Jakarta, jentik.id-Bekerja dari rumah atau WFH pada hari Jumat memberi kenyamanan karena ASN tidak perlu menghadapi kemacetan. Namun, sebagian pekerja justru merasa tantangan baru muncul, terutama dalam mengatur waktu dan menjaga fokus agar tidak mudah lelah secara mental.
Seorang pekerja di BUMD Jakarta, Wiwid (38), mengaku WFH tidak selalu berjalan mudah. Ia harus membagi perhatian antara pekerjaan kantor dan kebutuhan anak di rumah.
Saat bekerja, ia sering menerima gangguan dari anak yang membutuhkan perhatian. Kondisi ini membuatnya harus mencari cara agar pekerjaan tetap selesai tanpa mengabaikan peran sebagai orang tua.
“Kadang saya minta waktu 15 sampai 20 menit untuk menyelesaikan kerjaan, baru lanjut urus anak,” ujar Wiwid.
Ia memilih cara kompromi agar tetap bisa menyelesaikan tugas tanpa menimbulkan konflik di rumah. Setelah itu, ia kembali melanjutkan pekerjaan seperti rapat daring atau pengolahan dokumen.
Wiwid juga menilai batas jam kerja saat WFH menjadi tidak jelas. Ia bisa mulai bekerja lebih pagi atau menyelesaikan pekerjaan hingga malam hari. Kondisi ini meningkatkan risiko kelelahan jika tidak dikendalikan.
Untuk mengatasinya, ia membuat skala prioritas. Ia memilih mengerjakan tugas yang paling mendesak terlebih dahulu dan menunda pekerjaan yang masih memiliki tenggat waktu panjang.
“Kalau deadline masih lama, saya kerjakan nanti. Saya fokus dulu yang urgent,” katanya.
Namun, jika semua pekerjaan harus selesai di hari yang sama, ia memilih menyelesaikannya hingga malam agar akhir pekan tetap bebas dari pekerjaan.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa WFH tidak hanya soal fleksibilitas, tetapi juga kemampuan mengatur waktu, menetapkan batas kerja, dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan serta kehidupan pribadi agar tidak mengalami burnout. (nr*)









