Agam, seriusnews.id – Saat ini Pemerintah Kabupaten Agam mempercepat langkah pemulihan sawah terdampak bencana melalui pembangunan sarana air pertanian. Oleh karena itu, pemerintah setempat mengalokasikan anggaran sebesar Rp2,5 miliar untuk membangun 27 titik irigasi perpipaan.
Selain itu, langkah strategis ini bertujuan mengalirkan pasokan air menuju lahan persawahan warga yang sempat terbengkalai. Pasalnya, fasilitas irigasi tersebut memprioritaskan kawasan yang mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang dan tanah longsor.
Selanjutnya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Agam Heri Prasetyo Wibowo mengonfirmasi penanganan khusus tersebut di Lubuk Basung. Pihaknya memfokuskan pemulihan pada kawasan pertanian yang hancur diterjang material bencana pada akhir November 2025 lalu.
Pembangunan Irigasi Perpipaan Agam Meliputi Enam Kecamatan
Secara rinci, pemerintah membagi sebaran proyek fisik ini ke dalam enam kecamatan yang menderita kerusakan paling berat. Lokasi pembangunan tersebut meliputi Kecamatan Palembayan, Tanjung Raya, Matur, Canduang, Baso, dan Kecamatan Malalak.
Sementara itu, seluruh pembiayaan proyek infrastruktur pertanian ini bersumber penuh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2026. Hasilnya, pemerintah mengucurkan dana senilai Rp94 juta untuk setiap titik pekerjaan irigasi perpipaan di lapangan.
Bahkan, pengerjaan sarana pengairan tersebut menunjukkan kemajuan pesat sejak awal pelaksanaan konstruksi di lapangan. Petugas teknis kini telah menyelesaikan sekitar 90 persen dari total keseluruhan target pembangunan fisik.
Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Agam menargetkan seluruh sarana irigasi ini berfungsi penuh pada akhir Juli 2026. Bagaimanapun juga, kehadiran air mengalir menjadi kunci utama bagi keberlanjutan mata pencaharian para petani lokal.
Pengairan Efektif Mampu Memulihkan Ratusan Hektare Persawahan
Secara teknis, setiap instalasi perpipaan memiliki kapasitas untuk mengairi lahan seluas 10 hingga 25 hektare. Dengan demikian, keberadaan jaringan ini akan memulihkan pasokan air untuk total 400 hektare sawah produktif.
Di sisi lain, Dinas Pertanian optimis keberadaan air yang lancar akan memicu ketahanan pangan daerah kembali bangkit. Dampaknya, para petani dapat segera memulai masa tanam padi tanpa perlu mengkhawatirkan kekeringan lahan lagi.
Mengenai hal tersebut, Heri Prasetyo Wibowo berharap para petani dapat mengolah tanah garapan mereka secara maksimal kembali. Sebab, aktivitas penanaman padi secara serentak akan mendorong kenaikan volume produksi beras di Kabupaten Agam.
Lebih lanjut, pemerintah daerah terus mengawal proses pemulihan sektor pertanian ini agar rampung tepat waktu. Pada akhirnya, kerja sama antara pemerintah dan masyarakat lokal mempercepat pengoperasian seluruh saluran air di lapangan.
Bencana Hidrometeorologi Merusak Ribuan Hektare Lahan Pertanian
Memang, peristiwa banjir bandang dan tanah longsor pada November 2025 menyisakan dampak kerusakan luar biasa. Akibatnya, bencana hidrometeorologi tersebut merusak sedikitnya 1.604 hektare lahan pertanian warga di berbagai wilayah.
Bahkan, material longsor menutup permukaan tanah serta menghancurkan saluran irigasi tradisional milik warga setempat. Akibat kondisi buruk ini, ratusan petani kehilangan sumber air utama untuk mengolah sawah.
Tak heran, kerusakan jaringan air secara masif sempat menghentikan aktivitas bercocok tanam selama beberapa bulan terakhir. Petani tidak dapat menanam padi karena lahan persawahan mengering serta tertutup endapan lumpur tebal.
Oleh karena itu, pembangunan jaringan perpipaan baru ini menjadi solusi nyata untuk membangkitkan kembali perekonomian warga desa. Akhirnya, sawah-sawah produktif yang sempat mati kini siap menyambut masa tanam baru dengan pasokan air melimpah.(ar)









