Sumatera Barat, seriusnews.id – Pacu Jawi Sumatera Barat terus hidup sebagai tradisi khas Minangkabau yang masyarakat jalankan secara turun-temurun.
Tradisi ini muncul dari kehidupan agraris warga dan selalu digelar menjelang musim tanam di berbagai daerah di Sumatera Barat.
Pacu Jawi Sumatera Barat berlangsung di sawah berlumpur yang menjadi lintasan utama. Kondisi ini membuat masyarakat dan wisatawan tertarik datang karena tradisi ini menawarkan atraksi budaya yang unik dan berbeda dari lomba sapi di daerah lain.
Tradisi Menjelang Musim Tanam
Masyarakat menggelar Pacu Jawi sebagai bagian dari persiapan musim tanam. Warga memanfaatkan momen ini untuk mempererat kebersamaan sekaligus menghidupkan tradisi yang sudah lama mereka jaga.
Peternak memilih sapi lokal yang mereka rawat secara khusus untuk mengikuti lomba. Mereka juga menjadikan sapi tersebut sebagai bagian dari aset ekonomi yang bernilai.
Panitia membagi Pacu Jawi ke dalam dua pola perlombaan. Di Kabupaten Tanah Datar, joki berdiri di atas bajak dan mengendalikan dua ekor sapi yang berlari di sawah berlumpur.
Di Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota, joki justru berlari sambil memegang satu ekor sapi yang bergerak cepat di lumpur. Kedua pola ini menuntut kekuatan fisik, keseimbangan, dan kontrol penuh dari joki.
Tantangan Besar di Tengah Lumpur
Joki harus menguasai sapi sekaligus menjaga keseimbangan di lintasan yang licin. Panitia langsung mendiskualifikasi peserta yang terjatuh sebelum mencapai garis finis.
Risiko cedera selalu muncul dalam perlombaan ini, namun para peserta tetap berpartisipasi karena mereka menganggap Pacu Jawi sebagai simbol keberanian dan identitas budaya.
“Tingkat kesulitannya itu kita sama-sama berlari sama sapi dan rawan cedera,” kata joki Rizki Aldo Putra di lokasi, Selasa (6/6/2026).
Pacu Jawi juga memberikan keuntungan ekonomi bagi peternak. Peternak yang sapi miliknya menang biasanya bisa menjual sapi dengan harga lebih tinggi di pasaran.
Panitia Pacu Jawi, Zulfajri, menjelaskan bahwa masyarakat menggelar tradisi ini untuk menyambut musim tanam sekaligus mendorong semangat peternak.
“Ini sudah tradisi di Payakumbuh. Kami menggelar Pacu Jawi sebelum turun ke sawah untuk menyemangati peternak dan menaikkan harga ternak,” ujar Zulfajri.
Masyarakat Sumatera Barat terus menjaga Pacu Jawi sebagai bagian dari warisan budaya Minangkabau. Mereka juga membuka tradisi ini sebagai atraksi wisata yang menarik minat pengunjung dari berbagai daerah.
Pacu Jawi Sumatera Barat memperlihatkan bagaimana tradisi lokal tetap relevan dan berkembang. Masyarakat tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menggerakkannya sebagai bagian dari identitas dan ekonomi daerah.(ar)









