Padang Pariaman, seriusnews.id – Kabupaten Padang Pariaman bersiap menggelar perhelatan Mauluik Gadang 2026 Padang Pariaman di kawasan Masjid Raya Ali Mukhni, Ibu Kota Kabupaten (IKK) Parikmalintang. Rangkaian acara bakal berlangsung selama tiga hari berturut-turut mulai Minggu, 23 Agustus 2026 hingga Selasa, 25 Agustus 2026.
Panitia penyelenggara telah mematangkan seluruh persiapan kegiatan melalui rapat koordinasi teknis pada Rabu, 19 Agustus 2026. Acara tahunan ini menghadirkan perpaduan syiar Islam dan kebudayaan Minangkabau yang melibatkan seluruh masyarakat luas.
Lomba Seni Qasidah Membuka Kemeriahan Acara Hari Pertama
Hari pertama pembukaan perhelatan pada Minggu, 23 Agustus 2026, menyajikan kompetisi Lomba Qasidah Rabana yang meriah. Panitia juga menggelar Lomba Bintang Qasidah untuk menyaring bakat-bakat penyanyi musik islami terbaik daerah.
Masyarakat menyambut antusias perpaduan nada syiar dan kebudayaan lokal sejak pagi hingga malam hari. Pembukaan ini sekaligus menandai mulainya rangkaian tradisi keagamaan terbesar di wilayah Kabupaten Padang Pariaman.
Festival Malamang Dan Tabligh Akbar Mewarnai Hari Kedua
Memasuki hari kedua pada Senin, 24 Agustus 2026, masyarakat dapat mengikuti agenda Tabligh Akbar bersama para ulama. Panitia menyelenggarakan Festival Malamang yang mengajak warga memasak hidangan lemang khas Minangkabau secara gotong royong.
Grup musik tradisional menghidupkan suasana hari kedua melalui lantunan merdu pertunjukan Shalawat Dulang. Para peserta juga mengumandangkan Syarafal Anam untuk memperkuat nuansa islami di sekitar area masjid utama.
Pengunjung menikmati kehangatan kebersamaan warga dalam melestarikan warisan leluhur kebudayaan Minang. Acara hari kedua ini menyatukan nilai-nilai religius dan kebudayaan tradisional secara harmonis.
Arak Arakan Bungo Lado Menjadi Puncak Acara Utama
Puncak perayaan berlanjut pada Selasa, 25 Agustus 2026, dengan menyajikan tradisi arak-arakan Bungo Lado. Warga membawa pohon hias yang berisi sedekah uang tunai mengelilingi kawasan pusat pemerintahan kabupaten.
Peserta acara mengumandangkan kembali pembacaan Syarafal Anam secara serentak di dalam area kawasan masjid. Panitia menutup seluruh rangkaian perhelatan dengan melaksanakan tradisi makan bersama secara adat atau Makan Bajamba.
Panitia mengimbau seluruh pengunjung dan warga untuk mematuhi aturan tata busana sesuai instruksi resmi. Kaum pria wajib mengenakan baju putih, celana hitam, serta kain sarung yang tersampir di bahu.
Sementara itu, kaum perempuan memakai baju kurung lengkap dengan penutup kepala tradisional Minang bernama tikuluak. Ketentuan busana ini bertujuan untuk menjaga kesakralan acara serta memperkuat identitas budaya daerah.
Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis (JKA) menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan acara budaya keagamaan ini. Beliau menegaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar memperingati momen Maulid Nabi Muhammad SAW semata.
Beliau menargetkan perhelatan ini menjadi sarana efektif melestarikan tradisi lokal Minangkabau bagi generasi muda. Generasi muda dapat mengenal kembali tradisi malamang, bungo lado, dan kesenian vokal tradisi yang mulai langka.(ar)









