Agam, seriusnews.id – Harimau Sumatra di Agam yang muncul di Koto Tabang, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, diduga merupakan induk dan anak.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat menyampaikan dugaan tersebut setelah tim melakukan identifikasi lapangan bersama patroli anak nagari (Pagari) dan pemerintah nagari.
Kemunculan dua individu harimau itu bermula saat seorang warga yang hendak menuju kebun melihat langsung satwa tersebut pada Senin (15/6/2026) pagi. Setelah menerima laporan, petugas segera turun ke lokasi untuk memeriksa kondisi lapangan.
Jejak Kaki Menguatkan Dugaan Induk dan Anak
Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar, Ade Putra, menjelaskan tim menemukan dua ukuran jejak kaki di lahan perkebunan milik warga.
Tim mencatat ukuran jejak sekitar 10 sentimeter dan enam sentimeter. Perbedaan ukuran itu menguatkan dugaan bahwa dua harimau yang muncul merupakan induk dan anak.
Petugas menelusuri area sekitar untuk memastikan keberadaan satwa dan memetakan pergerakannya. Tim juga mengumpulkan informasi dari masyarakat setempat.
Saat menyisir lokasi, petugas menemukan bangkai babi hutan di sekitar area kebun. Kondisi bangkai menunjukkan satwa tersebut kemungkinan sudah mati sekitar dua hari.
BKSDA menduga harimau keluar untuk mencari mangsa berupa babi hutan. Dugaan itu muncul karena lokasi bangkai berada dekat dengan jejak kaki yang ditemukan tim.
Temuan tersebut membantu petugas memahami aktivitas satwa dan kondisi lingkungan sekitar.
BKSDA Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan
BKSDA meminta masyarakat tidak pergi sendirian ke kebun selama pemantauan berlangsung. Petugas juga menyarankan warga beraktivitas pada pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.
Selain itu, BKSDA mengimbau warga mengandangkan ternak untuk mengurangi risiko pertemuan dengan satwa liar. Langkah ini bertujuan menjaga keselamatan masyarakat sekaligus menghindari gangguan terhadap satwa.
Sebelumnya, pemerintah nagari dan Polsek Palupuh melaporkan pertemuan warga bernama Mizwar (52) dengan dua individu Harimau Sumatra kepada BKSDA Sumbar.
Begitu menerima laporan, BKSDA mengerahkan petugas bersama Tim Pagar ke lokasi. Tim mewawancarai saksi mata, mencari jejak kaki, menelusuri bekas cakaran dan kotoran, serta mengidentifikasi faktor yang memicu kemunculan satwa.
Petugas juga melakukan pengamanan di sekitar kawasan yang berdekatan dengan aktivitas warga.
BKSDA terus menjalankan patroli di lokasi kemunculan satwa dan wilayah sekitar permukiman. Petugas menjaga pengawasan pada siang hingga malam hari.
Tim memantau perkembangan kondisi lapangan untuk menentukan langkah berikutnya. Ade Putra menyebut BKSDA tetap membuka opsi evakuasi jika kondisi di lapangan memerlukan tindakan tersebut.(ar)









