Sumatera Barat, seriusnews.id – Komunitas Mahasiswa Mencintai Alam (KOMMA) Fakultas Pertanian Universitas Andalas menggagas langkah taktis untuk menyelamatkan kawasan konservasi di Sumatera Barat. Mereka menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk merumuskan tata kelola berkelanjutan Tahura Bung Hatta melalui sistem pendanaan baru yang lebih mandiri. Forum strategis ini berlangsung di Ruang Bagindo Aziz Chan, Balai Kota Padang, pada Kamis (9/7/2026).
Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, membuka langsung ruang diskusi lintas sektoral tersebut. Ia mengapresiasi tinggi kepedulian kaum akademisi yang tanggap terhadap isu lingkungan hidup ini. Menurutnya, pemerintah daerah sangat membutuhkan sumbangan pemikiran segar dari generasi muda demi menjaga paru-paru kota.
Maigus mengingatkan seluruh peserta bahwa kelalaian kolektif dalam menjaga kawasan hutan lindung bisa memicu bencana ekologis yang dahsyat. Sebaliknya, pengelolaan yang bijak akan mendatangkan berkah besar bagi masyarakat luas. Oleh karena itu, aparatur pemerintah bersama elemen sipil wajib memperkuat sinergi penjagaan di lapangan.
Urgensi Pendanaan Inovatif Bagi Paru Paru Kota
Kawasan konservasi ini menghadapi berbagai tantangan operasional yang kompleks dalam hal pengawasan wilayah teritorial. Pemerintah Kota Padang mengakui adanya keterbatasan komparatif jika hanya mengandalkan pola pengawasan konvensional. Skema pendanaan inovatif hadir sebagai solusi alternatif untuk membiayai program perlindungan hutan secara jangka panjang.
KOMMA Fakultas Pertanian Universitas Andalas sengaja menginisiasi forum ini sebagai rangkaian perayaan hari ulang tahun emas mereka yang ke-50. Mahasiswa ingin memastikan bahwa rekomendasi yang lahir dari ruang sidang bersifat aplikatif dan langsung menyasar akar masalah. Mereka juga melibatkan para pakar lingkungan, Dinas Pertanian Kota Padang, serta Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat.
Hadirnya Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yuliani, memperkuat komitmen eksekutif dalam menindaklanjuti hasil diskusi. Sinergi ini bertujuan untuk mengatasi berbagai masalah pelanggaran batas wilayah dan pembalakan liar. Pendanaan yang kuat nantinya akan menyokong modernisasi sarana patroli petugas di area hutan raya.
Potensi Besar Pengembangan Agrowisata Dan Peternakan Modern
Selain menjaga fungsi ekologi utama, Maigus Nasir mendorong pemanfaatan zona pemanfaatan Tahura secara optimal. Ia melihat peluang besar untuk mentransformasikan kawasan hijau ini menjadi magnet ekowisata baru di Sumatera Barat. Konsep ini memadukan perlindungan alam dengan kegiatan ekonomi produktif yang ramah lingkungan.
Pemerintah daerah berencana mengembangkan sektor agrowisata pertanian dan kawasan peternakan di titik-titik tertentu yang aman. Kehadiran taman buah tropis juga akan memperkaya daya tarik rekreasi bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Langkah ini diyakini mampu menciptakan suasana liburan yang menyenangkan sekaligus edukatif bagi keluarga.
Wakil Dekan II Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Jumsu Trisno, mendukung penuh arah pengembangan berbasis riset tersebut. Ia berharap fungsi taman hutan raya ini semakin optimal melalui pemanfaatan yang terukur dan legal. Kampus siap mengawal implementasi konsep ekowisata agar tidak merusak zona inti konservasi.
Rekam Jejak Panjang Sejarah Pengelolaan Hutan Raya
Kawasan seluas 240 hektare ini menyimpan catatan sejarah yang sangat panjang sebelum dikelola penuh oleh Pemko Padang sejak tahun 1991. Wakil Presiden Pertama RI, Mohammad Hatta, merintis cikal bakal hutan ini pada tahun 1955 dengan nama Kebun Raya Setia Mulya. Keberadaannya sejak awal memang menjadi benteng pertahanan keanekaragaman hayati Sumatera.
Pada tahun 1961, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyerahkan mandat pengelolaan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Barat. Dua dekade kemudian, tepatnya pada tahun 1981, giliran Universitas Andalas yang memegang kendali atas kawasan riset alami tersebut. Dinamika peralihan ini memperkaya literatur riset kehutanan di kampus.
Baru pada tahun 1986, Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah meresmikan pergantian nama menjadi Taman Hutan Raya Dr. Mohammad Hatta di bawah Departemen Kehutanan. Kini, di tengah rencana pembangunan megaproyek infrastruktur seperti rencana flyover Sitinjau Lauik yang diusulkan melintasi kawasan, kelestarian ekologinya tetap menjadi prioritas utama demi masa depan generasi mendatang.(ar)









