Bukan Cuma Perokok! Ini Fakta Mengejutkan di Balik Mitos Kanker Paru

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 08:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi CT Scan. Banyak mitos tentang kanker paru membuat orang merasa tidak berisiko, padahal penyakit ini bisa terjadi pada siapa saja dan sering terlambat terdeteksi.(SHUTTERSTOCK/create jobs 51)

Ilustrasi CT Scan. Banyak mitos tentang kanker paru membuat orang merasa tidak berisiko, padahal penyakit ini bisa terjadi pada siapa saja dan sering terlambat terdeteksi.(SHUTTERSTOCK/create jobs 51)

Jakarta, jentik.id-Kanker paru masih sering dianggap hanya menyerang perokok berat. Padahal, dokter dan peneliti menegaskan penyakit ini bisa muncul pada siapa saja, termasuk orang yang tidak merokok.

Banyak mitos yang beredar justru membuat masyarakat lengah dan terlambat melakukan pemeriksaan. Akibatnya, banyak kasus kanker paru baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut.

Kanker Paru Tidak Hanya Menyerang Perokok

Dokter menemukan bahwa sekitar seperempat kasus kanker paru terjadi pada orang yang tidak pernah merokok atau hanya merokok dalam jumlah sangat sedikit.

Pada kelompok non-perokok, kasus ini bahkan lebih sering muncul pada perempuan, terutama di wilayah Asia Timur dan Asia Selatan.

Perokok Ringan Tetap Berisiko

Banyak orang menganggap hanya perokok berat yang berisiko. Namun, dokter spesialis bedah toraks Chi-Fu Jeffrey Yang menegaskan risiko tidak hanya bergantung pada jumlah rokok.

Ia menjelaskan bahwa durasi merokok juga berpengaruh besar. Semakin lama seseorang merokok, semakin tinggi risikonya.

Faktor lain seperti polusi udara, gas radon, genetika, dan lingkungan juga ikut meningkatkan risiko kanker paru.

Baca Juga :  Exploring the Nutritional Benefits of Fruits in a Healthy and Balanced Diet

Skrining Masih Terbatas

Pemeriksaan kanker paru biasanya menggunakan CT scan dosis rendah. Namun, skrining ini masih terbatas pada kelompok risiko tertentu.

Dokter Jessica Donington menilai kriteria skrining saat ini terlalu sempit. Ia melihat banyak pasien tidak terdeteksi karena tidak masuk kategori pemeriksaan.

Akibatnya, lebih dari setengah kasus kanker paru justru muncul pada orang yang tidak pernah menjalani skrining.

Skrining Bisa Selamatkan Nyawa

Penelitian National Lung Screening Trial pada 2011 menunjukkan skrining CT dosis rendah dapat menurunkan angka kematian hingga 20 persen.

Jika dokter menemukan nodul mencurigakan, mereka biasanya tidak langsung melakukan operasi. Mereka memantau perkembangan melalui pemindaian lanjutan dalam beberapa bulan.

Kanker paru tidak hanya menyerang lansia. Sekitar 10 persen pasien baru berusia di bawah 55 tahun.

Pada usia muda, kanker sering terlambat terdeteksi karena gejalanya tidak khas dan sering dianggap penyakit biasa.

Gejala Sering Tidak Disadari

Kanker paru tidak selalu diawali batuk. Gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Berat badan turun tanpa sebab
  • Kelelahan terus-menerus
  • Batuk darah
  • Nyeri tulang
  • Pembengkakan kaki
  • Perubahan bentuk kuku
Baca Juga :  7 Manfaat Telur Kampung Rebus untuk Kesehatan Tubuh

Teknologi AI Mulai Bantu Deteksi Dini

Peneliti kini mengembangkan teknologi kecerdasan buatan untuk membantu deteksi dini kanker paru.

Salah satunya sistem AI bernama Sybil yang mampu membaca hasil CT scan dan memperkirakan risiko kanker paru lebih cepat.

Dokter Lecia Sequist menjelaskan bahwa tujuan utama deteksi dini adalah menemukan kanker saat ukurannya masih kecil agar lebih mudah ditangani.

Ia juga menilai sistem skrining perlu berkembang agar tidak hanya bergantung pada riwayat merokok.

Kanker paru tidak hanya menyerang perokok dan tidak selalu menunjukkan gejala awal yang jelas. Mitos yang beredar justru membuat banyak orang terlambat melakukan pemeriksaan.

Dengan memahami fakta medis yang benar, masyarakat bisa lebih waspada dan melakukan deteksi dini lebih cepat, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko atau gejala yang menetap. (nr*)

Berita Terkait

Jangan Anggap Remeh! Hipertensi Kini Juga Mengancam Anak-anak
Jangan Sepelekan! Kebiasaan Konsumsi Makanan Instan Ini Bisa Picu Dampak Jangka Panjang
Mau Tampil Lebih Muda? Terapkan 10 Kebiasaan Sehat Ini dari Sekarang
Sering Disamakan, Ternyata Influenza dan Pilek Beda Jauh! Ini Faktanya
Bukan Kopi! Mahasiswa IPB Ciptakan Minuman Bunga Telang yang Bikin Rileks
Sering Makan Malam Larut? Hati-Hati, Insulin Bisa Terganggu dan Gula Darah Naik
7 Manfaat Telur Kampung Rebus untuk Kesehatan Tubuh
Tak Cuma Obat! Protokol 5R Jadi Solusi Baru Redakan GERD dan Kecemasan
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 18:30 WIB

Jangan Anggap Remeh! Hipertensi Kini Juga Mengancam Anak-anak

Rabu, 6 Mei 2026 - 19:00 WIB

Jangan Sepelekan! Kebiasaan Konsumsi Makanan Instan Ini Bisa Picu Dampak Jangka Panjang

Selasa, 5 Mei 2026 - 21:25 WIB

Mau Tampil Lebih Muda? Terapkan 10 Kebiasaan Sehat Ini dari Sekarang

Selasa, 5 Mei 2026 - 09:03 WIB

Sering Disamakan, Ternyata Influenza dan Pilek Beda Jauh! Ini Faktanya

Senin, 4 Mei 2026 - 13:39 WIB

Bukan Kopi! Mahasiswa IPB Ciptakan Minuman Bunga Telang yang Bikin Rileks

Berita Terbaru

Foto: Singapura (AP/Yong Teck Lim)

Internasional

AI Tak Bisa Gantikan! Ini Profesi Paling Dicari di Singapura 2026

Jumat, 8 Mei 2026 - 19:06 WIB

Ilustrasi Ratusan ribu anak di Indonesia terdeteksi hipertensi. Dokter ungkap pemicunya, dari kelainan jantung hingga gaya hidup buruk.. (iStock/GlobalStock)

Kesehatan

Jangan Anggap Remeh! Hipertensi Kini Juga Mengancam Anak-anak

Jumat, 8 Mei 2026 - 18:30 WIB