JAKARTA, seriusnews.id – Personal branding menjadi modal penting bagi mahasiswa untuk bersaing di dunia kerja. Selain itu, pakar komunikasi menegaskan bahwa reputasi profesional tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui konsistensi sikap, perilaku, dan kompetensi.
Pakar komunikasi Hana Pratiwi menilai personal branding sebagai kebutuhan strategis agar mahasiswa lebih siap menghadapi dunia profesional.
1. Selaraskan identitas diri
Pertama, Hana menekankan pentingnya keselarasan antara citra diri di ruang publik dan kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan konsep ini sebagai “front stage” dan “back stage”.
Dengan demikian, penampilan, komunikasi, dan pergaulan di depan publik harus selaras dengan kebiasaan serta pola pikir di balik layar. Jika tidak, kepercayaan orang lain dapat hilang.
“Apa yang ditampilkan harus sejalan dengan yang dijalani. Kalau tidak, kepercayaan akan runtuh,” ujarnya.
2. Jujur dalam membangun citra diri
Selanjutnya, Hana mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam pencitraan berlebihan di media sosial. Ia menegaskan pentingnya kejujuran dalam membangun identitas profesional.
Menurutnya, personal branding yang kuat lahir dari kesesuaian antara dunia digital dan tindakan nyata. Sebaliknya, jika kompetensi tidak mendukung citra yang ditampilkan, kredibilitas akan menurun.
3. Jaga etika dan nilai diri
Selain itu, Hana menilai sikap dan tata krama menjadi pembeda utama di dunia kerja. Ia menegaskan bahwa karakter terbentuk dari disiplin dan nilai yang dipegang seseorang.
Oleh karena itu, ia mendorong mahasiswa memperhatikan hal-hal kecil dalam perilaku karena hal tersebut sangat memengaruhi penilaian profesional.
“Yang bertahan di dunia kerja bukan yang paling terlihat, tetapi yang paling jelas nilai dan karakternya,” katanya. (nr*)








