Jakarta, seriusnews.id-Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tidak hanya membantu pekerjaan dan teknologi. Di Jepang, banyak perempuan lansia mulai menjadikan AI sebagai tempat curhat dan meminta nasihat hubungan dibanding manusia.
Survei Japan Institute for Promotion of Digital Economy and Community pada Mei 2026 menunjukkan, sebanyak 47,8 persen perempuan usia 60 hingga 70 tahun merasa lebih nyaman berkonsultasi dengan AI. Sementara itu, hanya 37,3 persen yang memilih berbicara dengan manusia.
Fenomena ini menarik perhatian karena perempuan lansia menjadi satu-satunya kelompok usia yang lebih sering memilih AI untuk membahas masalah pribadi.
Banyak Lansia Menganggap AI Lebih Aman
Mayoritas responden di Jepang sebenarnya masih memilih manusia untuk meminta saran. Sebanyak 45,8 persen responden merasa lebih nyaman berbicara dengan manusia, sedangkan 36,5 persen memilih AI.
Meski begitu, banyak perempuan lansia menilai AI lebih objektif dan tidak suka menghakimi. Mereka merasa lebih bebas bercerita tanpa takut mendapat penilaian negatif.
Peneliti Chiba University, Atsushi Nakagomi, mengaku terkejut melihat hasil survei tersebut. Menurutnya, AI membantu seseorang lebih nyaman membuka masalah pribadi karena mereka tidak memikirkan tekanan sosial.
“AI membuat orang lebih mudah terbuka karena mereka tidak khawatir dinilai,” ujar Nakagomi.
Kesepian Lansia di Jepang Semakin Meningkat
Jepang kini menghadapi masalah sosial berupa meningkatnya isolasi pada lansia. Negara itu memiliki jumlah penduduk lanjut usia terbesar di dunia. Sekitar 29 persen penduduk Jepang kini berusia di atas 65 tahun.
Data National Institute of Population and Social Security Research menunjukkan hampir 19,4 persen lansia Jepang hidup sendirian. Jumlah tersebut bahkan terus meningkat dan diperkirakan bertambah hingga 2050.
Kondisi ini membuat banyak lansia kehilangan tempat berbagi cerita dan dukungan emosional. Banyak perempuan lansia juga kehilangan pasangan, tinggal jauh dari anak, atau tidak lagi memiliki lingkungan sosial aktif seperti saat bekerja.
Budaya Jepang Turut Mendorong Tren Ini
Budaya sosial Jepang yang cenderung tertutup ikut memengaruhi kebiasaan tersebut. Banyak orang Jepang merasa khawatir saat membuka masalah pribadi karena takut orang lain menilai mereka atau menganggap mereka merepotkan.
Sebaliknya, AI tidak memiliki hubungan sosial dengan pengguna. AI juga tidak bergosip, tidak menghakimi, dan tidak memengaruhi hubungan sosial seseorang.
Karena alasan itu, sebagian perempuan lansia merasa lebih nyaman bercerita kepada AI dibanding kepada orang di sekitar mereka.
Lansia Pria Lebih Sering Memilih Manusia
Hasil berbeda muncul pada laki-laki lansia Jepang. Sebanyak 57 persen pria usia 60 hingga 70 tahun tetap memilih manusia untuk meminta nasihat. Sementara itu, hanya sekitar 25,2 persen yang memilih AI.
Survei online tersebut melibatkan 1.449 responden berusia 18 hingga 79 tahun di seluruh Jepang pada Januari 2026.
Hasil survei itu kini memicu diskusi luas tentang perubahan hubungan manusia dengan teknologi sekaligus meningkatnya rasa kesepian pada lansia Jepang. (nr*)









