Nusa Tenggara Barat, seriusnews.id – Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa kepercayaan publik media siber menjadi penentu utama masa depan industri pers di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan. Masyarakat saat ini semakin membutuhkan sajian informasi yang akurat, kredibel, berintegritas, serta tetap menjunjung tinggi etika jurnalistik.
Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik NTB Ahsanul Khalik menyampaikan pesan strategis tersebut saat membuka Konferensi Wilayah III Asosiasi Media Siber Indonesia NTB di Mataram. Forum diskusi yang berlangsung di Aula Lantai VI Bank NTB Syariah ini menghadirkan jajaran pemangku kepentingan media siber se-Nusa Tenggara Barat.
Sejumlah tokoh penting dan pimpinan organisasi pers turut menghadiri pembukaan acara tahunan tersebut. Para undangan yang hadir antara lain Koordinator Wilayah AMSI Bali Nusra I Nengah Muliartha, Bupati Lombok Utara Najmul Ahyar, perwakilan Kapolda NTB, perwakilan Danrem 162 Wira Bhakti, serta jajaran ketua organisasi pers daerah.
Tantangan Era Kecerdasan Buatan Bagi Ekosistem Media Digital
Lalu Muhamad Iqbal menilai tema Konferwil III AMSI NTB yaitu Media Butuh Gizi di Era AI dan Disrupsi Digital sangat tepat menggambarkan realitas industri media. Namun beliau menyarankan agar tema tersebut diperkaya dengan semangat Kolaborasi Digital, Keterbukaan, Media Pemersatu.
Semangat kolaborasi dan keterbukaan informasi akan membantu media menjaga daya tahan bisnis di tengah perubahan teknologi yang serba cepat. Langkah ini sekaligus memperteguh peran penting media siber sebagai pilar pemersatu bangsa dan pengawal demokrasi.
Pemerintah Provinsi NTB memandang kemajuan teknologi digital sebagai peluang emas untuk meningkatkan kualitas serta standar ekosistem media lokal. Perkembangan teknologi tidak boleh memicu persaingan tidak sehat yang justru saling melemahkan antarperusahaan pers.
Teknologi canggih boleh terus berkembang pesat, namun misi utama insan pers tidak boleh bergeser dari nilai-nilai kebenaran. Kepercayaan masyarakat dipastikan akan tumbuh pesat saat media konsisten menyajikan jurnalisme yang berkualitas dan jujur.
Komitmen Menjaga Etika Dan Integritas Jurnalistik Pers Nasional
Gubernur NTB mengapresiasi kejelian AMSI yang menempatkan isu penguatan bisnis pers sebagai salah satu fokus pembahasan utama Konferwil. Keberadaan perusahaan media yang sehat finansial merupakan syarat mutlak bagi lahirnya jurnalisme independen dan profesional.
Kemandirian bisnis media memungkinkan insan pers menjalankan fungsi edukasi publik serta kontrol sosial secara maksimal. Pers yang sehat juga mampu menjadi rujukan informasi tepercaya masyarakat di tengah derasnya arus disrupsi informasi.
Rangkaian Focus Group Discussion dalam Konferwil III dipandang sebagai ruang strategis untuk merumuskan formulasi ekosistem media masa depan. Forum ini mempertemukan ide-ide konstruktif dari pelaku media, pemerintah, akademisi, serta publik.
Sinergi erat antarpemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam membangun industri pers yang adaptif dan berdaya saing tinggi. Kerja sama ini di harapkan mampu menjawab berbagai tantangan teknologi tanpa mengorbankan independensi pers.
Kemitraan Strategis Antara Pemerintah Dan Insan Media Siber
Lalu Muhamad Iqbal mengajak seluruh insan pers untuk memperkuat ekosistem media yang sehat serta menjaga marwah jurnalisme beretika. Ruang informasi yang bersih dan tepercaya merupakan fondasi penting bagi suksesnya pembangunan daerah dan demokrasi.
Pemerintah daerah dan perusahaan media siber bukanlah pihak yang saling berhadapan dalam menjalankan roda pembangunan. Kedua lembaga merupakan mitra strategis yang bahu-membahu memastikan masyarakat memperoleh berita yang benar dan berimbang.
Pemerintah yang baik dan pers yang profesional memiliki pembagian fungsi berbeda namun memikul cita-cita luhur yang sama. Keduanya bertekad menjaga kepentingan publik serta membangun ruang diskusi masyarakat yang aman dan sehat.
Gubernur NTB secara resmi membuka Konferensi Wilayah III Asosiasi Media Siber Indonesia Nusa Tenggara Barat Tahun 2026. Beliau menutup sambutannya dengan menegaskan bahwa kecanggihan AI tidak akan pernah bisa menggantikan etika dan integritas jurnalisme.(ar)









