Agam, seriusnews.id – Kesenian tradisional Minangkabau memukau ratusan penonton yang memadati Taman Budaya Sumatera Barat pada Senin malam. Dua pertunjukan khas asal Kabupaten Agam sukses menghidupkan panggung utama Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Saraso Fest 2026.
Penonton menikmati alur cerita, dentingan musik tradisional, serta pesan budaya mendalam dalam ajang tahunan tersebut. Kehadiran maestro lokal membuktikan semangat pelestarian budaya Minangkabau terus menyala hingga saat ini.
Sanggar Seni Tupai Janjang dari Nagari Tigo Koto Silungkang membuka panggung dengan seni pertunjukan bertajuk Tupai Janjang. Kesenian bertutur ini membawakan kisah perjalanan hidup sepasang suami istri bernama Datuak Bandaro dan Puti Silinduang Bulan.
Pasangan tersebut telah lama menikah namun belum juga mendapatkan berkah keturunan dari Sang Pencipta. Setelah bertahun-tahun berdoa dan berusaha, Puti Silinduang Bulan akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki.
Kebahagiaan keluarga tersebut mendadak berubah menjadi kebingungan ketika melihat wujud sang bayi. Anak yang lahir memiliki wujud serta tingkah laku menyerupai seekor tupai yang sangat lincah.
Bayi tersebut terus melompat ke sana kemari bagaikan sedang menaiki janjang atau tangga rumah adat. Dari fenomena unik inilah kisah seni tradisi Tupai Janjang terus berkembang di tengah masyarakat.
Alur cerita memperlihatkan perjuangan sang anak dalam menghadapi penolakan lingkungan sosial sekitarnya. Karakter anak tersebut berjuang keras mencari jati diri hingga akhirnya menemukan makna penerimaan hidup yang sejati.
Pertunjukan ini menyampaikan pesan moral tentang takdir, keikhlasan penerimaan, serta ketulusan kasih sayang orang tua. Nilai-nilai luhur tersebut menyatu secara harmonis dengan tatanan adat Minangkabau yang berlandaskan syarak.
Kesenian Talempong Uwaik Uwaik Menjaga Tradisi Musik Tradisional
Suasana panggung semakin meriah saat Sanggar Payah Saiyo menampilkan pertunjukan musik tradisional Talempong Uwaik-Uwaik. Seni perkusi melodis ini berasal dari Nagari Paninjauan, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.
Secara sosiologis, kesenian musik ini identik dengan para perempuan lanjut usia atau uwaik-uwaik dalam bahasa daerah setempat. Para seniman senior tersebut memainkan alat musik perkusi dengan ritme perkusi khas yang sangat harmonis.
Ketukan talempong yang energik menjadi kekuatan utama dalam menghidupkan alur pertunjukan di atas panggung. Para penabuh memainkan alat musik secara bersama-sama sembari mempertahankan cara penyajian tradisional dengan posisi duduk.
Sanggar Payah Saiyo terbukti konsisten menjaga warisan leluhur ini selama sepuluh tahun masa berdirinya. Sanggar tersebut kini memiliki tujuh anggota aktif, bahkan salah satu pemainnya telah menginjak usia 77 tahun.
Proses pewarisan seni musik tradisi ini berlangsung secara alamiah melalui latihan bersama antar-generasi secara berkelanjutan. Fionika, salah seorang peserta, menegaskan komitmen sanggar untuk terus melestarikan warisan budaya berharga ini agar tidak punah.
Kesenian Talempong Uwaik-Uwaik bahkan telah resmi mengantongi status sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari pemerintah pusat. Penetapan tersebut memperkuat posisi pertunjukan seni ini sebagai salah satu pilar identitas kebudayaan Minangkabau.
Kedua pertunjukan tersebut memperlihatkan betapa kayanya khazanah seni tradisional yang dimiliki masyarakat Kabupaten Agam. Tupai Janjang mengajarkan falsafah kehidupan, sementara Talempong Uwaik-Uwaik membuktikan ketangguhan para perempuan tua dalam merawat tradisi.
Ajang PKD Saraso Fest 2026 tidak sekadar berfungsi sebagai panggung hiburan malam bagi masyarakat setempat. Festival kebudayaan ini menjadi ruang edukasi publik untuk mengenalkan kembali kekayaan tradisi Minangkabau kepada generasi muda.(ar)









