Sungai Penuh, Seriusnews.id – Dewan Pengurus Cabang PKB Kota Sungai Penuh kini di bawah komando H. M. Arif Malik, mampukah Partai ini masuk ditiga besar di Pileg 2029 mendatang. Tanpa lompatan elektoral signifikan, partai berlambang bola dunia ini sulit menembus barisan pimpinan parlemen daerah.
Alokasi kursi DPRD Kota Sungai Penuh saat ini berjumlah 25 kursi yang terbagi ke dalam tiga daerah pemilihan (dapil). Dapil 1 menyediakan 10 kursi, Dapil 2 memiliki 10 kursi, sedangkan Dapil 3 hanya menyisakan 5 kursi.
Berdasarkan hasil Pileg 2024, partai penghuni posisi tiga besar mengamankan sedikitnya tiga kursi legislatif. Perolehan tersebut ditopang oleh kekuatan akumulasi dukungan rakyat mulai dari 7.000 hingga 8.000 suara sah.
Posisi awal partai hijau ini masih tertinggal karena hanya mengantongi satu kursi dari arena Dapil 1. Capaian modal dasar tersebut bersumber dari raihan 1.339 suara sah pemilih di pemilu lalu.
Guna mengamankan tiket tiga besar pada 2029, pengurus partai wajib merebut minimal empat kursi dewan. Komposisi perolehan tersebut setara dengan memenangkan satu kursi per dapil plus dua kursi di wilayah basis.
Target antara yang paling masuk akal bagi pengurus adalah membentuk satu fraksi utuh tiga kursi. Apabila target 3 hingga 4 kursi sukses menyerap 7.500 suara, tiket tiga besar berada dalam jangkauan nyata.
Kalkulasi Ambang Batas Minimal Kursi Tiga Besar
Pengalaman memimpin parlemen menjadi modal berharga bagi figur Ketua DPC, H. M. Arif Malik. Rekam jejak dua periode di kursi legislatif membantunya memetakan titik kerawanan suara di setiap dusun dan desa.
Mantan legislator kawakan ini memahami ritme perebutan sisa suara melalui mekanisme pembagian sistem Sainte-Laguë. Pemahaman teknis kepemiluan tersebut mempermudah pengurus menyusun taktik pemenangan di lapangan secara presisi.
PKB juga menikmati keuntungan politis berkat kedekatan hubungan koalisi dengan figur Wali Kota Alfin. Relasi strategis ini membuka jalan lebar bagi para kader untuk membaur dalam berbagai agenda kemasyarakatan akar rumput.
Jalur komunikasi politik ke tingkat wilayah maupun Senayan turut memperkuat daya tawar partai daerah. Kehadiran figur H. Elpisina di DPR RI dan DPW Jambi mempermudah penyaluran program aspirasi langsung kepada konstituen.
Program nyata dari pusat dan provinsi tersebut dapat menyentuh kebutuhan masyarakat secara tepat sasaran. Sinergi lintas tingkat kekuasaan ini menjadi motor penggerak untuk mendongkrak popularitas partai di mata publik.
Pengurus daerah kini leluasa mengonversi program kerja nyata menjadi simpul dukungan pemilih yang loyal. Rantai koordinasi ini menopang persiapan mesin partai jauh sebelum tahapan pemilu resmi dimulai.
Strategi Memecah Dominasi Partai Tradisional Menuju Parlemen
Tantangan terberat partai terletak pada kelemahan mendulang suara di Dapil 2 dan Dapil 3. Kegagalan merebut kursi pada pemilu terdahulu terjadi akibat ketiadaan tokoh pendulang suara (vote-getter) yang mumpuni.
Pengurus partai harus segera merekrut tokoh berpengaruh seperti pemuka adat, aktivis pemuda, hingga pensiunan birokrat. Sosok-sosok potensial tersebut wajib membawa modal basis massa riil yang terukur di kedua wilayah kosong.
Langkah taktis ini krusial demi mematahkan dominasi partai-partai lama yang telah mengakar puluhan tahun. Barisan partai tradisional seperti Golkar, PDIP, PKS, PPP, dan PAN memiliki struktur ranting yang sangat solid.
Pengurus tidak boleh sekadar bersandar pada ceruk suara pemilih nahdliyin yang bersifat konvensional. Kader partai harus bergerak lincah merangkul segmen pemilih muda serta kelompok masyarakat perkotaan.
Pendekatan modern pada pemilih pemula akan memperluas pangsa suara partai melampaui batas demografi lama. Komunikasi publik yang luwes memudahkan partai menjalin kontak dengan kalangan milenial dan Gen Z.
Langkah pembenahan caleg dan perluasan basis pemilih menjadi kunci penentu kemenangan pada Pileg 2029. Jika strategi berjalan mulus, mimpi menempati kursi pimpinan dewan Sungai Penuh akan terwujud.(ar)









