Mataram, seriusnews.id – Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia menggelar Jamnas APWI IV NTB di Hotel Lombok Garden, Mataram, pada 19–21 September 2026. Selain itu, forum nasional ini membawa misi penting untuk memperkuat peran widyaiswara dalam mentransformasi kapasitas Aparatur Sipil Negara (ASN).
Ketua Umum DPP APWI, Dr. Ir. Sugihardjo, M.Si., membuka acara tersebut pada Sabtu pagi (19/9/2026). Selanjutnya, para penari menyajikan Tari Tembolak Beak untuk menyambut kedatangan peserta dari berbagai daerah.
Sugihardjo menegaskan bahwa perkembangan teknologi dan digitalisasi menuntut perubahan peran widyaiswara secara signifikan. Oleh karena itu, widyaiswara harus mentransformasi diri dari pengajar konvensional menjadi katalisator inovasi yang adaptif.
Sebanyak 114 peserta mengikuti rangkaian acara dengan membawa total 170 karya inovasi. Sementara itu, 63 peserta hadir langsung di lokasi dan 52 peserta lainnya bergabung secara daring.
Panitia juga menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Tahunan Nasional Widyaiswara sebagai bagian dari rangkaian kegiatan. Bahkan, tim seleksi memeloloskan 98 karya dari total 101 artikel ilmiah yang masuk.
Kemudian, rangkaian acara berlanjut pada sesi Gala Dinner Sabtu malam di lokasi yang sama. Wakil Gubernur NTB, Hj. Indah Dhamayanti Putri, S.E., M.I.P., hadir menyambut seluruh jajaran pengurus dan peserta.
Wagub yang akrab disapa Umi Dinda ini menyampaikan rasa bangganya atas kepercayaan memilih NTB sebagai tuan rumah. Di samping itu, pihaknya membuka ruang seluas-luasnya bagi para peserta untuk saling bertukar gagasan dan membangun jaringan kerja sama.
Komitmen Bersama Mewujudkan Pelayanan Publik Yang Adaptif
Selain menyampaikan sambutan, Umi Dinda menekankan pentingnya peran strategis widyaiswara dalam membantu birokrasi merespons arah perubahan zaman. Sebab, percepatan kerja pemerintah wajib berjalan seiring dengan peningkatan ketepatan, integritas, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Pemerintah Daerah NTB terus berupaya membangun sistem tata kelola pemerintahan yang responsif terhadap tuntutan publik. Oleh sebab itu, penguatan kapasitas SDM aparatur menjadi pilar utama dalam mengakselerasi pembangunan di daerah.
Selanjutnya, ia berharap para peserta mampu membawa pulang setiap gagasan dan praktik baik ke instansi masing-masing. Sehingga, hasil dari forum ini dapat menggerakkan perubahan nyata di lingkungan kerja para widyaiswara.
Pada akhirnya, publik mengukur keberhasilan acara ini dari dampak penerapan gagasan dalam meningkatkan kualitas pelayanan. Maka dari itu, forum tiga hari ini resmi menjadi momentum penting bagi penguatan birokrasi menuju Indonesia Emas 2045.(ar)









