Tol Sicincin-Bukittinggi Diprotes Warga, Ratusan Rumah Gadang Terancam Penggusuran

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 21 Juli 2026 - 14:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar membentangkan spanduk bertuliskan menolak jalan tol.(poto: istimewa).

Warga Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar membentangkan spanduk bertuliskan menolak jalan tol.(poto: istimewa).

Bukittinggi, seriusnews.id – Rencana pembangunan trase tol Sicincin Bukittinggi memicu gelombang penolakan keras dari masyarakat adat di Sumatera Barat. Warga Nagari Kubang Putiah khawatir proyek nasional ini mengikis identitas budaya lokal.

Ancaman penggusuran kini menghantui ratusan rumah gadang bersejarah dan lahan pertanian produktif di kawasan tersebut. Masyarakat menilai penetapan jalur awal tol belum memperhitungkan dampak sosial secara mendalam.

Trase Awal Tol Mengancam Permukiman dan Lahan Ulayat

Proyek bagian dari Jalan Tol Trans-Sumatera ini menargetkan tahap konstruksi mulai akhir 2026. Pemerintah menggelontorkan nilai investasi Rp25,23 triliun dengan target penyelesaian pada rentang 2029 hingga 2031.

Keberadaan tol ini bertujuan mengurai kemacetan kronis Padang–Bukittinggi sekaligus mempercepat distribusi logistik kawasan. Namun, perencanaan rute awal justru melintasi kawasan padat permukiman dan situs adat nagari.

Khusus di Nagari Kubang Putiah, jalur tol diperkirakan bakal menerjang tujuh hingga sembilan jorong. Sebanyak 111 rumah warga beserta situs pemakaman kaum terancam terhitung dalam area penggusuran.

Ancaman ini bahkan dapat melenyapkan struktur permukiman tradisional di Jorong Kampung Pili secara total. Gelombang keberatan serupa juga datang dari warga Nagari Ladang Laweh, Batagak, hingga Pandai Sikek.

Bagi masyarakat Minangkabau, tanah ulayat merupakan pusako tinggi yang mengikat identitas serta sejarah kaum. Nilai keberadaan rumah gadang dan tanah adat jauh melampaui ganti rugi finansial semata.

Baca Juga :  Huntap Padang Pariaman Segera Dibangun, Proses Legalitas Lahan Dipercepat

Pengalaman dari pembangunan ruas Padang–Sicincin semakin memperkuat rasa kekhawatiran warga terdampak. Pembangunan sebelumnya memicu masalah drainase, merusak saluran irigasi, dan memicu risiko banjir di kawasan sekitar.

Pemerintah Membuka Ruang Dialog dan Pengalihan Rute

Pemerintah mulai merespons aspirasi masyarakat dengan menggelar rapat koordinasi pada pertengahan Juli 2026. Pertemuan ini melibatkan Pemerintah Kabupaten Agam, Kejaksaan Tinggi, serta berbagai pemangku kepentingan daerah.

Para pihak mengusulkan pengalihan rute ke jalur alternatif demi meminimalkan dampak sosial di lapangan. Opsi rute baru kini diarahkan melalui kawasan Pasar Amor–Sungaipua yang terhubung dengan jalur bypass.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade ikut memfasilitasi komunikasi antara warga dan pemerintah pusat. Ia mendesak penentuan keputusan akhir harus mendengarkan aspirasi masyarakat secara transparan dan adil.

Dukungan pengalihan jalur ini membuktikan bahwa proyek strategis nasional tetap bisa berjalan selaras dengan kearifan lokal. Perencanaan cermat menjadi kunci utama agar pembangunan tidak mengorbankan warisan budaya Minangkabau.

Masyarakat kini menyambut baik usulan pengalihan jalur tersebut dengan rasa optimis namun tetap waspada. Warga berharap janji pengalihan trase ini segera berkekuatan hukum tetap melalui keputusan resmi.

Tim terpadu penyelesaian tanah ulayat perlu segera terbentuk untuk mengedepankan prinsip musyawarah mufakat. Pendekatan adat Minangkabau menjadi landasan penting dalam mencari titik temu antara semua pihak.

Baca Juga :  Kota Pariaman Sahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok, Tujuh Kawasan Resmi Bebas Asap Rokok

Solusi Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal Minangkabau

Kajian ulang trase secara komprehensif wajib melibatkan pemerintah nagari, Kerapatan Adat Nagari, dan akademisi independen. Evaluasi menyeluruh ini bertujuan memastikan ruang hidup masyarakat tetap terlindungi dari kerusakan.

Skema kompensasi mendatang juga harus berorientasi pada pemulihan akses ekonomi jangka panjang warga lokal. Pemerintah perlu menyediakan lahan pengganti serta melindungi keberadaan seluruh situs adat yang tersisa.

Penerapan rekayasa teknis ramah lingkungan menjadi syarat mutlak dalam proses pengerjaan konstruksi tol. Tim proyek harus membangun jembatan khusus, terowongan, serta drainase memadai untuk menjaga sistem irigasi pertanian.

Pemerintah wajib menjamin transparansi publik mulai dari penyusunan dokumen AMDAL hingga pengawasan lapangan. Partisipasi masyarakat sejak awal perencanaan menjadi kunci utama mencegah munculnya konflik sosial baru.

Kemajuan infrastruktur jalan tol memang sangat penting untuk memacu pertumbuhan ekonomi wilayah Sumatera Barat. Namun, keberhasilan pembangunan sejati terletak pada sejauh mana negara menghormati ruang hidup warga.

Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan tokoh adat akan melahirkan pembangunan yang berkeadilan. Prinsip musyawarah mufakat membuktikan bahwa modernisasi mampu berjalan berdampingan dengan kelestarian budaya.(ar)

Berita Terkait

Sidak SPBU Polda Sumbar Ungkap Penyimpangan Solar Subsidi
Pemko Pariaman Tambah Armada Sampah Listrik Tingkatkan Pelayanan Kebersihan Kota
Langkah Strategis Pemko Padang Gaet IFC Wujudkan Kota Gastronomi UNESCO
Pemko Padang Raih Apresiasi Satgas Pusat Usai Percepat Pemulihan Bencana
Polda Sumbar Siap Pecat Anggota Terlibat Narkoba
Wakapolda Resmi Buka Pendidikan Pembentukan Bintara Polri 2026 di SPN Polda Sumbar
BPBD Padang Terbitkan Peringatan Dini Ancaman Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem
Kasus Bunuh Diri Anak Meningkat, Gubernur Sumbar Minta Layanan Jiwa Diperkuat
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 05:52 WIB

Sidak SPBU Polda Sumbar Ungkap Penyimpangan Solar Subsidi

Selasa, 21 Juli 2026 - 19:00 WIB

Pemko Pariaman Tambah Armada Sampah Listrik Tingkatkan Pelayanan Kebersihan Kota

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:00 WIB

Langkah Strategis Pemko Padang Gaet IFC Wujudkan Kota Gastronomi UNESCO

Selasa, 21 Juli 2026 - 14:21 WIB

Tol Sicincin-Bukittinggi Diprotes Warga, Ratusan Rumah Gadang Terancam Penggusuran

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:00 WIB

Pemko Padang Raih Apresiasi Satgas Pusat Usai Percepat Pemulihan Bencana

Berita Terbaru

Tim Ditreskrimsus Polda Sumbar mengamankan truk yang diduga melakukan penyimpangan BBM bersubsidi Bio Solar, saat dilakukan sidak di sejumlah SPBU di Padang dan Padang Pariaman.(poto: padangkita.com).

Regional

Sidak SPBU Polda Sumbar Ungkap Penyimpangan Solar Subsidi

Rabu, 22 Jul 2026 - 05:52 WIB

Wali Kota Pariaman Yota Balad meninjau progres rehab sekolah melalui program bantuan dari Kemendikdasmen. (poto: padangkita.com)

Pendidikan

Pemko Pariaman Pacu Program Revitalisasi Sekolah Tahun 2026

Selasa, 21 Jul 2026 - 17:00 WIB