Padang, seriusnews.id – Dampak perubahan iklim pertanian Indonesia kini menjadi ancaman nyata yang menggerus lahan tani dan memicu krisis pangan nasional. Kondisi mendesak ini memaksa para petani di berbagai daerah berjuang mandiri tanpa dukungan kebijakan yang memadai.
Pemerintah sering kali menerapkan solusi seragam yang tidak sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat desa. Padahal, karakteristik wilayah dan ancaman lingkungan di setiap daerah sangat beragam.
Riset UNAND Ungkap Dampak Perubahan Iklim Pertanian
Fakta mendasar ini terungkap secara benderang melalui riset internasional bertajuk Towards Climate-Resilient Farming Systems. Pakar pertanian Universitas Andalas, Prof. Rudi Febriamansyah, memimpin langsung penelitian berskala global tersebut.
Prof. Rudi menggandeng jejaring akademisi lintas negara untuk memotret kondisi riil masyarakat bawah. Program bertajuk EQUITY World Class University ini membandingkan kehidupan petani di Tanah Datar dan Bulukumba.
Tim peneliti yang melibatkan Yuerlita, Dr. Sugeng Nugroho, Raza Ullah, dan Dr. Malik Muhammad Shafi ini menemukan fakta mengkhawatirkan. Cuaca ekstrem yang terjadi secara berulang terus merusak siklus panen warga.
Ancaman Cuaca Ekstrem Mengganggu Siklus Panen Petani
Anomali suhu, kekeringan panjang, hingga banjir bandang kini menghancurkan mata pencaharian utama warga setempat. Oleh sebab itu, Prof. Rudi mengingatkan agar pemerintah tidak lagi menggunakan pendekatan tunggal dalam mengatasi krisis ini.
“Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian tidak dapat disamaratakan. Setiap daerah memiliki karakteristik, tingkat kerentanan, dan kapasitas adaptasi yang berbeda, sehingga intervensi yang dilakukan juga harus berbasis pada kondisi lokal,” ujar Prof. Rudi pada Rabu (19/8/2026).
Melalui metode campuran, tim peneliti membedah penderitaan spesifik yang menimpa para petani lokal. Sebanyak 96,2 persen petani Sumatera Barat mengeluhkan variabilitas curah hujan yang makin kacau.
Suhu udara yang makin panas juga mengganggu kegiatan harian warga secara signifikan. Selain itu, sebanyak 77 persen petani harus menghadapi krisis ketersediaan air irigasi.
Perbedaan Strategi Adaptasi Petani Di Berbagai Daerah
Kondisi berbeda justru melanda wilayah Sulawesi Selatan yang memiliki karakter lebih kering. Sebanyak 58,1 persen petani setempat melaporkan bencana banjir bandang merendam persawahan mereka.
Perbedaan ancaman lingkungan ini memicu strategi bertahan hidup yang sangat bertolak belakang. Petani Sumatera Barat memilih diversifikasi tanaman, rotasi pola tanam, serta penggunaan mulsa tanah.
Sementara itu, petani Sulawesi Selatan lebih memilih teknologi benih varietas unggul tahan iklim ekstrem. Mereka mengombinasikan langkah ini dengan menanam varietas umur pendek dan menerapkan sistem agroforestri.
Prof. Rudi menegaskan bahwa kearifan lokal sangat menentukan daya lenting para petani. Oleh karena itu, pemerintah pusat harus segera merombak total arah kebijakan pertanian nasional.
Pemerintah wajib memperkuat layanan penyuluh lapangan serta memodernisasi jaringan irigasi secepatnya. Langkah ini perlu di barengi adopsi konsep pertanian cerdas iklim demi menyelamatkan lumbung pangan Nusantara.
“Ketahanan pangan ke depan sangat bergantung pada kemampuan kita membantu petani beradaptasi. Karena itu, hasil riset harus di terjemahkan menjadi kebijakan dan langkah nyata yang dapat memperkuat ketahanan petani menghadapi perubahan iklim,” pungkas Prof. Rudi.(ar)









