Tangerang, seriusnews.id – Fadly Amran GSDC 2026 menjadi sorotan dalam ajang Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (24/6/2026).
Wali Kota Padang itu tampil sebagai satu-satunya kepala daerah dari Indonesia yang mengisi posisi pembicara kunci atau keynote speaker dalam forum internasional tersebut.
Forum itu mempertemukan akademisi, peneliti, dan delegasi dari berbagai negara. Mereka membahas berbagai isu pembangunan berkelanjutan, termasuk pengelolaan risiko bencana dan dampak perubahan iklim.
Dekan City University of Hong Kong, Benjamin Horton, memandu sesi yang menghadirkan Fadly Amran. Dalam diskusi tersebut, Horton meminta Fadly menjelaskan pengalaman Kota Padang saat menghadapi rentetan bencana hidrometeorologi sepanjang 2025.
Fadly memaparkan sejumlah langkah yang dijalankan Pemerintah Kota Padang untuk mengurangi dampak bencana. Ia menekankan bahwa ketangguhan daerah tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik.
Menurutnya, kolaborasi antarlembaga dan partisipasi masyarakat menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan penanganan bencana. Karena itu, Pemko Padang terus memperkuat sinergi di berbagai tingkatan.
“Kolaborasi semua pihak, mulai dari Kelompok Siaga Bencana, jajaran TNI dan Polri, pihak swasta, serta kesiapsiagaan masyarakat adalah kunci keberhasilan Kota Padang untuk tangguh menghadapi bencana,” ujar Fadly Amran.
Terapkan Empat Tahapan Penanganan Bencana
Fadly menjelaskan bahwa Pemko Padang menjalankan penanganan bencana melalui empat tahapan yang saling terhubung.
Tahapan tersebut meliputi tanggap darurat, rehabilitasi, rekonstruksi, dan peningkatan kesiapsiagaan secara berkelanjutan.
Melalui pola itu, pemerintah kota berupaya mempercepat pemulihan sekaligus memperkuat kemampuan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana berikutnya.
Pendekatan tersebut juga membantu pemerintah menyusun langkah yang lebih terukur.
Selain itu, Pemko Padang melibatkan kalangan akademisi dalam proses penyusunan kebijakan. Langkah tersebut bertujuan agar setiap kebijakan memiliki landasan ilmiah yang kuat.
“Kolaborasi bersama para akademisi menjadi bagian penting bagi kami untuk menyiapkan kebijakan berbasis sains (scientific based policy),” katanya.
Alokasikan Anggaran Rp371,85 Miliar
Fadly juga menyoroti dukungan anggaran yang menjadi bagian penting dari strategi mitigasi bencana. Menurutnya, pemerintah daerah harus menempatkan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama.
Karena itu, Pemko Padang mengarahkan anggaran khusus untuk mendukung berbagai program penanganan bencana hidrometeorologi. Anggaran tersebut mencakup upaya mitigasi, respons darurat, hingga pemulihan pascabencana.
“Pemko Padang menunjukkan keberpihakan penganggaran terhadap kebutuhan masyarakat. Sebanyak Rp371,85 miliar telah dikucurkan khusus untuk penanganan bencana hidrometeorologi di Kota Padang,” ungkapnya.
Akademisi Internasional Beri Apresiasi
Paparan Fadly mendapat tanggapan positif dari para panelis yang hadir. Mereka menilai pengalaman Kota Padang memberikan contoh nyata tentang pentingnya kolaborasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana.
Asisten profesor City University of Hong Kong, Jung Eun Chu, menyoroti cuaca ekstrem yang melanda Asia Tenggara dalam beberapa waktu terakhir.
Ia menyebut dampak yang muncul saat Siklon Tropis Senyar melanda kawasan tersebut berada di luar pola yang biasa terjadi.
“Apa yang terjadi di Kota Padang dan kawasan Asia Tenggara secara umum ketika Siklon Tropis Senyar melanda benar-benar di luar kewajaran. Para peneliti saat ini sedang meneliti anomali iklim tersebut secara mendalam,” kata Jung Eun Chu.
Sementara itu, peneliti Peipei Chen menilai sistem manajemen informasi yang diterapkan Pemko Padang mampu mendukung proses mitigasi secara efektif. Ia menekankan pentingnya pengelolaan data dalam setiap tahapan penanganan bencana.
Menurut Peipei, pemerintah perlu memantau tren data sebelum bencana terjadi agar dapat mengambil keputusan lebih cepat. Pendekatan tersebut juga membantu aparat menjalankan respons darurat secara lebih terukur.
“Cara mengelola data dalam penanganan bencana sangat penting. Utamanya adalah memperhatikan tren data sebelum bencana terjadi, sehingga penanganan ketika terjadi keadaan darurat bisa lebih cepat dan terukur, seperti yang telah sukses diterapkan di Kota Padang,” ujarnya.
Kehadiran Fadly Amran sebagai keynote speaker GSDC 2026 menunjukkan perhatian dunia internasional terhadap pengalaman Kota Padang dalam mengelola risiko bencana.
Melalui kolaborasi, kebijakan berbasis sains, dan dukungan anggaran yang kuat, Kota Padang terus memperkuat ketahanan daerah menghadapi tantangan bencana hidrometeorologi.(ar)









