Basalisiah Tabuik Pariaman 2026 di Simpang Tugu Tabuik, Ribuan Warga Saksikan Atraksi Budaya Kolosal

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 23 Juni 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana simpang tabuik Pariaman di penuhi lautan manusia yang menyaksikan ( poto : infosumbar.net )

Suasana simpang tabuik Pariaman di penuhi lautan manusia yang menyaksikan ( poto : infosumbar.net )

Kota Pariaman, seriusnews.id – Basalisiah Tabuik Pariaman berlangsung meriah di kawasan Simpang Tugu Tabuik, Kampung Cina Pariaman, Kota Pariaman, Sumatera Barat, pada Senin malam (22/6/2026). Ribuan warga dan wisatawan memadati lokasi untuk menyaksikan salah satu rangkaian utama dalam Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman 2026.

Sejak sore, arus pengunjung terus meningkat dan memenuhi setiap sudut kawasan. Panitia dan aparat setempat mengatur kerumunan agar prosesi tetap berjalan tertib di tengah antusiasme masyarakat yang sangat tinggi.

Di tengah keramaian tersebut, dua kelompok besar yakni Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang menampilkan atraksi saling dorong hingga benturan fisik. Aksi ini berlangsung di tengah tabuhan gandang tasa yang saling bersahutan dan menciptakan suasana dramatis di lokasi.

Meski terlihat seperti bentrokan nyata, atraksi tersebut tidak menunjukkan konflik atau tindak kekerasan. Panitia menjelaskan bahwa seluruh rangkaian merupakan bagian dari tradisi Basalisiah yang sudah menjadi elemen penting dalam festival budaya tahunan tersebut.

Baca Juga :  Perempuan Petani Minangkabau Hadapi Perubahan Peran, Peneliti Susun Model Pendidikan Kewirausahaan Pangan

Simbol Sejarah dalam Tradisi Basalisiah

Ritual Basalisiah menampilkan simulasi ketegangan antara dua kubu dalam tradisi Tabuik. Masyarakat menyaksikannya sebagai pertunjukan budaya kolosal yang mengandung nilai sejarah dan filosofi yang kuat.

Tradisi ini merujuk pada peristiwa Perang Karbala yang menjadi bagian penting dalam sejarah Islam. Peristiwa tersebut menewaskan Husain bin Ali dan kemudian diangkat menjadi simbol duka serta refleksi dalam budaya masyarakat Pariaman.

Dalam pertunjukan ini, kedua kelompok tidak benar-benar bermusuhan. Mereka justru mengikuti aturan adat yang dikenal dengan “taratik adaik” sebagai pedoman utama dalam setiap gerakan selama prosesi berlangsung.

Nilai kebersamaan atau “basudaro” tetap menjadi prinsip yang dijaga. Setelah prosesi selesai, kedua kelompok kembali berbaur tanpa meninggalkan konflik apa pun.

Atraksi Berakhir di Pantai Gandoriah

Ketegangan dalam Basalisiah hanya berlangsung selama prosesi di jalanan. Setelah itu, seluruh rangkaian akan berakhir pada tahap pelarungan Tabuik ke laut.

Puncak acara akan di gelar di Pantai Gandoriah, tempat dua Tabuik dari masing-masing kelompok akan di larungkan. Momen ini menjadi simbol pelepasan duka sekaligus penutup seluruh rangkaian tradisi budaya tersebut.

Baca Juga :  Taksi Online dan Mobil Pikap Bertabrakan di Kelok Cubadak Bungkuak, Satu Korban Dirawat di RS

Warga dan wisatawan biasanya memadati kawasan pantai untuk menyaksikan prosesi puncak ini. Antusiasme masyarakat terus meningkat setiap tahun karena tradisi ini telah menjadi ikon budaya Kota Pariaman.

Pemerintah Kota Pariaman mencatat bahwa pergelaran ini kembali masuk dalam kalender wisata nasional Kharisma Event Nusantara (KEN). Status tersebut membuat Tabuik semakin di kenal luas oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Selain menjadi atraksi budaya, acara ini juga mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Pedagang, pelaku UMKM, hingga sektor jasa turut merasakan dampak positif dari meningkatnya kunjungan wisatawan.

Rangkaian Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman 2026 masih akan berlangsung hingga puncak acara pada 28 Juni 2026. Masyarakat masih memiliki kesempatan untuk menyaksikan langsung salah satu tradisi budaya paling ikonik di Kota Pariaman tersebut.(ar)

Berita Terkait

Surau Adat Minangkabau di Nagari Salayo Solok, Jejak Sejarah dan Fungsi Sosial yang Masih Terjaga
Cuaca Ekstrem di Kota Padang Sebabkan Longsor dan Pohon Tumbang, Akses Padang–Pesisir Selatan Terputus
Satgas Pasaman Barat Perketat Pengawasan BBM Subsidi untuk Tekan Antrean Kendaraan
100 Tahun Jam Gadang: Penelitian Ungkap Fakta Konstruksi, Bukan Dibangun dengan Putih Telur
Perempuan Petani Minangkabau Hadapi Perubahan Peran, Peneliti Susun Model Pendidikan Kewirausahaan Pangan
Festival Kuliner Tradisional Gratis Tutup Peringatan 100 Tahun Jam Gadang
Pemulangan Jemaah Haji Padang Tuntas, 7 Masih Dirawat di Mekkah
Longsor Lubuk Paraku Padang Tutup Jalur Padang–Solok, Satu Truk Terdampak Material
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:00 WIB

Surau Adat Minangkabau di Nagari Salayo Solok, Jejak Sejarah dan Fungsi Sosial yang Masih Terjaga

Selasa, 23 Juni 2026 - 21:00 WIB

Basalisiah Tabuik Pariaman 2026 di Simpang Tugu Tabuik, Ribuan Warga Saksikan Atraksi Budaya Kolosal

Selasa, 23 Juni 2026 - 19:00 WIB

Cuaca Ekstrem di Kota Padang Sebabkan Longsor dan Pohon Tumbang, Akses Padang–Pesisir Selatan Terputus

Selasa, 23 Juni 2026 - 09:00 WIB

Satgas Pasaman Barat Perketat Pengawasan BBM Subsidi untuk Tekan Antrean Kendaraan

Selasa, 23 Juni 2026 - 08:00 WIB

100 Tahun Jam Gadang: Penelitian Ungkap Fakta Konstruksi, Bukan Dibangun dengan Putih Telur

Berita Terbaru