Harga Kedelai Impor Naik, Perajin Tahu Tempe Parepare Kurangi Produksi dan Rumahkan Pekerja

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 14 Juni 2026 - 22:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nandang Permadi saat proses merendam kacang kedelai untuk pembuatan tahu tempe di rumah produksinya di Jalan Sumur Jodoh, Watang Soreang, Kecamatan Soreang Parepare, Jumat (12/6/2026). ( poto : Kompas.com )

Nandang Permadi saat proses merendam kacang kedelai untuk pembuatan tahu tempe di rumah produksinya di Jalan Sumur Jodoh, Watang Soreang, Kecamatan Soreang Parepare, Jumat (12/6/2026). ( poto : Kompas.com )

Parepare, seriusnews.id – Harga kedelai impor naik di Kota Parepare dan langsung menekan usaha tahu serta tempe di daerah tersebut. Kenaikan harga bahan baku ini membuat sejumlah perajin mengurangi produksi hingga merumahkan pekerja untuk menekan kerugian.

Lonjakan harga terjadi seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Kondisi ini membuat biaya impor kedelai meningkat dan berdampak langsung pada pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku tersebut.

Di tengah tekanan biaya, permintaan pasar juga ikut melemah. Kombinasi dua faktor ini membuat banyak perajin berada dalam situasi sulit untuk mempertahankan produksi normal.

Produksi Terhenti Sementara

Salah satu pelaku usaha yang terdampak adalah Yayat, perajin tahu-tempe di Jalan Petta Unga, Kelurahan Watang Soreang, Kecamatan Soreang, Parepare. Ia memilih menghentikan sementara produksi karena kondisi usaha tidak lagi stabil.

Yayat menegaskan usahanya tidak tutup permanen, tetapi hanya berhenti sementara. Ia mengambil langkah itu untuk menghindari kerugian yang semakin besar.

“Cuma sementara diistirahat dulu,” kata Yayat, dikutip dari TribunTimur, Jumat (12/6/2026).

Baca Juga :  Gubernur Sumbar Ajak Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi 2026 Demi Data Pembangunan Berkualitas

Ia menyebut penurunan permintaan konsumen menjadi faktor utama turunnya aktivitas produksi. Di saat yang sama, harga kedelai terus naik dan menekan biaya operasional.

Yayat mencatat harga kedelai naik dari Rp10.500 menjadi Rp11.500 per kilogram. Kenaikan ini langsung memengaruhi biaya produksi harian usaha tahu-tempenya.

Kondisi tersebut membuatnya kesulitan menjaga harga jual tetap stabil. Ia juga mempertimbangkan risiko penurunan pembeli jika harga dinaikkan.

“Karena pasarannya agak menurun, kemudian harga kedelai naik sekali. Dari Rp 10.500 per kilo jadi Rp 11.500 per kilo,” ujarnya.

Dalam situasi ini, Yayat mengaku harus memilih strategi bertahan. Ia mempertimbangkan menaikkan harga atau mengurangi isi produk agar usaha tetap berjalan.

Namun, ia khawatir langkah menaikkan harga justru membuat pelanggan berkurang. Kondisi pasar yang lesu mempersempit ruang gerak para pelaku usaha kecil.

“Takutnya enggak laku,” tambahnya.

Perajin Lain Turunkan Produksi dan Rumahkan Pekerja

Dampak serupa juga dialami Nandang Permadi, perajin tahu-tempe di Jalan Sumur Jodoh, Kelurahan Watang Soreang, Parepare. Ia melakukan efisiensi dengan mengurangi jumlah tenaga kerja.

Baca Juga :  Sensus Ekonomi 2026 Jadi Fondasi Kebijakan Ekonomi Kota Padang yang Lebih Tepat Sasaran

Jika sebelumnya mempekerjakan delapan orang, kini ia hanya mempertahankan tiga pekerja. Kondisi ini membuatnya harus turun langsung dalam proses produksi.

“Dulu kan delapan (karyawan), sekarang cuma pakai tiga sekarang,” kata Nandang.

Selain itu, ia juga membatasi jumlah produksi harian. Strategi ini ia terapkan untuk menyesuaikan permintaan pasar yang menurun.

“Iya, selang-seling. Kadang bikin ini hari banyak, dikurangi lagi,” jelasnya.

Kenaikan harga kedelai impor, pelemahan rupiah, dan turunnya daya beli masyarakat menciptakan tekanan berlapis bagi perajin tahu-tempe. Kondisi ini membuat usaha kecil semakin rentan terhadap gejolak harga bahan baku.

Para pelaku usaha kini hanya bisa bertahan dengan strategi pengurangan produksi dan efisiensi tenaga kerja. Tanpa stabilitas harga, mereka menghadapi risiko penurunan usaha yang lebih dalam.

Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya stabilitas harga bahan pokok bagi keberlangsungan industri rumah tangga di daerah.(ar)

Berita Terkait

Atome Finance Bantu Pemulihan Ekonomi Masyarakat Terdampak Bencana di Agam
Kota Padang Raih Juara Anugerah Adinata Syariah Sumbar 2026
Strategi Perkembangan Industri Tercepat: Langkah Nyata Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Modern
Kota Tua Padang Simpan Potensi Besar Dorong Ekonomi
Wali Kota Pariaman Salurkan Bantuan Paket Usaha Batik dan Rajutan
Sumbar Siap Jadi Tuan Rumah Indian Ocean High-Level Forum 2027
Pemprov Sumbar Apresiasi Event BOM Run 2026 Penggerak Ekonomi Daerah
Pemerintah Resmi Menunda Penerapan Pajak Marketplace Indonesia
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 05:38 WIB

Atome Finance Bantu Pemulihan Ekonomi Masyarakat Terdampak Bencana di Agam

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:57 WIB

Kota Padang Raih Juara Anugerah Adinata Syariah Sumbar 2026

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:36 WIB

Strategi Perkembangan Industri Tercepat: Langkah Nyata Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Modern

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Kota Tua Padang Simpan Potensi Besar Dorong Ekonomi

Selasa, 11 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Wali Kota Pariaman Salurkan Bantuan Paket Usaha Batik dan Rajutan

Berita Terbaru

Wali Kota Padang Fadly Amran melepas langsung keberangkatan logistik pangan tersebut dari Bandara Internasional Minangkabau pada Sabtu, 22 Agustus 2026.(poto : radarsumbar.com).

Pemerintahan

Pemko Padang Kirim Bantuan Rendang Gempa NTT

Senin, 24 Agu 2026 - 05:36 WIB