Sumatera Barat, seriusnews.id – Masyarakat Minangkabau merefleksikan peristiwa seabad gempa Padang Panjang sebagai momentum penting untuk memperkuat mitigasi bencana. Ancaman kegempaan yang sangat tinggi menuntut seluruh warga Sumatra Barat meningkatkan kesiapsiagaan secara menyeluruh.
Jurnalis sekaligus penulis buku Gempa Tujuh Hari, Yose Hendra, membeberkan kondisi geografis wilayah Sumatra Barat dalam diskusi kebencanaan di Universitas Andalas, Padang, Rabu (22/7/2026). Ia menegaskan bahwa masyarakat setempat hidup mendampingi dua potensi bencana raksasa, yakni Zona Subduksi Mentawai dan Sesar Sumatra.
Ancaman Dua Sesar Aktif Mengintai Wilayah Sumatra Barat
Yose mendapatkan fakta ilmiah tersebut melalui penelusuran arsip kolonial, surat kabar tempo dulu, serta riset geologi terbaru. Ia menyampaikan bahwa jalur Sesar Sumatra mencatat riwayat gempa besar berulang pada tahun 1822, 1926, dan 2007.
Selain itu, Sumatra Barat menyimpan potensi fenomena doublet earthquake yang memicu dua guncangan utama secara berurutan pada segmen berbeda. Catatan sejarah menunjukkan bahwa puncak tragedi bencana terjadi pada 28 Juni 1926 silam.
Guncangan hebat masa lalu itu menghancurkan sedikitnya 2.383 unit rumah dan merenggut 247 korban jiwa. Peristiwa tersebut juga menimbulkan kerugian material hingga mencapai angka 10 juta gulden.
Ratusan gempa susulan berguncang selama berhari-hari hingga melahirkan istilah lokal Gampo Tujuh Hari. Memori kelam itu kini melekat kuat sebagai bagian sejarah kolektif masyarakat Minangkabau.
Pelajaran Berharga Dari Konstruksi Tradisional Rumah Gadang Minangkabau
Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rustian memberikan perhatian khusus terhadap tingginya potensi risiko bencana ini. Ia mencatat sedikitnya sembilan gempa bumi destruktif mengguncang Sumatra Barat sejak tahun 1797 hingga 2022.
Data tersebut menandai bahwa masyarakat berpenghasilan rendah memikul tingkat kerentanan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu mengintegrasikan strategi pengurangan risiko bencana ke dalam perencanaan pembangunan jangka panjang.
Rustian menyoroti pentingnya pemanfaatan kearifan lokal melalui prinsip konstruksi bangunan Rumah Gadang. Desain tiang yang berdiri tanpa tanaman langsung ke tanah memungkinkan struktur bangunan bergerak lentur meredam guncangan.
Konsep arsitektur tradisional Minangkabau tersebut memiliki kemiripan cara kerja dengan teknologi base isolator modern. Pendekatan ini terbukti mampu menekan dampak kerusakan fisik saat bencana gempa terjadi.
Staf Ahli Kepala BNPB Dody Ruswandi turut membagikan pengalaman penanganan pascagempa Padang 2009 yang memporak-porandakan lebih dari 249 ribu rumah. Bencana besar itu mendorong pemerintah menyempurnakan standar bangunan, mengevaluasi perizinan, dan memupuk kesadaran hunian aman.
Dody menekankan bahwa pemangku kepentingan harus menjaga konsistensi kesadaran masyarakat agar tidak memudar seiring berjalannya waktu. Langkah pemeliharaan pemahaman ini menjadi kunci utama kesiapsiagaan jangka panjang.
Membangun Kesadaran Literasi Kebencanaan Melalui Lingkungan Kampus Unand
Upaya merawat literasi keilmuan mendorong Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas menggelar agenda diskusi ilmiah dan bedah buku. Ketua Program Studi Magister Manajemen Bencana Unand Prof. Yenny Narny menilai momen ini sangat strategis untuk mengedukasi publik.
Ia menyebutkan bahwa kilas balik perjalanan satu abad memberikan pelajaran berharga bagi seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, proses membangun ketangguhan warga bermula dari pengetahuan ilmiah, kolaborasi antarlembaga, dan aksi nyata.
Yenny mengajak publik menjadikan catatan sejarah masa lalu sebagai sumber ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Pemahaman sejarah yang kuat akan memperkokoh kesiapsiagaan serta meminimalkan potensi risiko bencana masa depan.
Direktur Sekolah Pascasarjana Unand Prof. Henny Lucida memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan ruang dialog antar-akademisi ini. Forum ilmiah tersebut menjembatani temuan akademik dengan langkah praktis mitigasi di lapangan.
Sinergi berbagai pihak akan membentuk kesiapan warga Sumatra Barat dalam menghadapi ancaman bencana. Pada akhirnya, masyarakat dapat mengambil tindakan responsif secara terukur sebelum bencana gempa benar-benar melanda.(ar)









