Pasaman Barat, seriusnews.id – Lampu lalu lintas rusak terjadi di kawasan Bundaran Simpang Empat, Kabupaten Kabupaten Pasaman Barat, setelah perangkat pengatur arus kendaraan itu tersambar petir pada Minggu (14/6). Hingga Selasa (16/6), sistem lampu lalu lintas belum kembali berfungsi dan menimbulkan gangguan serius terhadap arus kendaraan di persimpangan utama tersebut.
Kondisi ini langsung berdampak pada mobilitas harian masyarakat. Arus kendaraan dari empat arah harus bergerak tanpa pengaturan otomatis, sehingga pengendara mengandalkan kesadaran masing-masing untuk melintas.
Arus Kendaraan Tanpa Pengaturan
Sejak kerusakan terjadi, tidak ada lagi sistem lampu yang mengatur giliran kendaraan di bundaran. Pengendara dari berbagai arah harus saling bergantian masuk ke persimpangan tanpa panduan jelas.
Situasi ini membuat lalu lintas menjadi tidak teratur, terutama pada jam sibuk pagi dan sore. Kepadatan kendaraan sering terjadi karena setiap arah berusaha masuk secara bersamaan.
Pengendara juga harus memperlambat laju kendaraan secara tiba-tiba untuk menghindari potensi benturan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kecelakaan di titik persimpangan yang dikenal padat tersebut.
Masyarakat yang melintasi kawasan itu setiap hari menyampaikan kekhawatiran terhadap keselamatan pengguna jalan. Mereka menilai kondisi tanpa lampu lalu lintas sangat berbahaya, terutama bagi pelajar dan pengendara sepeda motor.
Riko, seorang pengemudi ojek yang rutin beroperasi di sekitar lokasi, menyebut pengendara kerap kebingungan saat memasuki bundaran.
Ia mengatakan, semua arah kendaraan sering bergerak bersamaan sehingga menimbulkan potensi konflik arus. Menurutnya, situasi itu menuntut kewaspadaan tinggi dari setiap pengendara agar tidak terjadi kecelakaan.
Warga Minta Pengaturan Sementara
Warga menilai keberadaan lampu lalu lintas di titik tersebut sangat penting karena bundaran menjadi simpul pertemuan kendaraan dari berbagai wilayah di Pasaman Barat.
Selain menunggu perbaikan teknis, masyarakat meminta pemerintah atau pihak terkait menurunkan petugas untuk mengatur arus kendaraan secara manual. Mereka menilai langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Neti, warga setempat, menegaskan perlunya kehadiran petugas terutama pada jam padat. Ia menyebut pagi dan sore hari menjadi waktu paling rawan karena volume kendaraan meningkat signifikan.
Menurutnya, pengaturan manual dapat menjadi solusi sementara sambil menunggu perbaikan sistem lampu selesai dilakukan.
Kondisi tanpa pengaturan lalu lintas berpotensi memperbesar risiko kecelakaan jika berlangsung lebih lama. Arus kendaraan yang terus padat tanpa kontrol membuat titik persimpangan semakin sulit dikendalikan.
Warga khawatir situasi ini bisa memburuk pada malam hari ketika visibilitas menurun, sementara kendaraan tetap melintas dalam jumlah tinggi.
Masyarakat berharap perbaikan segera dilakukan agar fungsi lampu lalu lintas kembali normal. Mereka juga mendesak adanya langkah cepat untuk menjaga keselamatan pengguna jalan di kawasan tersebut.(ar)









