivitas memproduksi kerajinan kulit di Sukaregang sudah berlangsung sejak zaman kolonial Belanda melalui pemanfaatan limbah kulit hewan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menetapkan Kerajinan Kulit Sukaregang sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2025.
Sinergitas Rantai Pasok Sukaregang dan Cibaduyut
Sentra Sukaregang di Garut dan Sentra Cibaduyut di Bandung menjalin hubungan bisnis hulu-hilir yang sangat kuat. Para perajin Cibaduyut mengandalkan pasokan bahan baku kulit olahan mentah berkualitas tinggi dari para penyamak kulit Sukaregang.
Hubungan erat kedua wilayah ini terbentuk semenjak era kolonial melalui perpindahan tenaga kerja dan transfer keterampilan pengolahan kulit. Kerjasama informal ini memperkuat posisi kedua daerah dalam memenuhi pesanan produk kulit berskala besar hingga saat ini.
Strategi Bertahan Menghadapi Banjar Produk Impor
Perajin Sukaregang mampu mempertahankan pasar jaket kulit asli dari ancaman maraknya jaket imitasi impor bersuhu harga murah. Pengusaha Garut gencar mengadopsi penjualan digital serta membuka layanan kustomisasi desain produk secara cepat bagi para pembeli.
Sementara itu, perajin Cibaduyut tetap memimpin pasar sepatu formal dan pesanan khusus dinas instansi pemerintah maupun militer. Mereka mempertahankan kualitas sepatu buatan tangan yang kuat sembari menjadi produsen untuk merek lokal modern anak muda.
Pemerintah perlu memperketat masuknya barang impor ilegal serta menetapkan kewajiban sertifikasi standar nasional untuk melindungi pengrajin dalam negeri. Platform digital juga harus membatasi praktik jual rugi agar ekosistem Usaha Mikro Kecil dan Menengah tetap terlindungi.
Dukungan fasilitasi kemudahan bahan baku kimia serta alokasi pengadaan produk kedinasan menjadi kunci keberlanjutan industri kreatif daerah. Perajin lokal perlu menggandeng desainer muda guna menciptakan inovasi produk yang modern, ergonomis, dan sesuai dengan tren zaman.(ar)









