Jakarta, Seriusnews.id– Kista ovarium sering muncul tanpa gejala pada tahap awal. Namun, kondisi ini bisa berkembang dan memicu nyeri hingga gangguan siklus menstruasi jika seseorang tidak segera menanganinya.
Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi, Firman Santoso menjelaskan bahwa perempuan umumnya memiliki dua jenis kista ovarium, yaitu kista fungsional dan disfungsional.
Menurutnya, kista fungsional muncul secara alami selama masa reproduksi. Setiap bulan, tubuh perempuan menghasilkan sel telur matang saat siklus menstruasi berlangsung. Proses tersebut dapat membentuk kista fungsional yang biasanya hilang dengan sendirinya hingga masa menopause tiba.
Sementara itu, kista disfungsional termasuk kondisi yang tidak normal dan dapat mengganggu kesehatan. Salah satu jenis yang paling sering dokter temukan ialah kista endometriosis.
Selain itu, ada juga kista dermoid yang berisi jaringan seperti rambut, gigi, atau tulang. Dokter menegaskan kondisi tersebut merupakan kelainan medis, bukan hal mistis seperti yang sering masyarakat anggap.
Jenis lain seperti mucinous cystadenoma dan serous cystadenoma juga cukup sering muncul. Beberapa kista bahkan bercampur dengan tumor jinak padat, bukan hanya cairan.
dr Firman menyebut perempuan usia 20 hingga 50 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami kista disfungsional. Ia menilai gaya hidup menjadi salah satu faktor utama pemicunya.
Pola makan tinggi gula dan karbohidrat, kurang protein, jarang berolahraga, serta obesitas dapat meningkatkan risiko munculnya kista ovarium tertentu.
Ia juga mengingatkan bahwa kista pada perempuan lanjut usia perlu mendapat perhatian lebih karena dapat berkaitan dengan kanker ovarium.
Untuk penanganannya, dunia medis kini menggunakan metode laparoskopi yang lebih minim sayatan. Dokter dapat mengangkat kista melalui beberapa lubang kecil di area perut sehingga proses pemulihan berlangsung lebih cepat.
(my*)









