Jam Gadang Bukittinggi: Fakta Ilmiah Bongkar Mitos Putih Telur, Ungkap Teknologi Beton Bertulang Modern

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 24 Juni 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jam Gadang di Bukittinggi.( poto : padangkita.com )

Jam Gadang di Bukittinggi.( poto : padangkita.com )

Kota Bukit Tinggi, seriusnews.id – Jam Gadang beton bertulang kembali menjadi sorotan setelah para ahli menegaskan bahwa ikon Kota Bukittinggi itu tidak menggunakan putih telur sebagai bahan perekat utama.

Peneliti dan akademisi membuktikan bahwa teknologi beton bertulang menopang kekuatan bangunan bersejarah tersebut.

Pernyataan ini muncul dalam Seminar Internasional bertajuk “Memperkuat Hubungan Diplomatik Indonesia–Belanda melalui Jembatan Persahabatan Bukittinggi–Amsterdam” yang berlangsung di Bung Hatta Convention Hall, Sabtu (20/6/2026).

Seminar Bahas Sejarah, Diplomasi, dan Identitas Daerah

Sejumlah tokoh nasional dan akademisi menghadiri seminar tersebut. Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, perwakilan Kementerian Luar Negeri, serta akademisi dari Universitas Andalas ikut memberikan pandangan.

Fadli Zon menegaskan bahwa masyarakat harus menjaga Jam Gadang sebagai simbol sejarah Minangkabau sekaligus bagian dari perjalanan kemerdekaan Indonesia. Ia juga menilai momentum satu abad ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor budaya dan pariwisata.

Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias kemudian mengajak pemerintah dan mitra internasional untuk memperluas kerja sama. Ia menawarkan program digitalisasi arsip sejarah, pertukaran pelajar, hingga forum kota bersejarah dunia.

Baca Juga :  Peringatan 100 Tahun Jam Gadang Jadi Momentum Diplomasi Indonesia–Belanda di Bukittinggi

Ahli Bongkar Mitos Putih Telur Jam Gadang

Direktur Keuangan PT Semen Padang, Iskandar Z. Lubis, menegaskan bahwa kekuatan Jam Gadang berasal dari rekayasa struktur, bukan cerita rakyat. Ia menjelaskan bahwa bangunan ini mampu bertahan di wilayah rawan gempa selama 100 tahun karena desain dan material yang berkualitas.

Iskandar juga mengacu pada penelitian The Construction and Structural Reliability of Jam Gadang karya Khadavi dan Yulcherlina (2018) dari Universitas Bung Hatta. Penelitian itu menemukan bahwa insinyur menggunakan sistem beton bertulang dalam konstruksi Jam Gadang.

Peneliti juga mencatat penggunaan tulangan baja pada kolom, balok, dan pelat lantai. Struktur tersebut menghasilkan kekuatan tekan beton minimal 25 megapascal (MPa), angka tinggi untuk bangunan tahun 1926.

Iskandar menghubungkan kekuatan struktur tersebut dengan sejarah industri semen di Sumatera Barat. Ia menyebut bahwa pabrik semen yang kini dikenal sebagai PT Semen Padang telah berdiri sejak 1910 melalui Pabrik Indarung I.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan industri tersebut memungkinkan penggunaan teknologi beton modern pada era pembangunan Jam Gadang. Namun ia menegaskan bahwa penelusuran sejarah lebih lanjut tetap diperlukan untuk memperkuat bukti akademik.

Baca Juga :  Makin Garang! Daihatsu Terios 2026 Siap Taklukkan Tanjakan, Konsumsi BBM Lebih Irit

Luruskan Mitos Big Ben dan Jam Gadang

Iskandar juga meluruskan anggapan publik yang menyamakan Jam Gadang dengan Big Ben di London. Ia menjelaskan bahwa produsen mesin Jam Gadang berasal dari Benhard Vortmann di Jerman, sedangkan Big Ben menggunakan mekanisme dari Dent & Co. Inggris.

Ia meminta publik menyampaikan sejarah berdasarkan data agar tidak terjadi kesalahpahaman. Para peserta seminar, termasuk perwakilan sektor pariwisata, menyambut penjelasan tersebut secara positif.

Seorang keturunan pembuat bata merah Jam Gadang turut membagikan kisah tentang proses produksi material pada masa lalu. Ia menjelaskan bahwa masyarakat menguji kekuatan bata secara tradisional sebelum digunakan dalam pembangunan.

Iskandar kemudian mendorong pengembangan wisata warisan industri di Sumatera Barat. Ia mengusulkan integrasi narasi sejarah antara tambang batu bara di Sawahlunto, industri semen Indarung, pelabuhan Teluk Bayur, dan Jam Gadang sebagai satu kesatuan sejarah peradaban.(ar)

Berita Terkait

Bocoran iPhone 18 Pro: Apple Siapkan Kamera Utama Lebih Besar dan Aperture Variabel
A24 Gandeng Google DeepMind dalam Kemitraan AI Senilai USD 75 Juta untuk Transformasi Produksi Film
Kemkomdigi Dorong Regulasi AI sebagai Enabler Produktivitas Nasional, Perpres Ditargetkan Terbit 2026
Dosen Universitas Metamedia Padang Kembangkan Chatbot AI untuk Pemasaran UMKM di Tabing
PLN Mobile Jangkau Lansia, PLN Edukasi Pensiunan PWRI di Lubuk Begalung
Tiga Dosen UNP Presentasikan Riset AI Pendidikan di ICFET 2026 Tokyo, Artikel Terbit di Springer Nature
Sepablock PT Semen Padang Dilirik Pemerintah, Teknologi Bata Interlock Dinilai Percepat Pembangunan Hunian
Link Nonton Piala Dunia 2026 Resmi, Streaming Lewat MAXStream dan Folaplay
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 23:00 WIB

Bocoran iPhone 18 Pro: Apple Siapkan Kamera Utama Lebih Besar dan Aperture Variabel

Rabu, 24 Juni 2026 - 22:00 WIB

A24 Gandeng Google DeepMind dalam Kemitraan AI Senilai USD 75 Juta untuk Transformasi Produksi Film

Rabu, 24 Juni 2026 - 21:00 WIB

Kemkomdigi Dorong Regulasi AI sebagai Enabler Produktivitas Nasional, Perpres Ditargetkan Terbit 2026

Rabu, 24 Juni 2026 - 14:00 WIB

Jam Gadang Bukittinggi: Fakta Ilmiah Bongkar Mitos Putih Telur, Ungkap Teknologi Beton Bertulang Modern

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:00 WIB

Dosen Universitas Metamedia Padang Kembangkan Chatbot AI untuk Pemasaran UMKM di Tabing

Berita Terbaru