Mataram, seriusnews.id – NTB Siaga kekeringan meteorologis mulai meluas setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hari tanpa hujan yang semakin panjang di sejumlah daerah. Kondisi ini meningkatkan risiko krisis air bersih dan kebakaran pada musim kemarau.
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, mengatakan sebagian wilayah mengalami hari tanpa hujan dalam kategori menengah hingga sangat panjang.
BMKG meminta pemerintah daerah dan masyarakat memperkuat langkah antisipasi sejak dini.
BMKG menetapkan beberapa kecamatan dalam status siaga kekeringan meteorologis.
Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Sekotong di Kabupaten Lombok Barat dan Kecamatan Jonggat di Kabupaten Lombok Tengah.
Status siaga juga berlaku untuk Kecamatan Pringgabaya dan Suela di Kabupaten Lombok Timur.
Di Pulau Sumbawa, BMKG menetapkan Kecamatan Hu’u dan Manggalewa di Kabupaten Dompu serta Kecamatan Palibelo di Kabupaten Bima.
Data pengamatan menunjukkan kondisi paling kering terjadi di Stasiun Meteorologi Muhammad Salahuddin, Kabupaten Bima.
Wilayah itu mencatat 35 hari tanpa hujan secara berturut-turut. Angka tersebut masuk kategori sangat panjang.
Selain status siaga, BMKG juga menetapkan sejumlah wilayah pada level waspada.
Wilayah itu berada di beberapa kecamatan di Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.
Peluang Hujan Masih Rendah
BMKG memperkirakan peluang hujan di NTB masih terbatas pada akhir Juni 2026.
Pada dasarian III Juni atau periode 21–30 Juni 2026, sebagian wilayah Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa masih berpeluang menerima hujan.
Curah hujan diperkirakan lebih dari 20 milimeter per dasarian.
Peluangnya berada pada kisaran 10 hingga 40 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan musim kering masih berpotensi berlanjut.
BMKG mengimbau masyarakat memakai air secara hemat dan terukur.
Langkah ini penting untuk menjaga ketersediaan air bersih jika musim kering berlangsung lebih lama.
BMKG juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran.
Risiko kebakaran mencakup kebakaran hutan, lahan, dan kawasan permukiman.
Masyarakat diminta tidak membakar lahan dan tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.
BMKG Pantau Faktor Iklim Global
BMKG mencatat fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada kategori negatif.
Indeks IOD tercatat minus 0,49 pada pemantauan dasarian terakhir.
BMKG memperkirakan kondisi tersebut bergerak menuju fase positif mulai Agustus hingga Desember 2026.
Di sisi lain, anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino3.4 menunjukkan ENSO berada pada kategori El Nino moderat.
Indeks ENSO tercatat sebesar +1,40.
BMKG memperkirakan El Nino bertahan pada level moderat hingga akhir tahun.
Peluang kondisi tersebut mencapai 100 persen.
BMKG juga melihat potensi peningkatan menjadi El Nino kuat dengan peluang 86 persen.
Perubahan iklim global tersebut dapat memengaruhi pola hujan di NTB selama beberapa bulan ke depan.(ar)









