Tanah Datar, seriusnews.id – Program Nagari Creative Hub terbukti membawa perubahan nyata bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat di Nagari Pangian, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar. Pusat kreativitas hasil inisiasi Gubernur Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Gubernur Vasco Ruseimy ini menjelma menjadi ruang pemberdayaan UMKM sekaligus pusat pelestarian seni budaya.
Pemprov Sumbar memfasilitasi kawasan ini dengan lima sarana pendukung utama untuk menunjang aktivitas warga. Masyarakat kini memanfaatkan Teras Nagari, Lapau Nagari, Medan Balindung, Medan Nan Bapaneh, serta fasilitas internet gratis secara rutin.
Lima Fasilitas Utama Menjadi Pusat Kegiatan Masyarakat Pangian
Ketua Satgas NCH Nagari Pangian, Zilnovita Zainal, menegaskan keberadaan sarana tersebut langsung disambut positif oleh warga sejak awal diluncurkan. Sarana ini berfungsi sebagai pusat informasi, pemasaran digital, tempat pelatihan, hingga arena pertunjukan seni tradisi.
Sektor ekonomi nagari langsung bergerak aktif melalui pemanfaatan platform digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Pelaku UMKM lokal kini memasarkan enam produk unggulan secara rutin melalui siaran langsung akun TikTok @nch.pangian.
Strategi Digitalisasi Produk Unggulan Lewat Siaran Langsung TikTok
Rangkaian produk unggulan tersebut meliputi aneka sambalado, rendang belut, minuman serai-lemon-jahe, keripik pisang, hingga kriya peta khas Minang. Warga menggelar sesi penjualan digital ini setiap malam mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB.
Beberapa produk olahan bahkan sudah berhasil menembus jaringan toko oleh-oleh modern di Kota Padang. Namun, para perajin dan pembuat makanan tradisi masih menghadapi kendala teknis pada masa simpan produk.
Inovasi Teknologi Pangan Kunci Utama Perluasan Pasar Nasional
Produk kuliner seperti sambalado masih membutuhkan sentuhan teknologi pengawetan modern agar sanggup bertahan lama. Kondisi ini berbeda dengan rendang belut yang mampu bertahan hingga dua bulan tanpa mengurangi kualitas rasa.
Satgas NCH mendorong pendampingan teknologi pangan agar produk lokal memenuhi standar distribusi nasional. Selain tantangan pengawetan, para pelaku usaha juga berjuang melengkapi syarat administrasi sertifikasi halal.
Keterbatasan pemahaman teknologi digital juga menjadi hambatan tersendiri bagi generasi tua di nagari tersebut. Satgas NCH akhirnya menggandeng mahasiswa KKN untuk mendampingi warga mengoperasikan fitur live shopping dan pembayaran digital.
Kehadiran mahasiswa membantu mengatasi kelangkaan pemuda nagari yang sebagian besar memilih pergi merantau ke luar daerah. Mahasiswa KKN mengajari warga teknik siaran langsung, pengelolaan pesanan, hingga strategi menambah jumlah pengikut.
Tantangan lain yang muncul adalah menjaga konsistensi produksi agar pasokan ke mitra pemasaran tidak terputus. Masalah keterbatasan bahan baku sering membuat produk lokal berisiko dikeluarkan dari jaringan toko oleh-oleh.
Di luar aktivitas perdagangan, kawasan ini juga memfasilitasi kegiatan sosial seperti latihan silek, randai, dan sanggar senam. Pemerintah Nagari Pangian mengarahkan seluruh anggaran pelatihan untuk mengoptimalkan kawasan kreativitas yang berkelanjutan ini.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sendiri menjalankan proyek percontohan ini di tiga daerah, yaitu Sawahlunto, Padang Pariaman, dan Tanah Datar. Langkah kolaboratif ini terbukti berhasil memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal.(ar)









