Jakarta, Seriusnews.id-Sebagian orang menjalani hidup dengan sangat mudah. Usaha mereka terus menghasilkan keuntungan, karier mereka berkembang cepat, dan harta mereka semakin bertambah. Namun di saat yang sama, mereka meninggalkan ibadah, melakukan banyak kemaksiatan, dan menjauh dari ajaran agama. Kondisi ini sering membuat orang lain bertanya-tanya, bahkan merasa iri, seolah mereka lebih beruntung.
Dalam Islam, keadaan seperti ini perlu kita waspadai. Para ulama menyebutnya sebagai istidrāj, yaitu keadaan ketika Allah memberikan nikmat dunia secara bertahap kepada seseorang yang terus bermaksiat, hingga orang itu terlena dan tidak menyadari bahwa Allah menjauhkannya dari rahmat-Nya.
Istidrāj terjadi ketika seseorang tidak menyadari proses penyesatan yang halus. Allah membiarkan nikmat dunia terus mengalir kepada hamba tersebut, sementara ia semakin lalai dan menjauh dari kebenaran. Pada akhirnya, Allah dapat menurunkan azab secara tiba-tiba setelah ia tenggelam dalam kesenangan.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa jika Allah terus memberikan kenikmatan dunia kepada hamba yang bermaksiat, maka hal itu bisa menjadi istidrāj. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa ketika manusia melupakan peringatan, Allah membuka pintu kenikmatan dunia untuk mereka. Ketika mereka semakin tenggelam dalam kesenangan, Allah kemudian mengambil semuanya secara tiba-tiba.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengingatkan bahwa banyak orang tertipu oleh kelapangan rezeki. Mereka mengira hal itu sebagai tanda cinta Allah, padahal bisa jadi Allah sedang menguji dan menjauhkan mereka dari keselamatan akhirat.
Karena itu, umat Islam harus berhati-hati. Kita tidak boleh menilai nikmat dunia sebagai tanda kebaikan semata, karena Allah bisa menjadikannya sebagai ujian yang membuat seseorang lalai jika tidak disertai iman dan ketaatan.(my*)









