Jambi, Seriusnews.id – Bencana karhutla di Provinsi Jambi menghanguskan lahan seluas 4.335,34 hektare sepanjang 1 Januari hingga 12 Oktober 2026. Kabupaten Batanghari mencatat dampak kebakaran paling parah dengan angka mencapai 1.348,18 hektare atau menyumbang 31,1 persen dari total lahan yang terbakar.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi melaporkan sebaran api melanda sembilan kabupaten dan satu kota. Sebaliknya, Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh sama sekali belum mencatatkan kejadian kebakaran hutan maupun lahan dalam periode tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, menegaskan bahwa seluruh angka ini terhimpun dari data berkala pemerintah daerah setempat. Petugas di lapangan saat ini masih memproses penghitungan lanjutan karena sejumlah wilayah belum merampungkan rekapitulasi data luasan.
“Luasan ini berdasarkan hitungan yang dilaporkan oleh masing-masing kabupaten. Laporan ini masih sementara, karena ada beberapa daerah yang belum bisa dihitung,” kata Bachyuni, Selasa (13/10/2026).
Empat Kabupaten Kuasai Tujuh Puluh Persen Kebakaran Lahan
Kabupaten Tanjung Jabung Barat menempati posisi kedua wilayah terdampak dengan luas kebakaran mencapai 674,55 hektare. Sementara itu, kobaran api melalap 659,18 hektare lahan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur serta membakar 626,87 hektare di Kabupaten Muaro Jambi.
Gabungan empat wilayah utama ini menyumbang sekitar 76,3 persen dari total keseluruhan lahan yang terbakar di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. Dengan demikian, konsentrasi titik kebakaran terparah berpusat di Batanghari, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, dan Muaro Jambi.
Daerah lain seperti Kabupaten Sarolangun mendata kebakaran seluas 508,55 hektare, disusul Kabupaten Tebo dengan luasan 403,76 hektare. Kabupaten Bungo turut mencatat 86,75 hektare lahan terbakar, Kabupaten Merangin seluas 17,30 hektare, serta Kota Jambi yang melaporkan luasan 10 hektare.
Sebaran data tersebut membuktikan bahwa dampak karhutla tidak terbagi merata di seluruh wilayah Jambi. BPBD menegaskan bahwa angka resmi luasan ini masih berpeluang berubah seiring rampungnya inventarisasi lahan di seluruh kabupaten dan kota.
Satuan Tugas Karhutla Provinsi Jambi juga mendeteksi kemunculan 14.652 titik panas atau hotspot sepanjang periode pantau tahun 2026. Angka titik panas tersebut berfungsi sebagai instrumen pemantau potensi kebakaran, meski petugas tetap harus turun memverifikasi kondisi faktual di lapangan.
Lonjakan Karhutla Meluas Hingga Sepuluh Kali Lipat
Catatan BPBD Provinsi Jambi memperlihatkan lonjakan signifikan jika membandingkan data tahun 2026 dengan periode 1 Januari hingga 26 Juli 2025 yang hanya mencapai 421,77 hektare. Luasan kebakaran tahun 2026 ini tercatat melonjak hingga 10,3 kali lipat dengan selisih mencapai 3.913,57 hektare.
Meski demikian, pengamat dan pemangku kebijakan perlu membaca perbandingan angka tersebut secara cermat karena rentang bulan pencatatan belum sepenuhnya setara. Lembaga terkait masih membutuhkan data utuh hingga pertengahan Oktober 2025 agar bisa mengukur perbandingan tahunan secara objektif.
Faktor pemicu sebaran api juga masih membutuhkan analisis komprehensif, mulai dari curah hujan, tutupan vegetasi gambut, hingga aktivitas manusia. Pemerintah daerah terus menggali penyebab mendasar munculnya titik api guna memperkuat strategi pencegahan jangka panjang.
Tim posko terpadu Satgas Karhutla Provinsi Jambi terus menggencarkan patroli rutin, edukasi bahaya api, serta operasi pemadaman langsung di titik panas. Petugas pemadam bergerak cepat mengisolasi bara api agar asap tebal tidak mengganggu kualitas udara permukiman.
BPBD Provinsi Jambi mengimbau seluruh elemen masyarakat dan korporasi agar menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Kecepatan warga dalam melaporkan percikan api liar menjadi kunci utama untuk menekan perluasan kebakaran di seluruh penjuru daerah.(ar)









