Kota Bukit Tinggi, seriusnews.id – Jam Gadang beton bertulang kembali menjadi sorotan setelah para ahli menegaskan bahwa ikon Kota Bukittinggi itu tidak menggunakan putih telur sebagai bahan perekat utama.
Peneliti dan akademisi membuktikan bahwa teknologi beton bertulang menopang kekuatan bangunan bersejarah tersebut.
Pernyataan ini muncul dalam Seminar Internasional bertajuk “Memperkuat Hubungan Diplomatik Indonesia–Belanda melalui Jembatan Persahabatan Bukittinggi–Amsterdam” yang berlangsung di Bung Hatta Convention Hall, Sabtu (20/6/2026).
Seminar Bahas Sejarah, Diplomasi, dan Identitas Daerah
Sejumlah tokoh nasional dan akademisi menghadiri seminar tersebut. Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, perwakilan Kementerian Luar Negeri, serta akademisi dari Universitas Andalas ikut memberikan pandangan.
Fadli Zon menegaskan bahwa masyarakat harus menjaga Jam Gadang sebagai simbol sejarah Minangkabau sekaligus bagian dari perjalanan kemerdekaan Indonesia. Ia juga menilai momentum satu abad ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor budaya dan pariwisata.
Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias kemudian mengajak pemerintah dan mitra internasional untuk memperluas kerja sama. Ia menawarkan program digitalisasi arsip sejarah, pertukaran pelajar, hingga forum kota bersejarah dunia.
Ahli Bongkar Mitos Putih Telur Jam Gadang
Direktur Keuangan PT Semen Padang, Iskandar Z. Lubis, menegaskan bahwa kekuatan Jam Gadang berasal dari rekayasa struktur, bukan cerita rakyat. Ia menjelaskan bahwa bangunan ini mampu bertahan di wilayah rawan gempa selama 100 tahun karena desain dan material yang berkualitas.
Iskandar juga mengacu pada penelitian The Construction and Structural Reliability of Jam Gadang karya Khadavi dan Yulcherlina (2018) dari Universitas Bung Hatta. Penelitian itu menemukan bahwa insinyur menggunakan sistem beton bertulang dalam konstruksi Jam Gadang.
Peneliti juga mencatat penggunaan tulangan baja pada kolom, balok, dan pelat lantai. Struktur tersebut menghasilkan kekuatan tekan beton minimal 25 megapascal (MPa), angka tinggi untuk bangunan tahun 1926.
Iskandar menghubungkan kekuatan struktur tersebut dengan sejarah industri semen di Sumatera Barat. Ia menyebut bahwa pabrik semen yang kini dikenal sebagai PT Semen Padang telah berdiri sejak 1910 melalui Pabrik Indarung I.
Ia menjelaskan bahwa keberadaan industri tersebut memungkinkan penggunaan teknologi beton modern pada era pembangunan Jam Gadang. Namun ia menegaskan bahwa penelusuran sejarah lebih lanjut tetap diperlukan untuk memperkuat bukti akademik.
Luruskan Mitos Big Ben dan Jam Gadang
Iskandar juga meluruskan anggapan publik yang menyamakan Jam Gadang dengan Big Ben di London. Ia menjelaskan bahwa produsen mesin Jam Gadang berasal dari Benhard Vortmann di Jerman, sedangkan Big Ben menggunakan mekanisme dari Dent & Co. Inggris.
Ia meminta publik menyampaikan sejarah berdasarkan data agar tidak terjadi kesalahpahaman. Para peserta seminar, termasuk perwakilan sektor pariwisata, menyambut penjelasan tersebut secara positif.
Seorang keturunan pembuat bata merah Jam Gadang turut membagikan kisah tentang proses produksi material pada masa lalu. Ia menjelaskan bahwa masyarakat menguji kekuatan bata secara tradisional sebelum digunakan dalam pembangunan.
Iskandar kemudian mendorong pengembangan wisata warisan industri di Sumatera Barat. Ia mengusulkan integrasi narasi sejarah antara tambang batu bara di Sawahlunto, industri semen Indarung, pelabuhan Teluk Bayur, dan Jam Gadang sebagai satu kesatuan sejarah peradaban.(ar)









