BI Rate Naik Jadi 5,50 Persen, Apakah Penjualan Motor Indonesia Akan Melambat?

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 15 Juni 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BI Rate naik menjadi 5,50 persen memicu kekhawatiran cicilan motor meningkat( ilustrasi poto : kompas.com )

BI Rate naik menjadi 5,50 persen memicu kekhawatiran cicilan motor meningkat( ilustrasi poto : kompas.com )

Jakarta, seriusnews.id – Kenaikan BI Rate menjadi perhatian pelaku industri otomotif setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Kebijakan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai potensi perlambatan penjualan sepeda motor, terutama karena sebagian besar konsumen masih mengandalkan fasilitas kredit.

Secara umum, kenaikan suku bunga sering berkaitan dengan peningkatan biaya pinjaman. Ketika bunga kredit ikut naik, cicilan kendaraan berpotensi menjadi lebih mahal dan memengaruhi keputusan pembelian masyarakat.

Namun, pelaku industri menilai dampaknya belum tentu langsung terasa di pasar.

Sentosa Tampomas selaku Chief Area DDS 1 Jakarta PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) mengatakan pihak perusahaan tetap percaya perusahaan pembiayaan memiliki strategi untuk menjaga keseimbangan pasar.

Menurut Sentosa, hubungan antara produsen dan perusahaan pembiayaan selama ini berjalan baik sehingga penyesuaian yang terjadi tetap memperhatikan kemampuan konsumen.

“Karena kerja sama kami juga cukup baik,” ujar Sentosa kepada Kompas.com pada 11 Juni 2026.

Ia menjelaskan bahwa pola pembelian konsumen di wilayah Jakarta saat ini masih relatif seimbang. Transaksi tunai dan kredit masih berjalan dengan komposisi yang hampir sama.

Baca Juga :  Bajaj-Maxride Buka Dealer di Bukittinggi, Hadirkan Peluang Usaha dan Solusi Transportasi Baru

“Masih fifty-fifty, antara tunai dan kredit. Semua tipe hampir sama,” kata dia.

Kenaikan Suku Bunga Bisa Memengaruhi Cicilan Motor

Secara teori, kenaikan BI Rate akan meningkatkan biaya dana yang harus ditanggung perusahaan pembiayaan atau multifinance. Kondisi tersebut berpotensi diteruskan kepada konsumen melalui penyesuaian bunga kredit.

Jika bunga kredit meningkat, cicilan bulanan kendaraan juga dapat ikut naik. Bagi masyarakat yang membeli kendaraan dengan sistem pembiayaan, perubahan ini dapat memengaruhi rencana pembelian.

Sebagian konsumen mungkin memilih menunda transaksi sampai kondisi lebih stabil. Sebagian lainnya bisa memperpanjang tenor kredit atau memilih model kendaraan dengan harga lebih rendah.

Kelompok konsumen yang sensitif terhadap perubahan biaya bulanan biasanya akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian.

Dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, tambahan cicilan bulanan meski tidak terlalu besar tetap menjadi faktor penting bagi banyak keluarga.

Meski ada potensi tekanan dari sisi pembiayaan, industri melihat permintaan sepeda motor masih menunjukkan tren positif.

Sentosa menilai antusiasme konsumen terhadap kendaraan roda dua masih cukup tinggi. Faktor mobilitas harian menjadi alasan utama masyarakat tetap mempertahankan kebutuhan terhadap sepeda motor.

Baca Juga :  BMW Andalkan Energi Surya dan Hidrogen

Menurut dia, pengguna komuter yang menggunakan motor setiap hari masih membutuhkan kendaraan pribadi sebagai sarana transportasi utama.

Sepeda motor juga dinilai tetap menjadi pilihan yang efisien untuk menunjang aktivitas, terutama di kota besar dengan tingkat kemacetan tinggi seperti Jakarta.

Kemudahan mobilitas dan efisiensi waktu membuat kendaraan roda dua masih memiliki daya tarik kuat di tengah perubahan kondisi ekonomi.

Karena itu, Yamaha tetap optimistis terhadap prospek pasar sepeda motor di Indonesia, khususnya wilayah Jakarta.

BI Ambil Langkah Antisipatif Jaga Stabilitas Ekonomi

Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Selain itu, kebijakan tersebut juga bertujuan mengendalikan inflasi agar tetap berada dalam target pemerintah di tengah dinamika geopolitik global.

Ke depan, dampak kebijakan ini terhadap penjualan motor akan bergantung pada respons perusahaan pembiayaan dan kemampuan daya beli masyarakat. Meski ada potensi kenaikan cicilan, pelaku industri masih melihat ruang pertumbuhan pasar kendaraan roda dua tetap terbuka.(ar)

Berita Terkait

Yamaha Cup Race Padang 2026 Sukses Sedot Ratusan Pembalap
Biaya Kepemilikan Hyundai Stargazer Selama Empat Tahun Terbukti Ramah Kantong
PT Semen Padang Resmi Operasikan Puluhan Motor Listrik
Kereta Api Lembah Anai Sempat Berhenti Dekat UNP, KAI Pastikan Hanya Menunggu Antrian Masuk Stasiun
Bajaj-Maxride Buka Dealer di Bukittinggi, Hadirkan Peluang Usaha dan Solusi Transportasi Baru
Changan Lumin dan Deepal S07 Tawarkan Efisiensi Biaya Energi, Ini Perhitungan dan Keunggulannya
KAI Divre II Sumbar Siapkan 124 Ribu Kursi Selama Libur Sekolah, KA Pariaman Ekspres Masih Jadi Favorit
BMW Pangkas Proyeksi Kinerja Keuangan 2026, Tertekan Persaingan Produsen Mobil China
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Yamaha Cup Race Padang 2026 Sukses Sedot Ratusan Pembalap

Jumat, 24 Juli 2026 - 19:00 WIB

Biaya Kepemilikan Hyundai Stargazer Selama Empat Tahun Terbukti Ramah Kantong

Sabtu, 11 Juli 2026 - 05:39 WIB

PT Semen Padang Resmi Operasikan Puluhan Motor Listrik

Kamis, 25 Juni 2026 - 22:30 WIB

Kereta Api Lembah Anai Sempat Berhenti Dekat UNP, KAI Pastikan Hanya Menunggu Antrian Masuk Stasiun

Kamis, 25 Juni 2026 - 11:00 WIB

Bajaj-Maxride Buka Dealer di Bukittinggi, Hadirkan Peluang Usaha dan Solusi Transportasi Baru

Berita Terbaru

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah mengajak Praja IPDN asal Sumbar untuk bersiap menjadi birokrat masa depan yang berintegritas tinggi.(poto: padangkita.com).

Pemerintahan

Gubernur Mahyeldi Dorong Praja IPDN Sumbar Jadi Birokrat Adaptif

Kamis, 6 Agu 2026 - 23:59 WIB