Sumatera Barat, seriusnews.id – Kaum perempuan Minangkabau memegang kendali penuh dalam menjaga tradisi kuliner lokal. Oleh karena itu, peran perempuan, khususnya Bundo Kanduang, menjadi pilar utama dalam mengantarkan Kota Padang menuju pengakuan dunia sebagai Kota Gastronomi dari Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Selain itu, keterlibatan aktif ini secara langsung memperkuat posisi tawar ibu kota Sumatera Barat di kancah internasional.
Selanjutnya, langkah taktis kaum ibu ini berjalan selaras dengan peta jalan pembangunan jangka panjang daerah. Pemerintah daerah menilai bahwa gerakan pelestarian warisan kuliner tersebut sangat sejalan dengan visi Kota Padang 2025-2029. Saat ini, pemerintah berkomitmen mewujudkan Padang sebagai Kota Pintar (Smart City) dan Kota Sehat yang berlandaskan agama dan budaya.
Kemudian, pihak panitia menegaskan sinergi kuat antara pelestarian budaya dan visi pembangunan kota tersebut dalam kegiatan Penguatan Ekraf Gastronomi Padang Kota Padang Tahun 2026. Acara strategis ini berlangsung di Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center Padang pada Kamis (9/7/2026).
Sektor Kuliner Topang Ekonomi Kreatif Dan UMKM
Pada kesempatan itu, Wali Kota Padang, Fadly Amran, memberikan perhatian serius terhadap potensi besar industri makanan di wilayahnya. Melalui Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza, ia menyampaikan bahwa sektor kuliner merupakan subsektor unggulan ekonomi kreatif saat ini. Faktanya, industri ini secara signifikan menyokong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Oleh sebab itu, komoditas kuliner lokal tidak lagi sekadar menjadi pemenuh kebutuhan konsumsi harian masyarakat. Malahan, Pemerintah Kota Padang kini berada pada tahap krusial untuk menaikkan kelas kuliner Minang ke level global. Mereka fokus menyelesaikan pengisian dokumen pendukung (dossier) untuk seleksi tingkat nasional sebelum melangkah ke panggung internasional.
Akhirnya, pemerintah daerah merasa optimis berkas administrasi ini dapat lolos dengan hasil memuaskan. “Kita sedang berjuang menjadi salah satu kota kreatif di bidang kuliner atau gastronomi yang diakui oleh dunia melalui UNESCO. Peran perempuan sangat sentral dalam menjaga keberlanjutan resep tradisional, meningkatkan inovasi kuliner, dan menggerakkan ekonomi lokal,” ujar Yenni Yuliza saat membuka acara tersebut secara resmi.
Makna Kedalaman Filosofi Seni Kuliner Tradisional Minang
Sementara itu, upaya memperluas sudut pandang seluruh elemen masyarakat terus berjalan secara simultan. Prof. James Hellyward yang turut hadir sebagai narasumber memberikan catatan penting mengenai konsep dasar pengembangan industri ini. Ia memberikan pemahaman yang komprehensif kepada para Bundo Kanduang agar mereka tidak melihat konsep gastronomi dari kacamata yang sempit.
Lebih lanjut, ia menyebut pemahaman mendalam mengenai rantai pasok makanan menjadi kunci utama keberhasilan program internasional ini. Menurut James, sebuah hidangan memiliki ikatan kuat dengan sejarah dan peradaban masyarakatnya. Aspek budaya inilah yang membedakan produk kuliner biasa dengan produk gastronomi bernilai tinggi.
Tentunya, komponen penting ini menjadi fondasi kuat dalam penilaian tim ahli dunia. “Gastronomi itu bukan hanya sekadar makanan atau kuliner semata, tetapi dimensinya lebih luas lagi. Di dalamnya mencakup sejarah asal-usul bahan, proses pengolahan, nilai filosofis, hingga bagaimana kearifan lokal dalam sebuah hidangan dapat menopang kesejahteraan masyarakat,” jelas James memberikan pencerahan kepada peserta.
Komitmen Nyata Lestarikan Resep Asli Warisan Leluhur
Mendengar hal tersebut, pemangku adat perempuan di Kota Padang langsung memberikan respons positif. Bundo Kanduang Kota Padang yang juga menjadi narasumber, Fauziah Zainin, menegaskan komitmen kaum ibu dalam menjaga keaslian warisan kuliner leluhur sekaligus mendukung visi kemajuan kota. Menurutnya, pelestarian budaya kuliner merupakan identitas tak terpisahkan dari masyarakat Minangkabau.
Oleh karena itu, kaum perempuan di Padang siap menjadi garda terdepan dalam menjaga cita rasa autentik produk lokal. Mereka menjamin bahwa modernisasi tidak akan merusak akar budaya yang telah tertanam selama ratusan tahun. Dengan demikian, langkah nyata ini menjadi garansi keberlanjutan bagi ekosistem industri kreatif daerah.
Bahkan, transformasi industri kreatif ini tetap mengutamakan pakem tradisi asli yang ada. “Bundo Kanduang memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan resep-resep tradisional tidak lekang oleh waktu dan diwariskan ke generasi selanjutnya tanpa mengubah esensinya. Kami akan terus mendorong para perempuan untuk menjaga keaslian sajian, sembari berinovasi agar kuliner kita semakin diakui dunia dan berkontribusi pada kemajuan kota,” tutur Fauziah Zainin.(ar)









