Kerinci, Seriusnews.id – Harapan Hadijah menikmati masa tua dengan tenang di tanah kelahiran seketika sirna. Kepulangannya ke Kerinci justru menyisakan duka mendalam setelah kebun karet yang ia bina selama bertahun-tahun rata dengan tanah.
Ia memeras keringat puluhan tahun di Malaysia demi mengumpulkan tabungan hari tua. Namun, oknum tak bertanggung jawab tega menghancurkan 48 batang pohon karet berusia belasan tahun yang menjadi tumpuan hidup utamanya.
Aksi Perusakan Berlangsung Dua Gelombang
Para pelaku melancarkan aksi nekat ini secara bertahap dalam rentang waktu Juni hingga Agustus 2023. Pada gelombang pertama, mereka menebang 13 batang pohon karet tanpa rasa iba.
Tak puas dengan aksi pertama, pelaku kembali merobohkan 35 batang pohon sisanya pada gelombang berikutnya. Akibat perusakan secara masif ini, Hadijah menelan kerugian material yang menembus angka Rp100 juta.
Pihak kepolisian mengamankan dua warga Sanggaran Agung berinisial A dan Ah yang memiliki hubungan darah sebagai ayah dan anak. Setelah melalui proses penantian panjang, kepolisian melimpahkan berkas kasus ini ke meja hijau pada Oktober 2026.
Peristiwa kelam ini menyisakan trauma mendalam bagi pahlawan devisa tersebut. Hadijah terpaksa mengurungkan niatnya untuk kembali mencari nafkah di negeri jiran Malaysia.
Ia mengaku cemas dan takut kebunnya kembali menjadi sasaran perusakan jika ia tinggalkan merantau. Ketakutan itu memaksa Hadijah bertahan di kampung halaman dengan mengandalkan hasil bumi seadanya.
Selama tiga tahun terakhir, ia berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di tengah keterbatasan ekonomi. Hadijah kini menggantungkan harapan penuh pada keputusan majelis hakim.
Ia menuntut keadilan yang tegas agar pelaku menerima hukuman setimpal. Lebih dari sekadar ganti rugi materi, Hadijah hanya ingin kembali merasakan rasa aman dan perlindungan hukum di tanah kelahirannya sendiri.(ar)









