Jakarta, seriusnews.id – Kondisi harga Pertamax naik menjadi momentum bagi masyarakat kelas menengah untuk menata ulang kebiasaan belanja dan menyesuaikan gaya hidup dengan kondisi ekonomi saat ini.
Pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul) Kalimantan Timur, Khairil Anwar, menilai konsumen utama Pertamax perlu mulai menekan pengeluaran yang hanya berorientasi pada gaya hidup.
Khairil menyampaikan pandangan tersebut di Samarinda, Jumat. Ia menilai kelompok kelas menengah ke atas memiliki kemampuan lebih besar untuk mengatur ulang pola konsumsi dibanding kelompok lain.
Menurut Khairil, perubahan perilaku konsumsi menjadi langkah yang relevan ketika biaya energi meningkat. Ia mendorong masyarakat agar lebih fokus pada kebutuhan utama dan mengurangi belanja yang tidak mendesak.
Pemerintah Dinilai Memiliki Pilihan Terbatas
Khairil menjelaskan pemerintah menghadapi ruang fiskal yang terbatas dalam menentukan kebijakan energi. Ia juga menyoroti posisi Indonesia yang tidak lagi menjadi negara eksportir minyak.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat pemerintah harus mengambil keputusan yang menyesuaikan kemampuan anggaran negara. Karena itu, masyarakat perlu melihat kebijakan harga energi secara lebih luas.
Khairil menekankan bahwa perubahan harga BBM tidak hanya bergantung pada faktor domestik. Berbagai kondisi ekonomi ikut memengaruhi arah kebijakan pemerintah.
Khairil melihat masyarakat dan pelaku usaha saat ini memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi tekanan ekonomi. Pengalaman menghadapi berbagai periode sulit membentuk kemampuan adaptasi yang lebih kuat.
Meski harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, ia menilai masyarakat tidak menunjukkan respons berlebihan.
Menurut Khairil, pengalaman menghadapi tekanan ekonomi pada 2008, 2015, dan masa pandemi COVID-19 memberi pelajaran penting bagi dunia usaha dan konsumen.
Para pelaku usaha kini memahami cara menjaga nilai perusahaan saat kondisi ekonomi berubah. Konsumen juga mulai memperhitungkan pengeluaran dengan lebih cermat.
Khairil menilai konsumen kelas menengah semestinya sudah mulai melakukan antisipasi sejak beberapa bulan terakhir. Salah satu langkah yang ia sarankan yaitu memilih kendaraan yang lebih hemat bahan bakar.
Selain itu, ia mendorong masyarakat menerapkan gaya hidup hemat atau frugal living. Langkah tersebut membantu rumah tangga menjaga kestabilan pengeluaran.
Khairil menegaskan bahwa hidup hemat bukan berarti mengurangi kualitas hidup. Masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas dengan pengelolaan keuangan yang lebih disiplin.
Dampak Kenaikan Pertamax Dinilai Lebih Terbatas
Khairil menjelaskan kenaikan harga Pertamax lebih banyak memengaruhi mobilitas pribadi. Mayoritas pengguna Pertamax berasal dari kendaraan individu.
Ia membandingkan kondisi itu dengan kenaikan harga solar yang memberi pengaruh langsung terhadap sektor logistik nasional.
Menurut dia, kenaikan solar biasanya mendorong biaya distribusi dan memicu kenaikan harga barang di berbagai sektor. Sementara itu, kenaikan Pertamax lebih banyak memengaruhi pengeluaran rumah tangga pengguna kendaraan pribadi.
Sebagai langkah lanjutan, Khairil meminta pemerintah segera menyalurkan bantalan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat.
Ia juga mendorong pemerintah memperluas edukasi teknis bersama bengkel yang kompeten agar masyarakat memahami cara mengurangi biaya operasional kendaraan.
Menurut Khairil, langkah efisiensi kendaraan dapat membantu masyarakat menyesuaikan pengeluaran tanpa mengurangi mobilitas sehari-hari.(ar)









