Krisis Iklim Makin Mengancam Sektor Pertanian Indonesia

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Riset UNAND Ungkap Strategi Petani Sumbar dan Sulsel Hadapi Perubahan Iklim Berbeda(poto: padangkita.com).

Riset UNAND Ungkap Strategi Petani Sumbar dan Sulsel Hadapi Perubahan Iklim Berbeda(poto: padangkita.com).

Padang, seriusnews.id – Dampak perubahan iklim pertanian Indonesia kini menjadi ancaman nyata yang menggerus lahan tani dan memicu krisis pangan nasional. Kondisi mendesak ini memaksa para petani di berbagai daerah berjuang mandiri tanpa dukungan kebijakan yang memadai.

Pemerintah sering kali menerapkan solusi seragam yang tidak sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat desa. Padahal, karakteristik wilayah dan ancaman lingkungan di setiap daerah sangat beragam.

Riset UNAND Ungkap Dampak Perubahan Iklim Pertanian

Fakta mendasar ini terungkap secara benderang melalui riset internasional bertajuk Towards Climate-Resilient Farming Systems. Pakar pertanian Universitas Andalas, Prof. Rudi Febriamansyah, memimpin langsung penelitian berskala global tersebut.

Prof. Rudi menggandeng jejaring akademisi lintas negara untuk memotret kondisi riil masyarakat bawah. Program bertajuk EQUITY World Class University ini membandingkan kehidupan petani di Tanah Datar dan Bulukumba.

Tim peneliti yang melibatkan Yuerlita, Dr. Sugeng Nugroho, Raza Ullah, dan Dr. Malik Muhammad Shafi ini menemukan fakta mengkhawatirkan. Cuaca ekstrem yang terjadi secara berulang terus merusak siklus panen warga.

Baca Juga :  Pemko Payakumbuh Gelar Gerakan Pangan Murah dan Meluncurkan Simphoni Pangan

Ancaman Cuaca Ekstrem Mengganggu Siklus Panen Petani

Anomali suhu, kekeringan panjang, hingga banjir bandang kini menghancurkan mata pencaharian utama warga setempat. Oleh sebab itu, Prof. Rudi mengingatkan agar pemerintah tidak lagi menggunakan pendekatan tunggal dalam mengatasi krisis ini.

“Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian tidak dapat disamaratakan. Setiap daerah memiliki karakteristik, tingkat kerentanan, dan kapasitas adaptasi yang berbeda, sehingga intervensi yang dilakukan juga harus berbasis pada kondisi lokal,” ujar Prof. Rudi pada Rabu (19/8/2026).

Melalui metode campuran, tim peneliti membedah penderitaan spesifik yang menimpa para petani lokal. Sebanyak 96,2 persen petani Sumatera Barat mengeluhkan variabilitas curah hujan yang makin kacau.

Suhu udara yang makin panas juga mengganggu kegiatan harian warga secara signifikan. Selain itu, sebanyak 77 persen petani harus menghadapi krisis ketersediaan air irigasi.

Perbedaan Strategi Adaptasi Petani Di Berbagai Daerah

Kondisi berbeda justru melanda wilayah Sulawesi Selatan yang memiliki karakter lebih kering. Sebanyak 58,1 persen petani setempat melaporkan bencana banjir bandang merendam persawahan mereka.

Baca Juga :  Wisuda Universitas Andalas Padang: Rektor Tekankan Etika AI

Perbedaan ancaman lingkungan ini memicu strategi bertahan hidup yang sangat bertolak belakang. Petani Sumatera Barat memilih diversifikasi tanaman, rotasi pola tanam, serta penggunaan mulsa tanah.

Sementara itu, petani Sulawesi Selatan lebih memilih teknologi benih varietas unggul tahan iklim ekstrem. Mereka mengombinasikan langkah ini dengan menanam varietas umur pendek dan menerapkan sistem agroforestri.

Prof. Rudi menegaskan bahwa kearifan lokal sangat menentukan daya lenting para petani. Oleh karena itu, pemerintah pusat harus segera merombak total arah kebijakan pertanian nasional.

Pemerintah wajib memperkuat layanan penyuluh lapangan serta memodernisasi jaringan irigasi secepatnya. Langkah ini perlu di barengi adopsi konsep pertanian cerdas iklim demi menyelamatkan lumbung pangan Nusantara.

“Ketahanan pangan ke depan sangat bergantung pada kemampuan kita membantu petani beradaptasi. Karena itu, hasil riset harus di terjemahkan menjadi kebijakan dan langkah nyata yang dapat memperkuat ketahanan petani menghadapi perubahan iklim,” pungkas Prof. Rudi.(ar)

Berita Terkait

Pesilat SMAN 1 Sungai Penuh Sabet Tiga Medali Kejurnas SMI
Kabut Asap Masih Pekat, Disdik dan Kemenag Kompak Perpanjang PJJ di Sungai Penuh
Kabut Asap Masih Pekat, Masa PJJ Sekolah Sungai Penuh Diperpanjang
Aturan Baru Kenaikan Kelas Tidak Otomatis Mulai Berlaku Tahun Ajaran 2027
Kabut Asap Pekat Selimuti Kota Padang, Pemko Resmi Berlakukan PJJ Sekolah
Targetkan Nol Kasus 2029, Pemko Padang Gandeng Tokoh Adat Tangani Ribuan Anak Putus Sekolah
Kabut Asap Selimuti Padang, DPRD Desak Pemko Terapkan Sekolah Daring
Kadiskominfo Padang Tegaskan Literasi Digital Survival Skill Mahasiswa
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:19 WIB

Kabut Asap Masih Pekat, Disdik dan Kemenag Kompak Perpanjang PJJ di Sungai Penuh

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:05 WIB

Kabut Asap Masih Pekat, Masa PJJ Sekolah Sungai Penuh Diperpanjang

Minggu, 18 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Aturan Baru Kenaikan Kelas Tidak Otomatis Mulai Berlaku Tahun Ajaran 2027

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:02 WIB

Kabut Asap Pekat Selimuti Kota Padang, Pemko Resmi Berlakukan PJJ Sekolah

Selasa, 13 Oktober 2026 - 07:19 WIB

Targetkan Nol Kasus 2029, Pemko Padang Gandeng Tokoh Adat Tangani Ribuan Anak Putus Sekolah

Berita Terbaru

Pemko Padang memacu proyek trotoar di Pasar Raya dan Jalan Samudera.(poto: padangkita.com).

Regional

Pemko Padang Kebut Jalur Pedestrian Pasar Raya dan Pantai

Jumat, 23 Okt 2026 - 16:58 WIB

Presiden RI Prabowo Subianto memimpin langsung Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Kamis (22/10/2026).(poto: istimewa).

Nasional

Prabowo Buka Rakornas TPAKD, Mahyeldi Pacu Finansial Warga

Jumat, 23 Okt 2026 - 16:53 WIB

Wakil Wali Kota Pariaman, Mulyadi, memimpin langsung jalannya upacara sebagai inspektur pada Kamis pagi, 22 Oktober 2026.(poto: radarsumbar.com).

Islami

Ratusan Santri Meriahkan Hari Santri 2026 di Pariaman

Jumat, 23 Okt 2026 - 16:49 WIB

Ilustrasi Tim SAR gabungan menyisir aliran sungai dengan perahu karet untuk mencari balita hilang di Padang Pariaman.(poto: AI).

Regional

Balita 2 Tahun Diduga Hanyut di Sungai Padang Pariaman

Jumat, 23 Okt 2026 - 16:44 WIB