Pekanbaru, seriusnews.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Pekanbaru mendeteksi sebanyak 2.671 titik panas di Sumatera berdasarkan pembaruan data terkini. Lonjakan lokasi kebakaran hutan dan lahan ini memicu penurunan kualitas udara secara signifikan di sejumlah wilayah.
Prakirawan BMKG Pekanbaru Putri Santy Siregar mengonfirmasi sebaran titik panas tersebut terdeteksi di sembilan provinsi. Dari pemantauan satelit, Provinsi Sumatera Selatan menyumbang angka tertinggi dengan total 1.583 titik.
Sebaran Ribuan Titik Panas di Sembilan Provinsi
Provinsi Bangka Belitung mengekor di posisi berikutnya setelah petugas memantau keberadaan 312 titik panas. Pada saat bersamaan, wilayah Jambi melaporkan 330 titik dan Lampung mencatat 115 titik.
Sejumlah daerah lain di Pulau Sumatera turut menyumbang indikasi kebakaran meski dalam skala lebih kecil. Bengkulu mendeteksi 39 titik, Kepulauan Riau 29 titik, Sumatera Barat 21 titik, serta Sumatera Utara delapan titik.
Pemetaan Sebaran Titik Panas di Wilayah Riau
Khusus di Provinsi Riau, pemantauan satelit mendeteksi sebanyak 235 titik panas yang tersebar di 10 kabupaten dan kota. Kondisi ini membuat tim satgas darat maupun udara terus meningkatkan kewaspadaan di area rawan.
Kabupaten Indragiri Hilir menempati urutan pertama wilayah penyumbang titik terbanyak di Riau dengan 79 titik. Selanjutnya, Kabupaten Indragiri Hulu menyusul di posisi kedua setelah petugas menemukan 42 titik.
Kabupaten Bengkalis turut menyumbang 35 titik panas yang tersebar di beberapa areal perkebunan maupun hutan. Di tempat terpisah, Kepulauan Meranti mencatat 28 titik dan Kabupaten Pelalawan melaporkan 27 titik.
Wilayah Kabupaten Siak mendeteksi 12 titik panas yang membutuhkan penanganan cepat dari petugas lapangan. Sementara itu, Kabupaten Kuantan Singingi mencatatkan enam titik berdasarkan pantauan sensor satelit.
Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar masing-masing mendeteksi satu titik di wilayah administrasi mereka. Kendati jumlahnya minim, kemunculan titik api tetap berpotensi meluas jika tidak segera dipadamkan.
Dampak Kabut Asap dan Kualitas Udara Pekanbaru
Maraknya titik kebakaran tersebut berdampak langsung terhadap jarak pandang dan kondisi udara di Kota Pekanbaru. Petugas mencatat jarak pandang pada Kamis malam merosot hingga menyisakan lima kilometer akibat diselimuti kabut asap.
Konsentrasi partikulat PM2,5 pada dini hari hingga pagi hari bahkan menunjukkan indikasi yang mengkhawatirkan. Hasil pemantauan alat pengukur kualitas udara menetapkan status udara Pekanbaru masuk dalam kategori sangat tidak sehat.
Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan BPBD Riau
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Riau langsung menerjunkan tim gabungan menuju lokasi kebakaran hutan dan lahan. Langkah ini berfokus pada upaya pemadaman darat di area yang paling parah terdampak titik api.
Area Kabupaten Bengkalis dan Indragiri Hulu menjadi prioritas utama penanggulangan bencana karhutla saat ini. Petugas terus berjibaku memadamkan kobaran api agar tidak semakin mendekati pemukiman warga.
Upaya pemadaman serupa sedang berlangsung intensif di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir. Seluruh personel gabungan bekerja keras mengendalikan situasi di lapangan demi menekan laju penyebaran kabut asap.(ar)









