Jakarta, jentik.id – Kebiasaan orang tua yang sering membandingkan anak dengan saudara kandung dapat meninggalkan dampak jangka panjang. Pengalaman masa kecil ini membentuk karakter seseorang hingga dewasa.
Psikolog menilai pola asuh seperti ini memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri, merespons orang lain, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Lebih Kompetitif
Anak yang sering dibandingkan biasanya tumbuh dengan dorongan kuat untuk membuktikan diri. Mereka mengejar pencapaian sebagai bentuk persaingan, bukan sekadar perkembangan diri.
Namun, kondisi ini dapat mendorong kesuksesan. Di sisi lain, hal ini juga bisa memicu stres dan membuat seseorang sulit menghargai keberhasilan orang lain.
2. Perfeksionis
Tuntutan untuk selalu “lebih baik” membuat sebagian anak tumbuh dengan standar tinggi terhadap diri sendiri. Mereka merasa harus sempurna agar mendapatkan pengakuan.
Akibatnya, mereka menjadi lebih takut gagal. Selain itu, mereka juga sering mengaitkan harga diri dengan pencapaian.
3. Terlalu Penurut
Sebagian anak belajar menyesuaikan diri demi mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Kebiasaan ini kemudian terbawa hingga dewasa.
Karena itu, saat dewasa mereka sering kesulitan menolak permintaan orang lain. Selain itu, mereka juga cenderung menghindari konflik.
4. Empati Lebih Tinggi
Di sisi lain, pengalaman sering dibandingkan justru membentuk kepekaan terhadap perasaan orang lain. Mereka menjadi lebih mudah memahami tekanan dan ketidakamanan orang di sekitarnya.
Dengan demikian, pengalaman ini juga dapat memperkuat kemampuan berempati dalam kehidupan sosial.
5. Rasa Tidak Aman
Perbandingan yang terus-menerus menurunkan rasa percaya diri. Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa pencapaiannya tidak pernah cukup.
Akibatnya, kondisi ini bisa berkembang menjadi imposter syndrome, yaitu perasaan tidak pantas atas keberhasilan yang sudah diraih.
6. Menghindari Risiko
Tekanan dan kritik di masa kecil membuat sebagian orang lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Mereka takut gagal atau tidak memenuhi standar yang ditetapkan.
Oleh karena itu, mereka cenderung menghindari situasi berisiko dalam kehidupan sehari-hari.
7. Sangat Sensitif
Pengalaman sering dibandingkan membuat sebagian orang lebih sensitif terhadap kritik. Mereka mudah tersinggung dan menganggap umpan balik sebagai serangan pribadi.
Dengan demikian, mereka sering bereaksi lebih emosional terhadap kritik, meski maksudnya membangun.
Psikolog menegaskan bahwa kebiasaan membandingkan anak dapat membentuk pola pikir hingga dewasa. Dampaknya beragam. Di satu sisi, muncul empati yang lebih tinggi. Namun di sisi lain, bisa muncul rasa tidak aman, perfeksionisme, dan sensitivitas berlebih. (nr*)









