Kota Pariaman, seriusnews.id – Pesona Budaya Hoyak Tabuik kembali hadir di Kota Pariaman, Sumatera Barat, mulai Selasa (16/6/2026). Festival budaya tahunan ini menghadirkan tradisi spiritual dan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat serta menjadi salah satu agenda penting daerah.
Perayaan tahun ini kembali mempertemukan dua kubu adat bersejarah, yaitu Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Kedua kubu menjalankan seluruh rangkaian ritual selama 13 hari dan menjaga warisan budaya yang terus mereka teruskan dari generasi ke generasi.
Tradisi Tabuik tidak hanya menarik perhatian wisatawan, tetapi juga memperlihatkan semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap nilai adat. Setiap tahapan memiliki urutan yang jelas dan makna yang kuat dalam kehidupan masyarakat Pariaman.
Maambiak Tanah Membuka Seluruh Rangkaian Tabuik
Panitia memulai seluruh agenda melalui prosesi Maambiak Tanah atau mengambil tanah pada 1 Muharram 1448 Hijriah yang bertepatan dengan 16 Juni 2026.
Kubu Tabuik Subarang menjalankan ritual di Jembatan Pauah. Pada waktu yang sama, Kubu Tabuik Pasa melaksanakan prosesi di kawasan Alai Gelombang.
Prosesi pembuka ini menjadi penanda dimulainya perjalanan panjang menuju puncak Hoyak Tabuik. Warga mulai berdatangan sejak pagi untuk menyaksikan tahapan awal tersebut.
Rangkaian kegiatan berlanjut pada 20 Juni 2026 melalui prosesi Manabang Batang Pisang.
Kedua kubu menjalankan ritual pada sore hari sebagai simbol penebusan pahlawan dalam tradisi Tabuik. Setelah menyelesaikan tahapan itu, mereka bergerak menuju Simpang Kampung Cino untuk mengikuti momen Basalisiah.
Pertemuan kedua kubu menjadi bagian penting dalam keseluruhan prosesi. Melalui momen ini, masyarakat menyaksikan semangat kebersamaan yang tetap terjaga di tengah perbedaan identitas adat.
Memasuki 22 Juni 2026, kedua kubu melanjutkan agenda dengan prosesi Turun Panja dan Maatam.
Masing-masing kubu menjalankan ritual di Rumah Tuo dan Daraga mereka. Tahapan ini menghadirkan suasana khidmat sekaligus memperkuat nilai spiritual dalam tradisi Tabuik.
Setelah itu, masyarakat mengikuti prosesi Maarak Jari-Jari dan Maarak Saroban yang berlangsung pada 22–23 Juni 2026.
Peserta mengarak simbol-simbol sejarah menyusuri jalanan kota hingga malam hari. Arak-arakan tersebut menciptakan suasana meriah dan memperlihatkan kekayaan budaya Pariaman kepada para pengunjung.
Tabuik Naiak Pangkek dan Dihoyak Menjadi Puncak Perayaan
Setelah menyelesaikan proses pembuatan sejak pertengahan Juni, kedua kubu memasuki tahapan akhir menuju puncak acara.
Pada Minggu (28/6/2026) menjelang subuh, mereka menjalankan prosesi Tabuik Naiak Pangkek sebagai simbol penyatuan dua struktur menara Tabuik.
Selanjutnya, kedua kubu bersama-sama mengarak dan mengguncang menara dalam ritual Tabuik Dihoyak menuju panggung utama di Pantai Gandoriah.
Prosesi tersebut selalu menarik perhatian masyarakat karena menghadirkan energi, kekompakan, dan semangat kolektif yang kuat.
Sebagai penutup, kedua kubu melarungkan Tabuik ke laut. Prosesi penutupan ini melambangkan pelepasan dan pembersihan diri sesuai makna yang hidup dalam tradisi.
Pemerintah Kota Pariaman, Gubernur Sumatera Barat, serta Menteri Pariwisata RI menjadwalkan kehadiran mereka untuk menyaksikan langsung puncak acara.
Pesona Budaya Hoyak Tabuik kembali menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat terus hidup, berkembang, dan menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.(ar)









