Pariaman, seriusnews.id – Pemerintah Kota Pariaman memasang 101 ramu evakuasi tsunami Pariaman di sejumlah kawasan pesisir pantai. Langkah strategis ini menjadi upaya nyata pemerintah daerah dalam memperkuat sistem mitigasi bencana berbasis masyarakat. Pemasangan tanda penunjuk arah ini bertujuan agar warga bisa menyelamatkan diri secara mandiri dengan cepat ketika situasi darurat terjadi.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pariaman, Ferry Ferdian Bagindo Putra, memastikan seluruh fasilitas keselamatan tersebut sudah terpasang. Sebagian besar penunjuk arah ini terpasang pada titik-titik rawan di sepanjang garis pantai Pariaman.
“Alhamdulillah semuanya telah terpasang. Kebanyakan dipasang di kawasan pesisir pantai di Pariaman,” ujar Ferry Ferdian di Pariaman, Jumat.
Alokasi Anggaran Daerah Demi Keselamatan Warga Pesisir
Pemerintah daerah membiayai pengadaan fasilitas ini melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Pariaman Tahun 2026. Anggaran yang terpakai untuk proyek kemanusiaan ini mencapai nilai sekitar Rp186 juta. Fasilitas tersebut berfungsi mengarahkan masyarakat menuju titik aman melalui jalur evakuasi yang sudah ditentukan petugas.
Pemerintah Kota Pariaman memprioritaskan program ini karena wilayah mereka masuk dalam zona merah rawan gempa bumi dan tsunami di Sumatera Barat. Ketersediaan penanda jalur yang jelas menjadi faktor krusial dalam meminimalkan risiko korban jiwa saat bencana melanda.
“Sebelumnya sudah ada penunjuk arah evakuasi, namun kondisinya telah banyak yang rusak dan masih ada jalur yang belum terpasang penunjuk arah evakuasi,” katanya menambahkan.
Rencana Penambahan Rambu Penunjuk Jalur Secara Bertahap
Meskipun petugas telah memasang ratusan tanda baru tahun ini, BPBD mencatat masih ada beberapa titik yang membutuhkan fasilitas serupa. Keterbatasan dana daerah membuat program perbaikan fasilitas mitigasi ini harus berjalan dalam beberapa tahap.
BPBD Kota Pariaman berkomitmen untuk terus mengganti rambu-rambu yang rusak secara berkala. Pihaknya juga akan menambah unit baru pada jalur penyelematan yang belum memiliki petunjuk arah sesuai dengan kondisi keuangan daerah.
“Untuk 2027 akan kami usulkan kembali, disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah,” tutur Ferry menjelaskan langkah selanjutnya.
Optimalisasi Teknologi HF Radar Array Milik BMKG
Saat ini, masyarakat Kota Pariaman bisa memanfaatkan 22 lokasi Tempat Evakuasi Akhir (TEA) yang tersebar di beberapa wilayah. Seluruh lokasi tersebut menggunakan fasilitas umum yang dinilai aman dari ancaman gelombang laut.
Pemasangan tanda penunjuk arah ini juga mendukung optimalisasi teknologi High Frequency (HF) Radar Array yang sudah tersedia di daerah tersebut. Integrasi antara panduan fisik di lapangan dan teknologi deteksi dini akan mempercepat proses evakuasi warga.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meresmikan penggunaan HF Radar Array ini untuk mempercepat penyebaran informasi kemaritiman. Kepala BMKG RI, Prof. Teuku Faisal Fathani, menyebutkan radar ini memiliki daya jangkau hingga 150 kilometer dan terpasang di dua lokasi di Sumatera Barat.(ar)









