Jakarta, seriusnews.id – Di era digital yang serba cepat, manusia semakin mudah berbicara tanpa batas. Komentar media sosial, percakapan harian, hingga opini spontan sering keluar tanpa dipikirkan dampaknya. Karena itu, menjaga lisan menjadi kebutuhan penting bagi seorang Muslim.
Ibrahim bin Adham, seorang ulama salaf, membagi ucapan manusia ke dalam empat kategori. Pembagian ini bertujuan membantu seseorang menilai apakah sebuah ucapan layak disampaikan atau lebih baik ditinggalkan.
1. Ucapan yang Berpotensi Manfaat tapi Berisiko
Kategori pertama adalah ucapan yang terlihat baik, tetapi berpotensi menimbulkan masalah. Ucapan seperti ini bisa memicu kesalahpahaman, fitnah, atau dampak buruk lain jika keluar pada waktu yang salah.
Ibrahim bin Adham menyarankan untuk meninggalkan ucapan jenis ini demi keselamatan. Dalam Islam, prinsip “mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada meraih manfaat” juga berlaku dalam komunikasi.
Al-Qur’an menegaskan pentingnya berkata benar dan tepat sasaran dalam Surah Al-Ahzab ayat 70–71. Para ulama menafsirkan “qaulan sadidan” sebagai ucapan yang jujur, lurus, dan tepat.
2. Ucapan Sia-sia Tanpa Manfaat
Kategori kedua adalah ucapan yang tidak membawa manfaat maupun mudarat. Ucapan ini sering muncul dalam percakapan ringan yang tidak memberikan nilai tambah.
Contohnya adalah obrolan berlebihan yang tidak berkaitan dengan urusan penting. Meski tidak berdosa, ucapan seperti ini membuang waktu dan energi.
Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa kesempurnaan Islam seseorang terlihat dari kemampuannya meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.
3. Ucapan yang Membahayakan
Kategori ini termasuk yang paling berbahaya. Di dalamnya terdapat ghibah, fitnah, dusta, dan adu domba. Ucapan seperti ini tidak membawa manfaat sama sekali.
Ibrahim bin Adham menegaskan bahwa orang berakal tidak akan membuang waktu untuk hal seperti ini. Dampaknya tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga berdampak pada kehidupan akhirat.
Rasulullah SAW bahkan menyebutkan bahwa mulut menjadi salah satu penyebab utama manusia terjerumus ke dalam dosa besar.
4. Ucapan yang Bermanfaat
Kategori terakhir adalah ucapan yang membawa kebaikan. Ini mencakup nasihat, ilmu, dzikir, dan perkataan yang menenangkan hati orang lain.
Ucapan seperti ini justru dianjurkan untuk disebarkan. Al-Qur’an menggambarkan kalimat baik seperti pohon yang kuat dan memberi manfaat luas.
Nabi Muhammad SAW juga menegaskan bahwa seorang Muslim sebaiknya berkata baik atau memilih diam jika tidak mampu memberi manfaat.
Ibrahim bin Adham menunjukkan bahwa sebagian besar ucapan manusia masuk kategori tidak bermanfaat atau berbahaya. Hanya sedikit yang benar-benar bernilai.
Karena itu, seorang Muslim perlu lebih bijak dalam berbicara. Diam bisa menjadi pilihan terbaik jika ucapan tidak membawa kebaikan, sementara perkataan yang benar dan bermanfaat menjadi ladang pahala yang terus mengalir. (nr*)








