Jakarta, seriusnews.id-Saat merasa lelah atau sedih, banyak orang langsung mencari makanan manis seperti cokelat, kue, atau minuman kekinian. Rasa manis memang bisa meningkatkan mood dengan cepat. Ternyata, tubuh merespons gula melalui mekanisme biologis yang melibatkan otak.
Rasa Manis Aktifkan Sistem Reward
Saat lidah mendeteksi rasa manis, otak langsung mengaktifkan sistem reward. Sistem ini mengatur rasa senang, motivasi, dan keinginan untuk mengulang pengalaman.
Karena itu, setelah makan manis, seseorang biasanya:
- merasa lebih bahagia
- ingin mengonsumsinya lagi
- mengaitkan makanan manis dengan rasa nyaman
Tubuh secara alami menyukai rasa manis karena gula menyediakan energi cepat.
Gula Picu Hormon Bahagia
Gula juga memicu pelepasan dopamine, yaitu zat kimia di otak yang menciptakan rasa senang.
Penelitian dalam jurnal ilmiah menunjukkan bahwa tubuh tidak hanya merasakan manis di lidah, tetapi juga di sistem pencernaan. Usus mengenali gula sebagai sumber energi, lalu mengirim sinyal ke otak untuk memperkuat rasa senang.
Akibatnya, makanan manis sering terasa “nagih” karena otak ingin mengulang sensasi tersebut.
Otak Menyimpan Pengalaman Menyenangkan
Saat seseorang makan makanan manis, bagian otak yang mengatur rasa senang langsung aktif. Otak kemudian menyimpan pengalaman itu sebagai sesuatu yang menyenangkan.
Dengan begitu, makanan manis sering menjadi “mood booster”, meskipun efeknya biasanya hanya sementara.
Tetap Perlu Batasan
Meski memberi rasa bahagia, konsumsi gula berlebihan bisa berdampak negatif. Tubuh bisa terbiasa dengan stimulasi tersebut dan membutuhkan lebih banyak gula untuk mendapatkan efek yang sama.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memicu:
- makan berlebihan
- kenaikan berat badan
- risiko penyakit seperti diabetes
Kesimpulannya, makanan manis memang bisa membuat bahagia karena otak meresponsnya secara langsung. Namun, kamu tetap perlu mengonsumsinya secara seimbang agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan. (nr*)









