Jambi, seriusnews.id – Harimau sumatra terekam kamera jebak di kawasan restorasi ekosistem Hutan Harapan yang membentang di Jambi dan Sumatera Selatan. Temuan ini memperlihatkan bahwa kawasan hutan tersebut masih mampu menopang kehidupan satwa liar.
Tim konservasi kini melanjutkan identifikasi untuk mengetahui karakteristik harimau yang muncul dalam rekaman. Peneliti belum menetapkan usia maupun jenis kelamin satwa karena proses kajian masih berlangsung.
Kepala Departemen Riset dan Konservasi PT REKI Hutan Harapan, Rohmat Eko Santoso, menyampaikan bahwa tim baru menemukan rekaman tersebut dan segera menjalankan proses identifikasi.
“Belum dianalisis lebih lanjut, ini baru ketemu dan proses identifikasi,” ujarnya melalui keterangan di Jambi, Sabtu.
Tim Pasang 90 Kamera Jebak di Kawasan Hutan
Tim riset menjalankan pemantauan di kawasan Hutan Harapan sejak Februari hingga Juni 2026. Mereka memanfaatkan kamera jebak untuk memantau aktivitas satwa dan mengumpulkan data lapangan.
Tim menempatkan 90 unit kamera pada sejumlah titik koordinat yang sudah mereka susun sebelumnya. Mereka menerapkan metode pengamatan sistematis agar seluruh area pemantauan memperoleh cakupan yang merata.
Metode tersebut dikenal sebagai sistem papan catur. Dengan pola itu, tim dapat menjangkau lebih banyak area dan meningkatkan peluang mendokumentasikan pergerakan satwa liar.
Tim terus mengumpulkan hasil rekaman untuk mendukung proses identifikasi dan pemetaan satwa di kawasan.
Kehadiran Harimau Perkuat Kondisi Ekosistem
Kemunculan harimau sumatra menjadi indikator penting bagi kondisi lingkungan Hutan Harapan. Satwa predator puncak seperti harimau membutuhkan habitat yang mampu menyediakan ruang hidup dan ketersediaan pakan.
Selama masa pemantauan, tim juga mencatat keberadaan sekitar 39 spesies satwa lain di dalam kawasan.
Daftar temuan tersebut mencakup rusa, kijang, kancil, napu, babi berjanggut, tapir, dan beruang. Keberadaan berbagai spesies itu memperlihatkan ekosistem hutan masih menjalankan fungsi alaminya.
Tim konservasi belum menghentikan pengamatan di lapangan. Mereka terus memasang kamera dan mengolah data untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap.
Tahap berikutnya akan berfokus pada perhitungan jumlah populasi harimau di kawasan tersebut.
Hutan Harapan merupakan kawasan hutan tropis dataran rendah seluas 98.555 hektare dan menjadi area konsesi restorasi ekosistem pertama di Indonesia.
Tim berharap hasil penelitian ini dapat menghasilkan dokumen yang memuat informasi lebih rinci mengenai keberadaan harimau di kawasan tersebut.
“Ini masih berprogres di lapangan untuk pemasangan dan analisis. Harapannya bisa nanti keluar rilis dokumen terkait jumlah harimau itu,” kata Eko.
Temuan ini memperkuat pentingnya pemantauan berkelanjutan untuk menjaga kualitas habitat dan mendukung keberlangsungan satwa liar di Hutan Harapan.(ar)









