Lombok Tengah, seriusnews.id – Pengelola kawasan The Mandalika kembali memperkuat komitmen pelestarian lingkungan melalui aksi nyata penanaman ribuan bibit pohon di Lombok Tengah. Tim lapangan menggelar kegiatan rehabilitasi Mangrove Sanctuary Mandalika dengan menanam 4.500 bibit mangrove jenis Rhizophora di Blok 11 (Demplot 11) pada Jumat (24/7/2026).
Pemilihan jenis vegetasi ini berlandaskan hasil kajian ekologi menyeluruh yang mempertimbangkan kondisi alam setempat. Para ahli memilih jenis Rhizophora karena memiliki karakteristik biologis yang sangat cocok dengan struktur tanah lokal.
General Manager The Mandalika, Pari Wijaya, menjelaskan bahwa pihak pengelola telah menjalankan rangkaian persiapan teknis sebelum memulai proses penanaman. BPSPL bersama Injourney dan ITDC turun langsung memimpin survei lapangan, analisis struktur tanah, hingga penentuan spesies vegetasi yang tepat.
Pari Wijaya menegaskan bahwa tim teknis memfokuskan kegiatan penanaman di Blok 11 dengan target kerja intensif selama tujuh hari ke depan. Langkah cepat ini bertujuan agar seluruh bibit mangrove dapat tumbuh optimal dan memperkokoh ekosistem pesisir kawasan tersebut.
Pengelola Mandalika Menjalankan Program Rehabilitasi Lingkungan Jangka Panjang
Aksi penghijauan kawasan pesisir ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan pengelola. Program konservasi ini merupakan bagian integral dari strategi pelestarian lingkungan jangka panjang berdurasi lima tahun.
Direktur Utama Injourney, Maya Watono, memimpin langsung peresmian awal program ini pada September 2025. Peresmian tersebut menandai penetapan kawasan konservasi mangrove seluas 45,7 hektar di kawasan The Mandalika.
Sejak akhir tahun lalu, pengelola kawasan berhasil menanam sebanyak 20.000 bibit pohon di beberapa demplot. Tambahan 4.500 bibit pada tahap terbaru ini menambah total capaian menjadi 24.500 bibit mangrove.
Penanaman tersebut mencakup areal seluas tujuh hektar dari total 23 blok demplot rehabilitasi. Pengelola terus memperluas jangkauan penanaman secara bertahap demi menghijaukan seluruh zona konservasi.
Sinergi Lintas Sektor Menjaga Keberlanjutan Ekosistem Mangrove Mandalika
Pihak pengelola menekankan betapa pentingnya dukungan aktif dari seluruh lapisan masyarakat dan para pemangku kepentingan kawasan. Upaya pelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan kolektif agar mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Pari Wijaya mengajak akademisi kampus, pihak swasta, serta kelompok masyarakat untuk saling berkolaborasi dan bergotong royong. Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu menjadikan kawasan Mangrove Sanctuary Mandalika sebagai warisan hijau yang berharga bagi generasi mendatang.
Keberadaan ekosistem mangrove yang lestari berfungsi sebagai benteng ekologis utama dari ancaman abrasi pantai. Selain itu, kawasan hijau ini menjadi paru-paru lingkungan yang menyuplai udara bersih bagi kawasan pariwisata Mandalika.
Selain memberikan dampak ekologis, pengembangan area konservasi ini juga menyimpan potensi besar bagi sektor pariwisata. Pengelola merancang kawasan ini untuk menggerakkan roda perekonomian warga lokal secara langsung.
Pengembangan Destinasi Ecotourism dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Lokal
Proyeksi pengembangan kawasan menitikberatkan pada konsep pariwisata ramah lingkungan berbasis edukasi atau ecotourism. Pengelola menyiapkan atraksi pengamatan burung (bird watching) serta paket wisata edukatif bertajuk Mangrove Sanctuary Journey.
Sektor ekonomi kerakyatan turut merasakan dampak positif dari pemulihan kondisi ekosistem pesisir ini. Ekosistem yang sehat membuka peluang kerja baru bagi warga binaan melalui usaha budidaya kepiting rawa.
Pari Wijaya berharap kawasan ini memberikan nilai tambah ekonomi nyata bagi masyarakat di sekitar lokasi destinasi. Integrasi antara konservasi dan ekonomi lokal mendukung terwujudnya sektor pariwisata berkelanjutan di The Mandalika.
Seluruh rangkaian kegiatan rehabilitasi ini membuktikan bahwa pembangunan pariwisata modern dapat berjalan seiring dengan perlindungan alam. Pengelola optimistis kawasan konservasi ini akan menjadi tolok ukur baru pengelolaan pariwisata hijau di Indonesia.(ar)









