Padang, seriusnews.id – Fenomena WNI berobat luar negeri terus menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan nasional. Guru Besar Administrasi Layanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand), Prof Rima Semiarty, menilai pengalaman pasien menjadi alasan utama masyarakat memilih layanan kesehatan di negara lain. Menurutnya, pengalaman pelayanan memberi pengaruh lebih besar daripada teknologi maupun kemampuan tenaga medis.
Prof Rima menyampaikan pandangan tersebut di Padang, Minggu. Ia menjelaskan bahwa kualitas komunikasi, kepastian layanan, kemudahan akses, transparansi informasi, dan kenyamanan selama menjalani pengobatan membentuk kepercayaan pasien terhadap rumah sakit.
“Dari perspektif administrasi layanan kesehatan menunjukkan bahwa keputusan pasien berobat ke luar negeri banyak dipengaruhi oleh pengalaman pelayanan yang mereka rasakan,” kata Prof Rima.
Pengalaman Pasien Mendorong Keputusan Memilih Layanan Kesehatan Terbaik
Prof Rima menilai peningkatan jumlah masyarakat Indonesia yang mencari layanan kesehatan ke Malaysia, Singapura, dan negara lain menjadi tantangan besar bagi pembangunan kesehatan nasional.
Setiap tahun, jutaan warga Indonesia memilih menjalani pemeriksaan maupun pengobatan di luar negeri. Pilihan itu membuat Indonesia kehilangan devisa dalam jumlah besar.
Prof Rima menegaskan bahwa masyarakat tidak hanya mempertimbangkan teknologi atau kompetensi tenaga kesehatan saat menentukan rumah sakit. Mereka juga menilai kualitas pelayanan sejak pertama datang hingga menyelesaikan proses pengobatan.
Ia menjelaskan bahwa pelayanan yang cepat, ramah, jelas, dan memberi kepastian mampu meningkatkan rasa percaya masyarakat. Sebaliknya, pelayanan yang lambat atau kurang komunikatif membuat kepercayaan pasien menurun.
Lima Persoalan Utama Turunkan Kepercayaan Pasien Terhadap Rumah Sakit
Prof Rima menemukan lima persoalan utama melalui penelitiannya.
Persoalan pertama muncul pada komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien yang belum berjalan optimal. Akibatnya, sebagian pasien belum memperoleh informasi yang jelas mengenai layanan maupun tindakan medis.
Persoalan kedua berkaitan dengan akses terhadap dokter spesialis dan subspesialis yang belum merata. Kondisi itu membuat sebagian masyarakat kesulitan memperoleh layanan sesuai kebutuhan.
Persoalan ketiga muncul karena rumah sakit belum menyajikan informasi layanan secara terbuka. Berikutnya berkaitan dengan budaya pelayanan yang belum sepenuhnya menempatkan pasien sebagai fokus utama.
Persoalan kelima muncul karena seluruh unsur pelayanan kesehatan belum membangun ekosistem yang saling terhubung. Kondisi tersebut mengurangi kepuasan sekaligus menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit di Indonesia.
“Berbagai faktor tersebut pada akhirnya memengaruhi tingkat kepuasan dan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit di dalam negeri,” ujar Prof Rima.
Rumah Sakit Perlu Perkuat Pelayanan Demi Kepercayaan Masyarakat Nasional
Prof Rima meminta seluruh pemangku kepentingan segera memperkuat transformasi layanan kesehatan. Menurutnya, transformasi itu harus menempatkan kepercayaan masyarakat sebagai tujuan utama.
Ia menawarkan tiga langkah yang dapat segera dijalankan. Rumah sakit perlu memperkuat pelayanan yang lebih humanis dan berpusat pada pasien.
Selanjutnya, seluruh pihak perlu menghadirkan sistem pelayanan yang cepat, pasti, dan transparan. Langkah tersebut akan membantu masyarakat memperoleh kepastian selama menjalani proses pengobatan.
Selain itu, pemerintah, rumah sakit, perguruan tinggi, organisasi profesi, dunia usaha, dan masyarakat perlu memperkuat kolaborasi. Sinergi itu akan mempercepat peningkatan mutu pelayanan kesehatan nasional.
Prof Rima berharap rumah sakit mampu meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mengembalikan kepercayaan publik. Dengan langkah tersebut, layanan kesehatan nasional dapat berkembang menjadi lebih bermutu, lebih berkeadilan, serta mampu memenuhi harapan masyarakat di dalam negeri.(ar)









