Jakarta, jentik.id-Kanker paru masih sering dianggap hanya menyerang perokok berat. Padahal, dokter dan peneliti menegaskan penyakit ini bisa muncul pada siapa saja, termasuk orang yang tidak merokok.
Banyak mitos yang beredar justru membuat masyarakat lengah dan terlambat melakukan pemeriksaan. Akibatnya, banyak kasus kanker paru baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut.
Kanker Paru Tidak Hanya Menyerang Perokok
Dokter menemukan bahwa sekitar seperempat kasus kanker paru terjadi pada orang yang tidak pernah merokok atau hanya merokok dalam jumlah sangat sedikit.
Pada kelompok non-perokok, kasus ini bahkan lebih sering muncul pada perempuan, terutama di wilayah Asia Timur dan Asia Selatan.
Perokok Ringan Tetap Berisiko
Banyak orang menganggap hanya perokok berat yang berisiko. Namun, dokter spesialis bedah toraks Chi-Fu Jeffrey Yang menegaskan risiko tidak hanya bergantung pada jumlah rokok.
Ia menjelaskan bahwa durasi merokok juga berpengaruh besar. Semakin lama seseorang merokok, semakin tinggi risikonya.
Faktor lain seperti polusi udara, gas radon, genetika, dan lingkungan juga ikut meningkatkan risiko kanker paru.
Skrining Masih Terbatas
Pemeriksaan kanker paru biasanya menggunakan CT scan dosis rendah. Namun, skrining ini masih terbatas pada kelompok risiko tertentu.
Dokter Jessica Donington menilai kriteria skrining saat ini terlalu sempit. Ia melihat banyak pasien tidak terdeteksi karena tidak masuk kategori pemeriksaan.
Akibatnya, lebih dari setengah kasus kanker paru justru muncul pada orang yang tidak pernah menjalani skrining.
Skrining Bisa Selamatkan Nyawa
Penelitian National Lung Screening Trial pada 2011 menunjukkan skrining CT dosis rendah dapat menurunkan angka kematian hingga 20 persen.
Jika dokter menemukan nodul mencurigakan, mereka biasanya tidak langsung melakukan operasi. Mereka memantau perkembangan melalui pemindaian lanjutan dalam beberapa bulan.
Kanker paru tidak hanya menyerang lansia. Sekitar 10 persen pasien baru berusia di bawah 55 tahun.
Pada usia muda, kanker sering terlambat terdeteksi karena gejalanya tidak khas dan sering dianggap penyakit biasa.
Gejala Sering Tidak Disadari
Kanker paru tidak selalu diawali batuk. Gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi:
- Sesak napas
- Nyeri dada
- Berat badan turun tanpa sebab
- Kelelahan terus-menerus
- Batuk darah
- Nyeri tulang
- Pembengkakan kaki
- Perubahan bentuk kuku
Teknologi AI Mulai Bantu Deteksi Dini
Peneliti kini mengembangkan teknologi kecerdasan buatan untuk membantu deteksi dini kanker paru.
Salah satunya sistem AI bernama Sybil yang mampu membaca hasil CT scan dan memperkirakan risiko kanker paru lebih cepat.
Dokter Lecia Sequist menjelaskan bahwa tujuan utama deteksi dini adalah menemukan kanker saat ukurannya masih kecil agar lebih mudah ditangani.
Ia juga menilai sistem skrining perlu berkembang agar tidak hanya bergantung pada riwayat merokok.
Kanker paru tidak hanya menyerang perokok dan tidak selalu menunjukkan gejala awal yang jelas. Mitos yang beredar justru membuat banyak orang terlambat melakukan pemeriksaan.
Dengan memahami fakta medis yang benar, masyarakat bisa lebih waspada dan melakukan deteksi dini lebih cepat, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko atau gejala yang menetap. (nr*)









